Seperti yang di katakan Jeno, bahwa mereka akan pergi ke Los Angles untuk mengadakan meeting.
Saat ini, Jeno dan Renjun tengah berada di dalam pesawat menuju Los Angles.
Jeno memesan tiket vvip, agar tidak mengganggu aktivitas kerja-nya.
Di sepanjang jalan menuju Los Angles, Jeno tiada henti-nya bekerja. Dia benar-benar sibuk dan berkutat dengan pekerjaan-nya.
Namun tak jarang Jeno melihat ke arah Renjun yang tengah memainkan ponsel-nya dengan asyik atau hanya melihat ke arah jendela pesawat.
"Kau ingin hot choco?" Tanya Jeno, membuat Renjun mengalihkan pandangan-nya.
Renjun menoleh, dia dapat melihat wajah Jeno dan iris hitam milik Jeno yang tengah menatap miliknya.
Renjun menganggukkan kepala-nya. "Aku ingin." Seru Renjun, membalas ucapan Jeno.
Toh Jeno sendiri yang menawarkan minuman untuk dirinya. Jadi tidak masalah kalau dia mengatakan ingin kepada Jeno.
Jeno pun mulai memesan satu cangkit hot choco dan juga ice choco untuk dirinya minum.
"Aku sudah memesankan ikan asam manis untuk-mu." Seru Jeno.
Renjun yang tengah sibuk dengan tablet-nya pun menoleh. "Benarkah? Terima kasih." Seru Renjun, di iringi dengan senyuman.
Setelah mendengar kalimat terima kasih dari Renjun, Jeno segera meneruskan pekerjaan-nya kembali.
Renjun sebenarnya ingin sekali melarang Jeno yang terus-terusan bekerja.
Dari awal masuk pesawat, sampai di pertengahan jalan menuju Los Angles, Jeno terus sibuk dengan berkasnya.
Renjun tau kalau seorang pekerja keras itu sangat bagus. Namun tidak seperti ini juga.
Namun Renjun hanya diam, dan hanya bisa memperhatikan Jeno dalam diam. Mungkin sedari tadi Jeno tidak sadar kalau dirinya sering kali mencuri pandang untuk melihat Jeno.
Beberapa menit pun makanan dan minuman yang Jeno pesan pun datang.
"Terima kasih." Ucap Renjun kepada sang pramugari yang telah membawakan makanan dan minuman ke meja-nya.
Sebelum makan, Renjun lihat ke arah Jeno dulu, apakah dia mesan makan, atau tidak? Dan ternyata tidak ada makanan di atas meja. Hanya segelas ice choco di atas meja Jeno.
"Tuan Lee tidak memesan makanan?" Tanya Renjun.
"Aku tidak lapar. Kau makan saja dahulu. Ada pekerjaan yang harus aku urus." Ujar Jeno tanpa mengalihkan pandangannya.
Renjun meringis ketika melihat kerja Jeno yang sangat gila. "Tuan Lee sebaiknya anda makan. Sedari tadi anda belum mengisi perut anda." Peringat Renjun.
Yup, dari pagi sebelum berangkat, Jeno tidak mengisi apapun untuk perut-nya. Tentu saja hal itu membuat Renjun khawatir. Ia tidak mau Jeno jatuh sakit karena tidak makan, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan-nya.
"Aku tidak makan. Kau saja yang makan. Aku tidak lapar." Ujar Jeno.
Renjun terdiam. Ia pun menjauhkan makanan-nya juga. Masa iya dirinya makan dengan hikmat, sedangkan Jeno yang membiayai semua akomodasi untuk-nya malah tidak makan? Tidak sopan sekali anda Nona Renjun!
Suara pindahan piring pun sukses mengalihkan perhatian Jeno, dari yang sibuk dengan berkasnya, jadi mengalihkan pandangan-nya menatap Renjun.
"Kau tidak jadi makan?" Tanya Jeno.
Renjun menggelengkan kepalanya.
Jeno mengerutkan dahinya heran. Kenapa bisa Renjun tidak jadi makan, padahal ikan asam manis adalah makanan kesukaan Renjun. Apakah ikan-nya tidak enak? Tapi jika Jeno lihat dari piring Renjun, piring Renjun masih sama, seakan tidak ada sentuhan dari Renjun. Tidak ada yang berubah dari piring Renjun.
"Kenapa tidak jadi makan? Apakah makanan-nya tidak enak? Kau ingin ganti dengan apa?" Tanya Jeno, menawarkan makanan untuk Renjun, supaya Renjun makan.
