Setelah memalsukan kematian Naruto, Kawaki tahu kini ia harus mengerahkan seluruh waktu dan tenaganya untuk pria itu. Kawaki tak ingin ketika sesuatu terjadi pada Naruto, ia tak ada di sampingnya.
Akhirnya, Kawaki memutuskan untuk berhenti sekolah agar ia dapat fokus menjaga Naruto di rumah. Hal itu juga dilakukan untuk meminimalisir interaksinya dengan Boruto. Ia harus lebih berhati-hati sekarang.
Keputusan untuk menyembunyikan Naruto sama seperti menyembunyikan bom yang kapan saja bisa meledak. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, bukan tak mungkin ia akan mati di tempat. Tapi tak mengapa, karena baginya itu memang harga yang harus dibayar untuk memiliki Naruto.
Amado sendiri yang akan dengan rutin melakukan pemeriksaan pada tubuh Naruto yang berada diambang kesadaran.
Kini, Kawaki semakin tenggelam dalam kawasan bawah tanah. Menyebarkan narkoba, membunuh dan menjual organ, melakukan peretasan bank, apapun yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan uang.
Ayahnya sudah lama mati semenjak Kawaki menemukan tujuan hidupnya. Peran ayah sudah tidak Kawaki butuhkan saat memutuskan untuk fokus pada tujuan. Namun Kawaki berterima kasih pada ayahnya itu, karena ialah orang pertama yang Kawaki jual organ tubuhnya pada Amado.
Suara leher yang digerakkan menjadi pengisi suara pada ruangan bernuansa gelap. Kawaki bangkit dari bangkunya menuju tempat Naruto tertidur pulas.
Dielusnya lembut pipi bergaris pria itu. "Kapan kau bangun, Naruto? Aku rindu padamu."
Sudah 13 bulan Naruto terbaring tak sadarkan diri. Semakin harinya pula Kawaki merasa hidupnya menggila tanpa pawang. Tangannya semakin kotor dengan caranya mendapatkan uang.
Kawaki merebahkan diri di samping Naruto dengan menggengam tangan hangatnya. Satu-satunya saat Kawaki merasa hidup sebagai seorang manusia hanya ketika dekat dengan Naruto. Oleh karenanya, ia tidak akan menyerah untuk mengembalikan cahaya di manik biru itu.
.
.
Kelopak mata Kawaki mencoba terbuka perlahan akibat gerakan yang mengusik tidurnya. Dilihatnya Naruto telah terbangun dan mendudukkan diri. Terkejut, Kawaki sampai mundur dan terjatuh dari atas ranjang.
"Ah, apa aku mengejutkanmu?"
Matanya membulat sempurna. Terkejut dengan kejadian di depan matanya. Berkali-kali ia mencoba menggosok kedua mata. Takut ini hanya mimpi yang berkali-kali terulang.
Namun dilihatnya sosok Naruto tetap ada disana. Tak menghilang. Ia bangun. Dengan cepat, Kawaki memeluk pria bersurai pirang itu. Menangis di pundaknya, meraung keras bahagia.
"Kau kembali! Kau benar-benar kembali? Ah, aku rindu sekali padamu." Kawaki memeluk erat Naruto, menyalurkan kerinduan akan sesosok cahaya penerang kehidupannya.
Naruto terlihat bingung untuk merespon pelukan itu. "Maaf, aku sedikit bingung disini. Bisa kau beritahu siapa aku?"
Kawaki terbelalak melepaskan pelukannya. Ditatapnya lagi wajah Naruto. "Kau tidak ingat siapa aku?"
Naruto menggeleng pelan. "Aku bahkan tidak tahu siapa diriku."
Jawaban singkat itu menimbulkan senyum pada wajah Kawaki. Kesabarannya berbuah manis. Bukan hanya ia mampu membawa kembali Naruto pada kehidupannya. Ia juga mampu mewarnai kembali Narutonya?
Ia tidak perlu khawatir Naruto terbangun untuk mencari keluarganya, atau bahkan menanyakan kondisi anak yang ia tolong sebelumnya. Ini melebihi ekspektasi Kawaki, ia terlalu bahagia hingga kamarnya menggemakan tawa nyaringnya.
Setelah tawanya mereda, ia menangkup wajah Naruto. "Namamu Naruto, dan kau bisa memanggilku Master"
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Game of Obsession [End]
Storie d'Amore[KawaNaruBoru] "Kenapa kau sangat terobsesi dengan ayahku?" Senyum miring tergores di wajah bertato IX itu, "Kau mengatakannya seperti kau tidak saja." ⚠Warning!⚠ Incest, Gay, toxic, obsession, manipulating, stalker, drug, bdsm, harsh word
![Game of Obsession [End]](https://img.wattpad.com/cover/298687248-64-k251918.jpg)