Demi mengejar laki-laki yang disukainya, Nawang rela masuk ekskul marching band yang kekurangan orang. Namun jalannya tak semulus yang ia kira.
Dalam perjalanannya mengejar cinta, Nawang belajar apa arti tanggung jawab, perjuangan dan jalan menuju k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya, di sekolah aku menagih janji Lingga kemarin. Dan benar saja, dia mentraktirku makan siang saat istirahat kedua. Betapa senangnya hati ini, tapi di sisi lain merasa bersalah karena tidak bisa bergabung dengan Saras dan Nindy. Tapi dari ekspresi mereka, sepertinya mereka bisa mengerti.
Kukira hanya aku yang ditraktir dan kita makan berdua, ternyata ada Rai juga. Lingga terpaksa mentraktir anak ini karena kalah taruhan bola. Ada-ada saja, padahal aku mau berdua sama Lingga. Bocah ini mengganggu saja!
Kami bertiga duduk di salah satu sudut kantin yang ramai karena para siswa yang saling berebut untuk memesan. Ya, mereka seperti zombie yang kelaparan, tak paham mengantri. Di tambah bunyi wajan dan spatula para tukang masak makin membuat bising.
Aku dan Lingga bersebelahan, sedangkan Raihan ada di seberang kami. Sejak tadi, aku perhatikan gerak-geriknya aneh. Matanya terus menatap ke arah pedagang nasi goreng yang sibuk menyajikan makanan.
"Duh, lama nih!" kata Rai dengan wajah sebal.
"Hus! Jangan gitu, bapaknya juga lagi sibuk," ucapku sambil memasang wajah kesal pada Raihan.
Lingga menghela nafas. "Ya begitulah, Nawang. Dia emang malu-maluin."
"Eh iya deh, gak akan malu-maluin kalo ada Kak Nawang." Bocah itu lalu tersenyum ke arahku.
"Kamu panggil dia Kak? Kok ke aku enggak sih? Aku kelas tiga juga lho."
Raihan membuang muka dengan ekspresi datar mengejek Lingga. "Males."
"Dasar, awas aja."
Sepertinya hubungan mereka terlihat baik walau dengan cara yang tidak baik. Entah bagaimana aku menjelaskannya.
Tak lama kemudian, tiga piring nasi goreng yang asapnya masih mengepul-ngepul muncul di depan kami. Aromanya sangat menggugah selera. Rai sudah tak sabar menyantapnya, begitu juga denganku. Tapi aku bisa menahan diri, ketimbang bocah itu yang seperti tidak makan satu tahun.
Kami bertiga sama-sama mengisi perut yang kosong di tengah hari ini. Untuk kemudian melanjutkan pelajaran yang rumit di jam-jam berikutnya. Dari arah koridor, muncul sesosok perempuan berbaju rapi dan berkacamata. Kak Ara berjalan mendekat ke arah kami, di sampingnya ada Aurel yang juga ikut.
"Wah, gak ngajak ya," kata Kak Ara yang langsung duduk bergabung bersama kami. Begitu juga dengan Aurel yang matanya langsung menatap genit ke arah Lingga. Tapi sepertinya Lingga tak mempedulikannya. Usaha yang bagus kawan!
"Pesen, Kak. Dibayarin Lingga," ucap Raihan kepada Kak Ara.
"Heh!" Lingga langsung melempar Raihan dengan kerupuk.
"Gak usah, kakak pesen sendiri."
Kak Ara dan Aurel sama-sama memesan makanan favoritnya. Saat sedang asik makan, tiba-tiba dari arah depan datang Anin rekanku sesama pemain marching bell. Ia berjalan sambil membawa bekal makanannya. Aku tersenyum padanya, tapi dia tidak membalas senyumanku. Wajahnya datar dan cenderung murung.