"Dasar polisi playboy kampr*t!" Itulah kalimat yang menurut Naila cocok untuk tetangga barunya, seorang polisi yang bernama Prasetya.
Berawal dari gerobak bakso yang nyaris ditabrak saat Pras sedang melakukan penyamaran 2 tahun lalu, pria itu berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab 23 - Pengakuan Pras
Naila belum bicara lagi dengan Pras sejak insiden yang membuatnya malu. Pertama, dia malu karena Dimas. Kedua, dia malu, lebih tepatnya tak tahu harus bagaimana dalam menatap Pras karena teringat ciuman panas mereka saat di basement.
Saat ini Naila masih berada di rumah Pras. Dikarenakan Dimas dan orang tua Naila belum kembali ke rumah, Pras menyuruh Naila tinggal lebih lama di rumahnya dengan alasan keamanan. Entahlah, ini bisa dibilang aman atau justru dia masuk ke kandang buaya sejenis Pras.
Ini hari libur. Sejak tadi pagi Naila sibuk mengerjakan tugas kuliah, sedangkan Pras pergi entah ke mana katanya ada urusan kerjaan. Bahkan bekerja di hari libur? Naila heran.
Namun, malam ini, tugas kuliah Naila sudah selesai semua, dan Pras sudah kembali. Mereka sedang duduk bersama di sofa sambil menatap layar televisi dan memakan martabak yang Pras beli di luar. Rasanya canggung karena tak ada obrolan, Naila juga merasa tak fokus dalam menonton televisi karena ada Pras di sebelahnya.
Di saat mereka masih saling diam, suara bel rumah Pras berbunyi. Naila dan Pras sontak saling pandang.
"Siapa yang dateng malam-malam begini, Mas?" heran Naila.
"Nggak tahu."
Naila refleks bangkit dari duduk lalu melangkah menuju ruang tamu. Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan pakaian ketat plus kurang bahan. Lebih tepatnya itu adalah wanita yang pernah memanjat rumah Pras.
"Mbak yang manjat?"
"Loh, si anak SMA?"
Naila dan wanita itu berujar bersamaan. Ketika tersadar, keduanya sama-sama berdehem dan membuang muka sejenak sebelum kembali saling tatap.
"Ada keperluan apa ke sini?" tanya Naila sambil melipat tangan di depan dada.
Membayangkan kalau wanita di depannya pernah mempunyai hubungan dengan Pras membuat dadanya bergemuruh. Entah mengapa Naila merasa seperti ini.
Wanita itu mengibaskan rambut panjangnya seperti sedang syuting iklan shampoo.
"Saya mau ketemu Pras. Dia ada di dalam kan? Kalau gitu saya mas-"
"Eh, nggak bisa masuk gitu aja dong!" cegat Naila saat melihat wanita di depannya hendak menerobos masuk.
"Loh, emang kenapa? Kamu bukan pemilik rumahnya kan?"
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Naila merasa tertantang.
"Saya emang bukan pemilik rumahnya, tapi segera bakal jadi calon istri si pemilik rumah."
"APA?!"
"Kenapa? Omongan saya masih kurang jelas? Calon istri pemilik rumah, calon istri Mas Prasetya," ujar Naila penuh penekanan.