"Seriusan?"
"Beneran. Dia apes banget hari ini, udah nubruk anak kecil, kecebur got, kejeduk tembok. Gue kasihan sih, tapi gue sahabatnya. Sahabat kan menertawakan dulu baru bantuin."
"Jangan nyebar aib gue, bangsat Koo Jungmo! Min, jangan disebarluaskan ya. Terima kasih."
"AHAHAHAHAHAHA!"
Suara tawa Sumin menggelegar dari handphone Jungmo. Dirinya dengan Sumin sedang bertelepon. Udah jam sebelas malam, tapi mereka masih ngobrol. Teman sekamarnya, alias Sieun dan Woobin pun masih segar matanya.
"Aman sama gue, Bin. Nggak aman sama Sieun tapi. Dia masih melek."
"WOOBIN GUE KASIH TAHU LAMBE TURAH SEKOLAH TITIK!"
"ANJING, SIEUN!"
Terserah teman sekamarnya Sumin dan Jungmo, deh.
"Min, nggak bobo? Udah malem."
"Belum ngantuk, Mo. Besok libur juga, rencananya begadang."
Jungmo hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Jangan keseringan begadang. Nanti nggak tinggi-tinggi."
"Biarin, pendek gini juga nggak apa-apa."
"Lo masih pengen ngobrol sama gue ya?"
Sumin gugup jelas. Emang Jungmo peka banget ya? Atau dia nyari alasan yang klasik?
"Halo? Sumin? Kok diem?"
"Nggak, kok. Kayaknya lo yang masih mau ngobrol bareng gue," jawab Sumin. Biar nggak ketahuan.
Jungmo mengangguk, padahal udah jelas nggak bisa dilihat sama Sumin.
"Psst, Min. Mute dulu coba teleponnya. Gue mau nanya sesuatu tentang lo sama Jungmo," Sieun naik ke atas kasur Sumin.
Sumin mematikan micnya setelah izin pada Jungmo. "Kenapa?"
"Lo mau nembak Jungmo? Kapan?"
Benar juga, Sumin udah lama ngomong itu tapi nggak dilakuin terus.
"Lusa. Doain ya, Eun?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Redamancy
Short StoryJUNGMO | SUMIN [Jungmo's birthday present] Repotin gue sekali aja biar lo tahu kalau gue emang suka sama lo
