Demi mengejar laki-laki yang disukainya, Nawang rela masuk ekskul marching band yang kekurangan orang. Namun jalannya tak semulus yang ia kira.
Dalam perjalanannya mengejar cinta, Nawang belajar apa arti tanggung jawab, perjuangan dan jalan menuju k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku yang sejauh ini dengannya. Aku yang selalu melihatnya dari belakang, kini berada dekat dengannya. Tapi, nyatanya tidak sedekat itu. Ada gadis lain yang lebih dekat dengannya, bahkan mampu menyentuhnya semudah itu.
Diri ini masih terdiam dan melihat Aurel mengelap keringatnya dengan tangannya yang lemah lembut. Lalu senyum cantiknya itu. Lingga, apa dia suka saat Aurel mengelap keringatnya ya?
Mulutku tak bisa berkata-kata. Bukan karena sedih, tapi lebih karena kaget. Ini hal yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi.
Ayolah! Sudah cukup, ku ingin pemandangan ini segera berakhir!
"Apaan sih, udah ah? Aku bisa sendiri." Lingga lalu merebut handuk kecil itu dan memegangnya. "Lagi keringatku juga gak banyak!"
"Dasar jutek." Aurel kemudian berjalan pergi.
Lingga menoleh ke arahnya dan melihat gadis itu dengan tatapan malas. Lalu ketika hendak melihat kembali ke depan, matanya berhenti ke arahku. Dan senyuman pun terukir di wajahnya. Senyuman untukku.
"Udah paham cara mainnya?" tanya Lingga.
"Udah kok, tinggal belajar ketukannya aja."
"Gak berat, kan?"
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Dulu itu yang main marching band namanya Tiara. Tapi karena jarang dateng latihan, dia dikeluarin sama ketua," kata Lingga sambil melihat ke arah depan.
"Terus pas kita mau cari anggota baru, ternyata gak segampang itu. Jadi repot sendiri deh."
Aku merespon ceritanya dengan senyuman kecil. Lingga kembali menatapku.
"Untung ada kamu ya, Nawang. Kita semua sekarang udah tenang karena dapat anggota baru. Soalnya kita ada penampilan bulan Desember nanti."
"I-iya, waktu kamu bilang soal marching band di kelas. Aku tertarik."
"Gitu ya, kalo gitu aku ngomong sama orang yang tepat." Lingga menghela nafas. "Makasih ya udah mau gabung sama kita."
Lagi-lagi Lingga tersenyum padaku.
Ah sial! Senyumannya itu. Tulus, hanya untukku. Gimana ini? Aku salah tingkah lagi! Aku pun membuang muka dan menyembunyikan wajah malu-malu ini sambil mengangguk pelan. "Sama-sama, mohon bantuannya," jawabku.
***
Kami berlatih selama tiga jam di aula sekolah. Tapi tidak sepenuhnya berlatih karena diselingi dengan istirahat, bercanda, mengobrol dan makan kue pemberian Kak Ara. Jam lima sore baru aku keluar aula untuk pulang sekolah.
Lorong sekolah yang sepi ku lewati pelan-pelan sambil melihat ke luar jendela. Tak pernah kurasakan suasana sekolah sesepi dan sekosong ini.
Lorong yang biasanya penuh kerumunan siswa kini terasa hampa, hanya terdengar suara ranting yang tertiup angin dan mengetuk-ngetuk jendela.