Demi mengejar laki-laki yang disukainya, Nawang rela masuk ekskul marching band yang kekurangan orang. Namun jalannya tak semulus yang ia kira.
Dalam perjalanannya mengejar cinta, Nawang belajar apa arti tanggung jawab, perjuangan dan jalan menuju k...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sabtu ini adalah kedua kalinya aku ikut latihan. Sepulang sekolah, aku dan Lingga langsung datang ke aula. Semua sudah siap di sana. Rai dengan drumnya, Aurel dengan tongkat mayoretnya.
Termasuk aku yang beberapa hari kemarin mempelajari buku yang diberikan Kak Ara. Ku ambil marching bell yang akan kumainkan, juga ada Lingga mengambil drumnya.
"Oke, semua udah kumpul ya?" tanya Kak Ara sambil membuka pintu aula lalu masuk ke dalam. Kami semua yang semula masih duduk-duduk langsung berdiri saat mendengar suaranya.
"Siap, Kak!"
"Ambil posisi!"
Kami mulai membentuk barisan. Di bagian depan, terdapat dua pemain terompet dan tuba yang belum kukenal. Lalu juga ada pemain drum snare dan bass. Sedangkan aku dan Anin yang sama-sama bermain marching bell ada di barisan kedua. Di kiri kami ada pemain symbal dan pemain drum tambahan.
Di posisi paling depan, Aurel dengan anggunnya berdiri menghadap kami dan memegang tongkat mayoretnya. Ia siap memulai gerakannya.
Aurel mulai memutar-mutar tongkatnya. Gerakan tangannya sangat lincah bak pemain sirkus profesional, sehingga tongkat itu berputar seperti baling-baling.
Suara nyaring drum snare milik Lingga terdengar, menjadi aba-aba bagi pemain instrumen lainnya. Ketukannya begitu cepat, aku tak tahu kalau Lingga sepandai ini bermain drum.
Terompet dan tiba mulai berbunyi mengikuti suara drum Lingga. Beberapa saat lagi adalah giliranku masuk ke dalam permainan musik ini. Aku mulai gugup. Tenanglah, Nawang! Tarik nafas.
Aku memukul satu dua bilah besi marching bell ini dengan stiknya, suara yang dihasilkan sangat tegas. Sesuai yang aku inginkan. Telingaku terus fokus mengikuti setiap ketukan dan irama musik teman-temanku. Gabungan dari berbagai instrumen musik ini menciptakan melodi yang indah.
Aku baru tahu, rupanya nada yang kumainkan dengan Anin berbeda. Meski bermain alat musik yang sama, peran kami berbeda.
Aku baru tahu kalau bermain marching band ternyata menyenangkan juga. Aku jadi semakin semangat, ketukan dan iramanya semakin cepat dan cepat. Aku terus berusaha mengimbangi. Sampai akhirnya, beberapa menit bermain musik kami pun selesai.
"Yeay!" Aku pun bertepuk tangan saat kami berhasil menyelesaikan musiknya. "Kerja bagus teman-teman!" ucapku.
Anin yang ada di sampingku malah menatapku sinis. "Apanya yang bagus? Gak becus!" katanya dengan jutek dan langsung berjalan pergi.
"Anin, jangan gitu," kata Aurel.
Anak-anak lain kemudian membubarkan diri, lalu mulai berlatih masing-masing. Aku masih bingung, kenapa mereka tidak ada yang senang seperti aku? Apa ada yang salah? Tiba-tiba Kak Ara datang mendekatiku.
"Nawang."
"Iya, Kak."
"Kamu tadi kurang sinkron sama ketukannya Anin, coba deh kamu lebih fokus. Ikutin, perhatiin gimana permainan Anin. Walaupun melodi kalian berbeda, tapi ketukannya harus pas. Jangan terlambat dan jangan kecepetan juga. Supaya hasilnya juga rapi."