Bab 19 - Mimpi Buruk Berakhir Panas

67.1K 5.4K 83
                                        

Happy reading! Don't forget to vote and comment😍✨

Warning! Bab ini mengandung konten dewasa, please be wise!

***

Naila memakan potongan apel yang dikupaskan oleh Dilla. Temannya itu mengunjunginya dan membawa buah-buahan. Namun, Naila makan dengan canggung.

Sesekali Naila melirik ke arah Dilla dan pria di sebelahnya. Dia malu karena sejak tadi Pras belum mau melepas tangannya, sekarang masih memegang erat tangannya yang tak diinfus. Pras juga belum mengalihkan pandangan darinya, masih terus menatapnya lekat.

Sungguh, Naila berdebar-debar mengingat kalimat Pras beberapa saat yang lalu. Pras menyukainya, ingin mengajaknya pacaran bahkan menikah, dan menjadi gila karenanya?! Oh, astaga!

"Saya belum kenalan sama kamu, ya? Saya Deon, teman Pras sekaligus rekan kerjanya. Saya yang menemukan kamu," jelas Deon.

Naila mengangguk-angguk sambil mengamati Deon. Pantas saja sejak tadi dia perhatikan Deon wajahnya tampak tak asing. Sekarang dia ingat samar-samar wajah orang yang memanggil namanya tepat sebelum dia pingsan.

"Terima kasih bantuannya ... Mas Deon," ucap Naila.

Pras mendelik, menatap Naila dan tampak tak terima mendengar panggilan yang Naila sematkan kepada Deon.

"Saya cuma satu tahun lebih tua dari Deon, kamu panggil dia 'mas' dan saya kamu panggil 'om'? Itu namanya nggak adil, Naila," kesal Pras.

Deon malah tertawa. "Pasti karena muka gue kelihatan jauh lebih muda dari lo, Pras. Iya kan, Dek Naila?"

"Ya, betul banget, Mas," angguk Naila, meledek Pras.

Naila dan Deon semakin menjadi-jadi dalam meledek Pras, tapi untungnya Pras tak terlihat marah, hanya kesal yang mungkin tidak sepenuhnya.

Mereka berlanjut mengobrol bersama termasuk dengan Dilla, saling berkenalan. Barulah Naila ketahui kalau Dilla ternyata sempat ke rumahnya dan menunggu di sana lalu dijemput oleh Deon saat dia sudah ditemukan dan diantar ke rumah sakit oleh Deon.

***

Naila sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, untung saja setelah diperiksa lukanya tak parah. Dia diantar oleh Pras. Namun, dia mengernyit bingung ketika mobil yang dikemudikan oleh Pras memasuki pekarangan rumah Pras, bukan berhenti dulu di depan rumahnya. Dan dia semakin bingung saat melihat Pras membukakan pintu mobil lalu memintanya turun, kemudian menuntunnya untuk memasuki rumah Pras.

"Kenapa Om bawa saya ke sini?" tanya Naila ketika Pras hendak menyuruhnya duduk di sofa.

"Bisa kamu tidur di sini malam ini? Saya nggak mau kamu kenapa-napa lagi," pinta Pras dengan sorot lembut.

Naila langsung terbelalak.

"Bisa-bisanya Om ngajak saya ... tidur di rumah Om?!"

"Ini murni karena saya khawatir, bukan dengan maksud lain."

Naila membuka mulut, hendak kembali menolak, tapi dia urung melakukannya ketika melihat raut wajah Pras. Memang terlihat seperti benar-benar mengkhawatirkannya. Sejak dia baru sadar sampai sekarang, raut khawatir terus terpampang di wajah Pras.

Naila jadi tak tega. Maka, akhirnya dia mengangguk.

"Tapi Om jangan macam-macam. Dan saya cuma numpang tidur di sini, di kamar terpisah."

"Ya, pasti saya kasih kamar terpisah."

Barulah Pras tersenyum.

Senyum yang menunjukkan kelegaan dan membuat Naila yang melihatnya berdebar-debar tanpa sadar.

Stuck with You (TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang