Bab 3 - Bertemu di Polres

83K 7.4K 105
                                        

Bab 3 - Bertemu di Polres

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bab 3 - Bertemu di Polres

"Kenangan nyebelin yang nggak pengin gue inget lagi," gerutu Naila.

Gara-gara kejadian di masa itulah, Naila tak berani lagi menyetir motor, dia takut benar-benar menabrak tukang bakso dan berakhir terkena kuah panasnya atau dimarahi lagi seperti yang Pras lakukan dulu.

Usai melamun cukup lama, Naila jadi kembali mengantuk. Saat dia hendak memejamkan mata, dia baru ingat gorden kamarnya belum ditutup lagi.

Naila beranjak berdiri lantas menutup gorden itu. Sejenak, dia mengamati rumah Pras yang sepi, mungkin Pras sudah kembali tidur di lantai dua.

Sempat merasa kebingungan tentang sosok Pras, tapi Naila memutuskan untuk tidur lebih dulu. Soal Pras bisa dia pikir lagi besok.

***

Pagi ini Naila sudah siap untuk berangkat ke kampus seperti biasa. Dia ada kelas sekitar jam setengah delapan, jadi mau tidak mau harus bangun pagi.

Naila sarapan dengan ogah-ogahan, karena dia masih sangat mengantuk. Gara-gara tadi malam terbangun, dia jadi kurang tidur. Rasanya belum puas, masih ingin tidur lagi.

Dimas melirik sang adik yang sarapan sambil melamun.

"Nai, kenapa lo?" tanya Dimas.

"Hah?"

Naila mendongak, menatap sang kakak. Tiba-tiba dia malah jadi teringat tentang Pras. Sebenarnya Pras itu tukang bakso atau polisi? Apa mungkin dulunya tukang bakso dan sekarang menjadi polisi karena mendaftar lantas diterima?

Mungkin Dimas tahu sesuatu, tapi ... kalau dia bertanya, pasti akan diledek oleh Dimas.

"Jangan ngelamun, masih pagi."

"Hm."

Naila hanya bergumam singkat.

Dimas terus memperhatikan sang adik yang tampak lesu. Apa mungkin terjadi sesuatu di kampus? Mendadak, Dimas jadi khawatir.

Dimas teringat Naila saat masih SMA, pernah dibully dan tak punya teman. Dampaknya cukup parah sampai Naila takut untuk kuliah, akhirnya menunda kuliah setahun dan baru masuk tahun berikutnya di usia sembilan belas tahun.

Di masa itu, Dimas sering mengajak Naila bercanda dan terus mensupport sang adik. Termasuk Dimas juga mengajak Naila ke salon, mengubah penampilan, belajar fashion, dan berdandan dengan cantik. Setelah itu, dia mengenalkan Naila dengan teman-temannya, dan mayoritas dari mereka mengatakan bahwa Naila cantik.

Sejak mendapatkan banyak pujian, kepercayaan diri Naila jadi kembali dan akhirnya mau berkuliah.

Naila mulai termotivasi untuk belajar memperbaiki penampilan dan berujung menyukai barang-barang mahal pula, fashion, makeup, dan sebagainya. Ternyata usahanya berhasil, ketika dia masuk kuliah, banyak yang meliriknya, bahkan di semester satu sudah ada yang mengajaknya pacaran, namun Naila tolak.

Stuck with You (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang