Demi mengejar laki-laki yang disukainya, Nawang rela masuk ekskul marching band yang kekurangan orang. Namun jalannya tak semulus yang ia kira.
Dalam perjalanannya mengejar cinta, Nawang belajar apa arti tanggung jawab, perjuangan dan jalan menuju k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari pertama di semester terakhirku di sekolah ini, pada awalnya semua berjalan mulus. Akan tetapi berbagai pengumuman dan agenda belajarku ke depan mulai membuatku pusing. Ada banyak sekali pelajaran tambahan dan rangkaian ujian yang harus aku lalui sampai hari kelulusan tiba, atau sampai kami selesai melaksanakan ujian nasional.
Kurasa waktu kami akan habis untuk belajar, tak ada kesempatan untuk kegiatan ekskul. Jadwal sangat padat. Dari mejaku dan menyimak apa yang sejak tadi wali kelasku sampaikan di depan kelas.
"Dalam waktu kurang dari enam bulan kalian akan melalui ujian-ujian terakhir untuk lulus dari sekolah ini. Jadi Ibu mohon, persiapkan baik-baik. Fokus belajar dan jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting," ucap wali kelasku.
"Siap, Bu!"
Kami pulang lebih awal. Setelah istirahat kedua, kami dipulangkan oleh sekolah. Saat semua murid mengerumuni lorong sampai ke gerbang, aku dan Lingga berjalan ke ruang marching band. Kami sangat rindu tempat itu, sudah lama tidak ke sana selama liburan. Tampaknya beberapa keramik yang retak sudah diperbaiki di sudut koridor.
Sesampainya di sana, Lingga membuka pintu dan masuk ke dalam. Sudah ada Aurel duduk seorang diri, ada yang berbeda dengan gadis ini. Rambutnya, warna rambutnya berbeda. Dia mengecat rambutnya dengan warna cokelat gelap, cantik tapi memangnya boleh ya?
"Wah, keren banget!" kataku saat melihat rambut Aurel.
"Bagus, kan? Tahun baru, rambut baru," Aurel tersenyum dan berputar bak tuan putri.
"Kamu gak kena marah guru?" tanya Lingga sambil menarik kursi dan duduk.
"Enggak kok, emang kenapa? Pak Ketua mau marahin aku ya?" tanya Aurel menggoda Lingga.
"Iya, aku marahin kamu!"
"Wah, aku malah seneng dimarahin Pak Ketua. Marahin dong!" Aurel semakin menjadi-jadi. Ya memang begitulah sifatnya, dia terkadang manja dan genit di depan Lingga. Tapi sayangnya setiap Aurel seperti itu Lingga tak pernah menanggapinya.
Tiba-tiba pintu terbuka, lalu Anin pun masuk. "Halo, Anin!" sapaku.
"Selamat siang," jawabnya yang kemudian mengambil tempat duduk dekat kami. "Padat ya jadwal sekolah," ucapnya.
"Iya nih, kita banyak banget ujian sama pelajaran tambahan."
"Masih bisa gak ya kita kegiatan di sini?" tanya Aurel. "Pak Ketua, gimana? Bisa gak?" Ia lalu menoleh ke Lingga.
"Kita liat aja nanti, kalau kegiatan gak terlalu padat. Kita bisa curi-curi waktu luang buat kegiatan di sini. Tapi kalau ternyata akhirnya malah sibuk banget, kegiatan marching band kita tangguhkan dulu sampai ujian selesai," tutur Lingga menjelaskan.