"Dasar polisi playboy kampr*t!" Itulah kalimat yang menurut Naila cocok untuk tetangga barunya, seorang polisi yang bernama Prasetya.
Berawal dari gerobak bakso yang nyaris ditabrak saat Pras sedang melakukan penyamaran 2 tahun lalu, pria itu berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab 25 - Murdered & Nightmare!
"Kita harus pindah hari ini," ujar seorang pria berseragam polisi kepada kedua anak dan istrinya.
"Lagi? Ini udah keempat kalinya," keluh sang istri dengan raut lelah.
"Demi keselamatan kita dan anak-anak," ujar sang suami, kemudian beralih menatap anak perempuan dan anak lelakinya yang diam dengan raut bingung. "Pras, Tania, kalian kemas baju sendiri ya? Bisa kan?"
Pras dan Tania yang sudah terbiasa pun mengangguk patuh. Kedua anak yang masih berseragam putih merah itu berlari menuju kamar mereka lalu mengemas baju ke dalam koper seperti sebelum-sebelumnya.
Usai mengemas keperluan masing-masing, keluarga itu bergegas memasuki mobil. Sang Ayah menyetir dengan raut gelisah, sedangkan dua anaknya di belakang tampak bercanda ria sambil tertawa. Melihat raut bahagia di wajah kedua anaknya membuat pria itu mengulas senyum.
"Apa ada tanda-tanda lagi?" tanya sang istri.
Senyum di wajah sang suami luntur seketika.
"Ya."
"Sampai kapan kita harus terus pindah rumah?"
"Sampai mereka ketangkap."
"Kalau gitu, kenapa nggak bergegas ditangkap?"
Helaan napas keluar dari mulut sang suami. "Nggak semudah itu, mereka gembong narkoba yang berbahaya." Terdiam selama beberapa detik, dia kemudian kembali berujar, "Maaf, semua ini salahku, keluarga kita jadi kena imbasnya."
Sang istri terdiam, memilih untuk menatap ke belakang, lebih tepatnya ke arah kedua anaknya yang kini sudah tertidur dengan kepala saling bersandar. Yang terpenting, Pras dan Tania baik-baik aja.
Mobil berhenti di sebuah rumah kecil yang terletak di desa. Tidak banyak rumah di sana dan jarak antara rumah yang satu dengan yang lainnya cukup jauh. Hari yang telah beranjak malam membuat suasana yang biasanya sepi di pedesaan tersebut menjadi semakin sepi diiringi oleh gelapnya malam. Hanya terdengar suara jangkrik dan kodok di sawah terdekat.
"Pras, Tania, ayo bangun," ujar sang Ibu dengan lembut sambil mengelus pipi kedua anaknya.
Pras kecil mengerjapkan matanya lalu melirik ke arah Tania.
"Kak, bangun," kata Pras dengan suara lucu khas anak-anak.
Tania yang mendengar suara Pras berangsur membuka kedua matanya. Dia mengulas senyum ke arah sang adik lalu keluar dari mobil sambil menggandeng tangan Pras.
"Rumahnya ... serem," cicit Pras kecil saat memasuki rumah barunya yang hanya diterangi lampu bohlam, bangunannya belum dicat, dan bagian atasnya langsung beratapkan genteng, tidak ada langit-langit ruangan di sana.