Obat bius yang diterimanya sebelum operasi sudah mulai hilang efeknya. Membuat Raihana mulai merasakan sakit di perutnya yang baru saja dijahit.
Namun, segala rasa sakit itu terlupakan ketika sang perawat menaruh bayi mungil di pelukannya.
Raihana tak kuasa menahan air mata harunya saat menatap wajah bayi mungil itu. Tak menyangka di usianya yang sekarang, dia bisa merasakan kembali menjadi seorang ibu dari bayi lucu yang berharga ini.
Tak lama kemudian pintu ruang rawatnya terbuka, Raka dan Raska muncul membuat senyum di wajah Raihana merekah.
Raska langsung mengecup kening istrinya juga bayinya. Sambil mengelus kepala sang bayi yang ditutupi selimut, Raska menatap Raihana dengan penuh cinta.
"Bagaimana perasaanmu? Apakah bekas operasinya sakit?" Tanya Raska penuh perhatian.
Raihana menggeleng, meski ia merasakan sakit, suaminya tak perlu tahu. Dia hanya ingin merasakan kebahagiaan saja hari ini, karena bisa melahirkan ditemani sang suami. Sesuatu yang dulu tak bisa ia rasakan saat melahirkan Raina dan Raka.
"Aku tak apa-apa, Kang. Lihat bayi kita, dia sangat mirip denganmu." Raihana menunjukkan wajah bayinya.
Raska menunduk melihat wajah putra bungsunya. Lalu tersenyum.
"Benarkah? Kalau kulihat-lihat, sepertinya dia lebih mirip Raka." Raska berujar.
"Hah? Aku?" Raka yang sejak tadi menjaga jarak, membiarkan ayah dan ibunya menikmati momen berdua akhirnya berjalan mendekat. Melongok ke wajah adik barunya. Kini Raihana diapit oleh suami dan anaknya di kanan kiri pembaringan.
Di mata Raka, wajah bayi semuanya terlihat sama. Setelah melihat Nadine tadi, dia tak melihat perbedaan dengan wajah adiknya yang sedang digendong Raihana. Sama sama berpipi bulat, mata kecil, hidung kecil, rambut hitam, dan bibir kecil yang merah.
"Aku tak melihat kemiripannya sama sekali." Raka bergumam.
Raihana tertawa mendengarnya, tapi kemudian meringis karena tawanya membuat otot perut tertarik dan luka bekas operasinya bereaksi.
Melihat istrinya meringis, Raska langsung tampak khawatir. "Kau baik-baik saja?" Tanya Raska.
Raihana menarik napas panjang, mencoba mengontrol rasa sakitnya. "Aku nggak apa-apa, Kang Wira mau mencoba menggendongnya?"
Dengan agak ragu dan hati-hati sekali, Raska mengambil bayi di pelukan Raihana dan menggendongnya.
Raska menatap bayi itu dengan tatapan penuh takjub, tak percaya ia bisa memeluk darah dagingnya sendiri sesaat setelah dilahirkan. Dia baru bertemu dengan Raina dan Raka saat dewasa, maka iapun tak punya kenangan saat kedua anak kembarnya itu masih bayi.
"Hai, Nak. Ini ayah, selamat datang ke dunia." Tak kuasa menahan haru, airmata Raska menggenang di pelupuk matanya. Lalu ia mengangkat wajah, memandang sedih pada Raka yang berdiri di seberang pembaringan Raihana.
Raka yang merasa heran pun bertanya. "Kenapa ayah menatapku seperti itu?"
"Maaf karena aku tak ada saat kamu dan Raina lahir. Kalian pasti bayi-bayi yang sangat lucu. Maaf aku tak bisa mengazani kalian dan mengucapkan selamat datang ke dunia." Airmata di wajah Raska menetes, rasa bersalah yang mendalam menusuk hatinya.
Raka menghela napas panjang, lalu berjalan mengitari pembaringan Raihana untuk berdiri di hadapan Raska.
"Kemarikan adikku, aku tak mau kenangan pertama nya di dunia adalah melihat ayah menangis lebih kencang darinya." Raka mengambil bayi di gendongan ayahnya. Lalu menunduk menatap sang adik, berpura pura mengagumi ketampanan bayi itu, padahal matanya sendiri basah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Risalah Hati
RomanceRaka Wirasona, sejak kecil telah bersumpah mengabdikan hidupnya untuk kebahagiaan ibu dan adiknya. Namun semua berubah ketika ia beranjak dewasa dan bertemu ayah kandungnya, yang ternyata masih hidup dan sehat. Sejak itu, hidupnya berubah. Raka ta...
