Tangan kekar mengusap punggung halus berwarna tan dengan bekas kemerahan yang melintang. Diciumnya punggung sang submisif pelan.
Pertemuannya dengan Boruto memunculkan rasa khawatir pada jiwanya. Tak peduli berapa kali pun ia melampiaskan frustasinya pada tubuh Naruto, rasa khawatir itu tak kunjung menghilang.
"Maafkan aku, Naruto." Kawaki menyudahi permainan. Diambilnya obat oles pendingin kemudian diusap perlahan pada luka merah di tubuh Naruto.
Naruto memperhatikan tuannya perlahan. "Master, apa kau sedang ada masalah? Jika ada, ceritalah padaku."
Gerakan tangan Kawaki terhenti, sedikit terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari bibir bengkak Naruto.
Kehilangan memori tak membuatnya berubah sedikit pun. Perkataan yang Naruto ucapkan benar-benar persis seperti yang Naruto katakan di awal mereka bertemu.
Diingatnya lagi perasaan hangat yang awal tumbuh pada hatinya. Hanya perlakuan biasa yang sebenarnya dapat dilakukan semua orang. Tetapi entah mengapa, ketika Naruto yang melakukannya terasa berbeda pada Kawaki. Apapun yang pria itu lakukan selalu mampu memberikan ketenangan dan kehangatan pada jiwanya.
Ia tak tahu sejak kapan, perasaan hangat yang terasa tulus itu berubah membuas menjadi rasa lapar yang mampu membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Naruto.
Dipeluknya tubuh Naruto pelan. Mengistirahatkan kepalanya yang terasa berat tak karuan. Bertubi-tubi masalah datang perlahan. Mulai dari Amado yang tak dapat dihubungi, berkurangnya intensitas pesanan dari para langganannya yang membuat tabungannya menipis, belum lagi pertemuannya dengan Boruto.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku, Naruto. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu." Kawaki berbisik lirih. Suaranya yang terdengar lembut membuat Naruto sedikit bingung. Baru kali ini masternya yang selalu tampak ganas menampilkan sisi rapuhnya.
Naruto mengusap dan menepuk punggung sang pemuda pelan. "Master tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja. Aku disini."
Bola mata Kawaki membola. Perkataan Naruto seperti obat penenang yang Kawaki butuhkan saat ini. Perlahan tubuhnya yang menegang semakin rileks, pernapasannya kembali teratur, dan debaran jantungnya kembali normal.
Ya, ini bukan saatnya untuk khawatir. Kawaki tahu, cepat atau lambat Boruto akan kembali berusaha merebut ayah tercintanya.
Meskipun menurut pengamatannya, anak itu sudah mulai memperbaiki hidupnya dengan menggengam janji yang ayahnya titipkan. Tetapi lambat laun otak cerdasnya pasti akan menemukan fakta yang Kawaki sembunyikan mati-matian.
Dan ketika itu tiba, perang antara dua iblis yang terjeda sebelumnya tidak dapat dihindari lagi. Dan Kawaki yakin ini adalah perang terakhir.
Do or die.
Permainan ini tidak akan berakhir sampai salah satu iblis mati tak bernyawa.
Secerdas apapun Kawaki mencoba menyembunyikan Naruto, selama Boruto masih menghembuskan nafasnya, Ia yakin hidupnya akan terus merasa was-was.
Dengkuran halus terdengar. Kawaki tersenyum menyadari pria dihadapannya yang tertidur dengan mudah. Dapat dimengerti, mengingat tubuhnya berkali-kali dicambuk dan disakiti. Wajahnya ketika mendesah dibawah Kawaki memang sangat menggoda. Tetapi saat ini ketika ia tertidur, Naruto benar-benar terlihat seperti seorang bayi.
Setelah memindahkan tubuh besar itu di atas kasur dan memasangkan kalung anjing yang terpasang pada pengait di belakang tempat tidur pada leher Naruto, Kawaki berusaha mengatur napas untuk menyusun rencana.
Ditengoknya persediaan bahan makanan yang mulai menipis. Mungkin saat ini ia akan berbelanja kebutuhan bulanan terlebih dahulu baru memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus ia tempuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Game of Obsession [End]
Romance[KawaNaruBoru] "Kenapa kau sangat terobsesi dengan ayahku?" Senyum miring tergores di wajah bertato IX itu, "Kau mengatakannya seperti kau tidak saja." ⚠Warning!⚠ Incest, Gay, toxic, obsession, manipulating, stalker, drug, bdsm, harsh word
![Game of Obsession [End]](https://img.wattpad.com/cover/298687248-64-k251918.jpg)