Renjun menggelengkan kepalanya. "Terima kasih telah menawarkan aku makanan, tapi tidak usah. Aku tidak lapar." Seru Renjun.
Bohong jika dirinya tidak lapar! Sedari tadi ia menahan laparnya. Namun ia urungkan ketika melihat Jeno yang tidak makan.
"Kau tidak bisa berbohong kepada-ku Nona Huang. Katakan padaku apa yang kau inginkan?" Tanya Jeno.
Renjun meringis. "Aish, tidak usah! Aku tidak akan makan sebelum kau makan!" Rutuk Renjun kesal.
Seperti biasa, batas kesabaran Renjun itu sangat tipis. Ia pasti akan meledak kalau terus di sudutkan dan terus di paksa.
"Kau menunggu-ku makan?" Tanya Jeno yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Renjun.
"Tentu saja." Sahut Renjun.
"Kenapa? Kenapa kau harus menunggu-ku makan?" Tanya Jeno.
"Aish! Coba kau pikirkan! Apakah sopan jika seseorang makan, di saat yang lain tidak makan?!" Jawab Renjun.
Jeno mati-matian menahan senyuman-nya begitu melihat Renjun yang tengah kesal.
"Makan-lah. Aku tidak keberatan akan hal itu." Seru Jeno.
"Aku tidak akan makan sebelum kau makan! Bukan-kah sudah aku katakan Tuan Lee? Jadi, kalau kau mau aku makan, makanan yang kau beri? Kau harus makan lebih dulu!" Balas Renjun, menyilangkan kedua tangan-nya.
"Baik-lah aku akan makan." Seru Jeno, menyudahi keras kepala Renjun.
Renjun yang mendengar itu pun langsung menolehkan wajahnya, menatap Jeno dengan sumringah. "Benarkah?" Tanya Renjun memastikan.
"Heum. Jadi, makan-lah." Seru Jeno.
"Pesan dulu makanan-mu!" Balas Renjun yang langsung memanggil pramugari tadi.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang pramugari dengan sopan.
"Bisakah kau antarkan makanan seperti ini ke kursi sebelah? Terima kasih." Seru Renjun.
Sang pramugari pun langsung mengambil permintaan Renjun dan memberikan-nya kepada Jeno.
"Makan-lah. Aku akan makan, setelah melihat-mu makan beberapa suap." Pinta Renjun.
Jeno menatap Renjun dan makanan yang ada di hadapan-nya secara bergantian. Perlahan tangan Jeno mengambil sendok, dan meyuapkan makanan yang ia ambil, ke dalam mulutnya.
Renjun tersenyum senang begitu melihat Jeno makan. Setelah Jeno memasukkan 5 suapan ke dalam mulutnya, baru-lah Renjun ikut makan bersama dengan Jeno.
***
Setelah 17 jam melakukan perjalanan dari Jakarta ke Los Angles, mereka pun sampai di bandara Internasional Los Angles.
Sampai di bandara, mereka langsung menuju ke tempat yang telah di tentukan, untuk melakukan meeting.
Mereka tidak sempat untuk beristirahat ke hotel terlebih dahulu, karena waktunya yang sangat mepet.
Jadi, mau tidak mau mereka langsung pergi ke tempat meeting, begitu mereka sampai.
Untung saja tadi Renjun telah mempelajari beberapa materi penting untuk meeting yang akan di selenggarakan nanti, ketika dirinya ada di rumah, dan pesawat tadi.
Setelah sampai di tempat meeting, mereka langsung di arahkan menuju ruangan.
Di dalam sana-lah mereka mulai meeting bersama.
Jeno mulai menjelaskan tentang proposal yang telah di buat, agar klien mau melakukan kerjasama dengan perusahaan-nya.
Renjun juga tak kalah sibuk-nya dengan Jeno. Ia menulis isi dari meeting penting ini, untuk Jeno dan dirinya pelajari nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOT SEVEN DAY - NOREN
FanfictionCERITA INI KHUSUS NOREN (JENO X RENJUN) SHIPPER! APABILA KALIAN TIDAK SUKA DENGAN SHIPPER YANG BERSANGKUTAN? DIMOHON UNTUK TIDAK BERKOMENTAR NEGATIF DI KOLOM KOMENTAR! ATAUPUN DI KEHIDUPAN PRIBADI LEE JENO DAN HUANG RENJUN!
