Demi mengejar laki-laki yang disukainya, Nawang rela masuk ekskul marching band yang kekurangan orang. Namun jalannya tak semulus yang ia kira.
Dalam perjalanannya mengejar cinta, Nawang belajar apa arti tanggung jawab, perjuangan dan jalan menuju k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepulang sekolah aku menunggu Lingga di depan gerbang. Aneh memang, padahal kita sekelas. Tapi gimana bisa kita berpisah ketika kelas bubar. Saras dan Nindy sudah pulang duluan, diriku agak khawatir sambil sesekali melihat jam. Mana sih dia?
Dari balik sekumpulan anak lainnya, ku melihat rambut ikal khasnya. Lingga datang sambil jalan terburu-buru. Aku memanggilnya sambil melambaikan tangan, begitu melihatku dia langsung cepat-cepat mendekat.
"Kamu kemana aja? Aku cari kamu lho," kata Lingga.
"Lho? Aku malah nungguin kamu di sini."
"Yaudah, kita jadi, kan?"
"Jadi."
Lalu Lingga menatap ke arah langit. "Yakin? Udah sore banget lho."
"Apaan sih? Jam lima aja belum, udah ayo!" ujarku yang langsung berbalik badan dan berjalan mendahuluinya. Terdengar suara langkahnya mengikutiku dari belakang.
Sore ini aku menepati janji untuk mengantarnya ke bukit itu, Lingga sangat penasaran. Lokasinya tidak jauh, tapi agak melelahkan karena menanjak. Tak apa, demi dia mau selelah apa pun tak apa. Senangnya bisa jalan sama orang yang kusuka.
Aku mengambil jalan pulang biasa, masuk ke gapura desa. Bedanya, saat baru beberapa meter melintasi jalan desa, kami belok ke jalan setapak yang lebih kecil. Membelah sawah dan mengarah ke perkebunan. Lingga dengan sabar mengikutiku.
"Awas, Nawang. Licin," kata Lingga memperingatiku.
"Gak apa-apa, kalo jatuh kan ada kamu yang tangkap aku."
"Oh iya ya."
"Hah?" Seketika wajahku memerah. Dia ini polos atau gimana sih? Ucapan dia yang 'Oh iya ya' meski terdengar singkat tapi seakan mengiyakan kalau dia akan menangkapku kalau aku jatuh.
Aku yang niat menggodanya, kenapa malah jadi aku yang salah tingkah? Wah, kalau gitu apa kujatuhkan saja badan ini ya supaya ditangkap olehnya ya? Enggak, gak boleh. Ketahuan banget settingan-nya.
Saat jalan mulai menanjak, di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Kami sesekali berpapasan dengan para pencari kayu bakar. Hingga salah satu pencari kayu bakar memberhentikan kami. Lantas aku dan Lingga berhenti dan menoleh.
"Mau ke mana, dek?" tanya kakek itu sambil membawa seikat kayu bakar di punggungnya.
"Ke atas, Kek!"
"Jangan lama-lama ya, hari udah mau gelap," katanya yang kemudian berbalik arah dan lanjut berjalan turun ke bawah.
lingga menatap ke arahku. "Tuh kan! Kita turun aja yuk, kesorean ini!"
"Enggak, Lingga! Tenang aja, aku biasa ke sini sore-sore. Udahlah percaya aja sama aku."
Walaupun nafasku tak beraturan, walau kakiku pegal berjalan menanjak. Tapi sesampainya di atas, semua rasa letih itu terbayarkan. Pemandangan dari atas sini sangat cantik ketika senja, di ujung timur matahari terbenam dengan indahnya. Menyebarkan kilauan emas yang menghias cakrawala.