"Dasar polisi playboy kampr*t!" Itulah kalimat yang menurut Naila cocok untuk tetangga barunya, seorang polisi yang bernama Prasetya.
Berawal dari gerobak bakso yang nyaris ditabrak saat Pras sedang melakukan penyamaran 2 tahun lalu, pria itu berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab 24 - Obrolan Serius
Obrolan terus berlanjut. Masih topik tentang mantan, kini giliran Pras.
"Kalau kamu gimana? Berapa mantanmu dan pernah ngapain aja?"
Pras berusaha tenang ketika bertanya begitu, meskipun rasanya dia sangat kesal membayangkan Naila mesra-mesraan dengan cowok lain.
"Nggak ada."
Pras terlihat kaget.
"Kenapa? Mas nggak percaya?"
"Enggak. Karena kamu cantik, pintar, menarik. Nggak mungkin nggak ada cowok yang nggak tertarik sama kamu."
"Nyatanya emang nggak ada kok. Saya kan udah pernah cerita kalau dulu pas masa SMA penampilannya nerd dan saya pendiam banget, nggak percaya diri, nggak punya temen. Mana ada cowok yang mau deketin saya apalagi suka sama saya sampai ngajak pacaran. Kalau pas masih SMP, baru awal puber jadi belum ada juga, dan pas SD masih bocil jadi nggak ada."
Pras tiba-tiba merasa sedih membayangkan Naila yang tak punya teman saat masa SMA.
"Tapi sekarang kamu punya teman kan? Yang namanya Dilla."
Naila tersenyum. "Iya. Saya yakin dia bisa jadi temen yang tulus. Dia baik, malah kelewat baik sampai bisa dimanfaatin. Tapi, ya ... temen saya nggak banyak, baru satu."
"Nggak apa-apa, jangan khawatir nggak punya banyak teman. Sejak jaman SMA sampai sekarang, saya cuma punya satu teman dekat yang setia."
"Mas Deon?" tebak Naila.
"Hm."
"Tapi kan Mas Deon satu tahun lebih muda dari Mas Pras, berarti adik kelas Mas semasa SMA dong? Kalau gitu, Mas Pras nggak punya temen juga kayak saya pas masih SMA? Yang seangkatan."
Pras mengangkat bahu, tampak tak peduli.
"Ya. Tapi itu nggak masalah buat saya." Pras menatap mata Naila. "Balik ke topik tadi. Kesimpulannya, saya pacar pertamamu?"
Naila mengangguk mengiakan. Dia bisa melihat senyum Pras merekah. Cih, dasar! Senang sekali ya?
Naila hendak mencomot martabak untuk kesekian kalinya, sejak tadi dia mengobrol dengan Pras sambil makan itu. Namun, ternyata sudah habis. Padahal Pras membeli dua kotak, rasa red velvet dan martabak telur.
Pras mengamati Naila. "Kamu mau lagi? Saya bisa beli lagi sekarang," ujarnya lalu hendak berdiri.
"Nggak usah. Saya udah makan terlalu banyak."
Naila menahan tangan Pras, menarik Pras agar duduk lagi di sebelahnya.
"Kita lanjut ngobrol aja."
"Oke." Pras mengangguk patuh. "Ada lagi yang mau kamu tanya?"
Naila diam sejenak, berpikir hingga dia teringat sesuatu yang penting.
"Tentang orang yang nyulik saya, motifnya apa? Saya pengin tahu kejelasannya," tegas Nalia.