Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

sechs 🔞

9.3K 512 48
                                        

Mata biru laut itu menatap lurus pada kaca panjang di hadapannya dengan pandangan kosong. Boruto sudah membulatkan tekad untuk melaksanakan rencana yang sudah ia organisir dalam kepalanya.

Apapun yang terjadi, ia harus mengambil langkah. Jika tidak, bukan tidak mungkin ayahnya akan jatuh ke perangkap iblis itu.

Suara Himawari terdengar memanggil untuk sarapan pagi di lantai bawah. Boruto kembali memasang wajah senyum palsunya.

Keluarga Uzumaki menjalani rutinitas pagi seperti biasa. Berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan bersama. Kegiatan ini merupakan hal yang selalu Naruto sukai karena sesulit apapun hari berat yang menantinya, bercengkrama dengan keluarganya di pagi hari selalu memberinya kekuatan untuk menjalani hari. 

"Papa, mama! Hari ini Himawari boleh coba berangkat sekolah bareng temen?" tanya sang bungsu antusias.

Hinata menengok kepada anak bungsu kesayangannya itu, "Sayang, tunggu satu tahun lagi bagaimana? Mama masih khawatir untuk sekarang."

Himawari menunduk menatap genggaman tangannya diatas paha. Naruto pun mengelus surai indigo putrinya itu. "Tidak apa bukan, Hinata? Himawari sudah cukup besar untuk itu. Lagipula, Hima masih bersama teman-temannya 'kan?"

Cahaya kembali terpancar di bola mata Himawari. Naruto menggengam lengan istrinya menenangkan. "Yoshh, kalau begitu pagi ini Tou-chan hanya mengantar Boruto saja, ya!"

"Tidak perlu Tou-chan. Sebagai gantinya, dapatkah kau menjemputku nanti sore? Aku ada kegiatan ekskul dan akan sangat lelah untuk berjalan kaki." Permintaan Boruto itu pun disanggupi oleh Naruto.

.

"Ini barang yang kau minta?" Yagura, kakak kelas kenalan Boruto yang cukup terkenal di kalangan bocah sebagai penyeludup obat-obatan.

Melihat Yagura dengan obat yang ia minta membuat Boruto serta mengeluarkan lembaran uang sebagai pertukaran.

"Wanita mana yang akan kau perkosa, hei?" Aku tidak menyangka, Boruto sang pangeran baik hati dengan reputasi gentleman dapat melakukan ini. Lagipula, kau hanya tinggal meminta wanita-wanita itu untuk melayanimu bukan? Wanita seperti itu justru akan pamer dengan teman-temannya karena sudah berhasil menidurimu."

Boruto memandang Yagura dengan tatapan kosong. Yagura sedikit memundur melihat tatapan itu, Boruto seperti orang yang sangat berbeda. Hanya satu orang selain Boruto yang pernah ia temui memiliki mata seperti itu-Kawaki.

"Aku hanya ingin bermain secara hati-hati dalam permainan hidup dan mati ini. Terima kasih, ya!" Senyum lebar Boruto tampilkan pada lelaki di hadapannya yang sudah gemetar. Boruto pun melangkahkan kakinya meninggalkan atap untuk kembali ke kelas.

Setelah suara langkah kaki itu tak terdengar lagi, seketika kaki Yagura yang sudah melemas tak mampu menahan beban tubuhnya. "Siapa pun orang yang berurusan dengannya, kau benar-benar harus melawan iblis." ujarnya dengan wajah yang sudah dibanjiri keringat dingin.

Boruto berjalan sambil melempar-lempar kecil obat yang dibelinya dari Yagura. Dia tersenyum memikirkan keberhasilan rencananya kelak. Langkah Boruto terhenti akibat berpapasan dengan orang yang kini menjadi musuhnya itu. 

Dilampirkan senyum manis pada lelaki berambut hitam legam. "Kau ingin bermain obat-obatan, bukan? Akan dengan senang hati aku ikuti." 

Wajah datar Kawaki tampilkan atas balasan untuk perkataan membingungkan remaja di hadapannya. Boruto pun melangkah pergi dengan meninggalkan tanda tanya bagi Kawaki.

.

Naruto memarkirkan royce phantom berwarna hitamnya di parkiran Konoha High School. Ia baru akan menelepon Boruto sebelum sebuah tangan kekar dengan gelang hitam menahannya.

Game of Obsession [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang