Chapter 5 : Peppermint, not a bad idea

29 10 1
                                        

"SUMINNNNN!"

Sumin yang sedang berjalan, menoleh ke belakang mendapati Jungmo yang sedang berlari.

"Duh, mampus gue."

"Dari mini market depan ya? Tahu gitu barengan aja tadi."

"Lo tadi ke sana? Kok gue nggak lihat ya?"

Jungmo tertawa, "Tadi gue masuk papasan banget sama lo keluar. Tadinya gue mau nyapa, tapi lo sibuk banget lihat struk belanjaan."

"Sorry, sorry. Kebiasaan gue kalau habis belanja. Lo mau balik ke asrama?" Tanya Sumin dan diangguki oleh Jungmo.

Mereka memutuskan untuk berjalan berdampingan sambil berbicara banyak hal, mulai dari persiapan ujian, universitas, dan masih banyak lagi.

"Lo belanja apa? Kelihatannya banyak banget."

"Gue beli stok makanan sama pembalut," jawab perempuan itu, tetapi pada akhir kalimatnya ia kecilkan suaranya.

Jungmo menautkan alisnya, "Hm? Sama beli apa? Tadi nggak kedengeran."

"Anu... Beli minuman. Belakangan ini kan panas banget ya?" Sumin mengipas-ngipaskan tangannya.

😺🐰

Tok tok tok

"Duh, siapa sih malem-malem begini? Jangan-jangan guru," gumam Sumin dan melangkahkan kakinya pada pintu kamarnya. Sieun lagi keluar tapi dia nggak mungkin ngetuk pintu kan?

"Malam, kak."

"Malam juga. Kenapa ya?"

"Ini, tadi ada titipan dari kakak kelas di seberang buat kak Sumin katanya," adik kelas itu memberi sebuah paper bag kepada Sumin. "Kalau gitu mari, kak."

"Iya, makasih ya!" Sumin menutup pintu kamarnya dan menatap paper bag itu dengan tatapan kosong. "Kakak kelas di seberang?"

Dia mengeluarkan barang di dalamnya. Sebuah kotak teh rasa peppermint muncul. Tapi bukan itu permasalahnnya, Sumin malah penasaran sama isi note dari pemberinya.

Ini buat lo. Kayaknya lo lagi sakit perut karena halangan ya? Sorry, kalau gue salah -Jungmo

The Redamancy Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang