5 - Bersepeda Berdua

99 19 17
                                        

Orang biasa menyebut malam ini malam minggu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Orang biasa menyebut malam ini malam minggu. Banyak yang menghabiskan malam minggu dengan berjalan-jalan, menghabiskan waktu dengan pacar atau sekedar berkumpul bersama teman. Tapi tidak denganku, aku berbaring malas di kasurku sambil mengobrol dengan Saras dan Nindy memalui sambungan telepon grup.

Sejak tadi aku mendengarkan keduanya membicarakan apapun yang bisa jadi bahan omongan. Sesekali aku menanggapi, tapi lama-lama rasanya mengantuk juga.

Kalau bukan karena suara kodok yang tiba-tiba berbunyi di samping rumahku, aku pasti sudah ketiduran. Padahal suara jangkrik saja sudah mengganggu, sekarang datang kodok.

Nanti apa? Tak sekalian suara harimau biar rumahku jadi kebun binatang.

“Nawang! Kok diem?” tanya Nindy dari dalam telepon yang seketika menyadarkan aku dari lamunan tadi.

“Eh, gak apa-apa kok!”

“Gimana nih? Cerita dong, latihan pertama. Pasti ketemu dong sama cowokmu itu,” ucap Saras memancingku bercerita.

“Iya, tadi aku sama Lingga pulang bareng."

“Waaaaaaa!! Pulang bareng!” Saras dan Nindy jadi heboh sendiri, aku jadi kaget karena nada bicara mereka tiba-tiba menjadi tinggi begitu.

“Gila, kamu pulang bareng dia? Hebat!"

“Setahun lebih kamu jalan di belakang dia kaya penguntit, akhirnya kamu bisa jalan bareng ya? Wah, mantap sih!”

“Ya begitulah.” Aku sedikit malu mendengar reaksi mereka.

“Sejak awal kamu mutusin masuk marching band, aku yakin sih kamu bakal deket sama Lingga.” Nindy berkomentar.

“Iya, Nin. Tapi aku gak nyangka kalau prosesnya secepet ini. Bagus, Nawang! Lanjutkan, langkahmu udah bener kok!”

Sampai hampir tengah malam, kami bertiga mengoceh melalui telepon. Aku pun mengantuk, jadi aku berpamitan dengan mereka dan memutus sambungan telepon. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Wahai kodok, diamlah. Aku mau tidur.

Aku merebahkan diri dan menarik selimut. Bersarang dalam kasurku yang empuk. Dengan nyaman memejamkan mata dan akhirnya terlelap di tengah malam yang sepi ini.

***

Esok harinya, saat hari masih pagi aku memakai sepatu dan bersiap untuk mulai olahraga pagi. Bukan karena aku rajin, tapi karena tak tahu mau melakukan apa. 

Jam bahkan belum sampai pukul enam pagi. Udara desa masih lumayan dingin sampai kaos merahku ini tak cukup tebal untuk menahan dinginnya udara.

Embun dan kabut tipis yang masih menyelimuti area persawahan. Banyak petani yang sudah berangkat, membawa kerbau dan kambing mereka. Kehidupan desa ini telah dimulai di waktu sepagi ini.

“Nawang?” sapa seseorang dari belakang. Aku menoleh dan melihat sosok yang tak asing di mataku.

Ya, dia Rian si ketua kelas. Rumahnya memang tak jauh dari rumahku, makanya aku bisa bertemu dengannya di sini. Sambil membawa kambing peliharaannya ia berjalan mendekat.

Last Year (TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang