Pagi datang seperti biasa,
Sejuknya, embunnya, hangatnya mentari,
Memeluk dirimu yang dipenuhi sepi.
Ranting yang tertiup angin,
Terlihat seperti dirimu yang hampir hilang arah.
Meski daunnya berguguran,
Namun tak jatuh.
Dan memaksa terus tumbuh.
Selepas hujan malam tadi,
Genangan menampilkan wajahmu.
Kau menginjaknya,
Melihat dirimu yang seolah hampir pudar.
Bertanya-tanya,
Mungkinkah kenangan terendam di sini?
Sehingga mungkin kau bisa mengurasnya.
Embun yang tiba-tiba menghilang,
Mengingatkan akan dirimu yang kadang ingin pergi.
Namun dengan egoisnya ingin kembali ditemukan.
Pagi dengan cepat berganti.
Kepada malam, yang selalu kembali sunyi.
Kau yang selalu kembali sepi.
Kau telah banyak membuat tanda samar,
Yang mengisyaratkan rindu.
Namun tak pernah ada yang melihatnya.
Tak pernah ada yang memahaminya.
Dan kau selalu gagal mengatakannya.
Kau bungkam.
Wajahmu dipenuhi bercak air mata.
Rembulan kadang menyapamu dari balik jendela.
Hewan-hewan malam bersenandung di bawah sinarnya.
Kelap-kelip bintang menemani malam-mu yang dipenuhi nostalgia.
Sabtu, 22 Januari 2022
