Bab 4 : Seorang Figuran

238 53 7
                                        

Ruby's Pov

Aku duduk diam di depan Pak Raska, orang paling berjasa dalam hidupku. Yang membuatku bisa sekolah tinggi hingga lulus jadi sarjana ekonomi.

Meski tak punya gelar cum laude di ijazah, paling tidak aku yakin dengan kemampuan otakku.

Aku pikir ketika Kak Rudi mengatakan Pak Raska ingin bertemu denganku, aku akan dipekerjakan sebagai salah satu karyawan di Wira Corp. Aku bahkan tak berespektasi banyak, jadi karyawan magang pun tak masalah. Makanya dengan penuh semangat, hari ini aku datang ke rumahnya.

Aku mati matian menahan senyum senang karena membayangkan akan punya kartu identitas karyawan Wira corp yang bergengsi, jadi office girl yang tugasnya bikin kopi pun tak masalah. Paling tidak aku bisa membanggakan diri karena dapat bekerja di perusahaan besar.

Tapi aku harus menelan kecewa, ketika mengetahui ternyata Pak Raska bermaksud mempekerjakan aku sebagai pengasuh anak.

"Apa kamu kecewa?" Pak Raska bertanya setelah lama aku terdiam usai mendengar tawaran pekerjaan darinya.

"Emm....maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran pekerjaan dari Bapak." Aku bicara dengan pelan. Mungkin kedengarannya aku tak tahu balas Budi, namun aku merasa semua pendidikanku akan sia-sia jika hanya bekerja sebagai pengasuh anak.

"Apa tidak sebaiknya Pak Raska mempekerjakan orang dari yayasan penyalur baby sitter saja? Mereka sudah mendapatkan pelatihan yang cukup untuk menjadi pengasuh. Sedangkan saya tak punya pendidikan formal dan belum pernah mendapat pelatihan semacam itu. Saya takut tak bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik jika menerimanya."

Aku berusaha berargumen agar pak Raska bisa menarik tawarannya.

Pak Raska menarik napas panjang dan menghembuskannya. Di usianya yang hampir setengah abad, dia masih tampak tampan dan gagah. Meski dia harus berjalan pakai tongkat karena pernah mengalami kecelakaan, namun itu tak mengurangi kharismanya. Beberapa kali aku memergoki teman kuliahku berkencan dengan orang seusia Pak Raska, namun mereka tak bisa dibandingkan dengan pria matang di hadapanku ini. Tampan dan berkharisma, mungkin rahasia suksesnya menjalankan perusahaan Wira Corp itu salah satunya karena dia pintar menjaga penampilan.

Aku berdehem untuk mengusir pikiran kotor dari kepalaku. Dulu waktu masih remaja aku sempat berkhayal menjadi istrinya, apalagi setelah tahu cerita dari kak Rudi bahwa Pak Raska tak pernah menikah.

Namun di tahun terakhir kuliahku, tiba tiba saja aku mendengar bahwa istri dan anak-anak Pak Raska yang hilang telah kembali dan keluarga itu kembali bersatu lagi.

Kupikir cerita seperti itu hanya ada di sinetron, tak menyangka aku akan menyaksikannya dari orang yang dekat dengan keluargaku.

"Meskipun kamu belum pernah mendapatkan pendidikan atau pelatihan baby sitting. Tapi kan kamu sudah punya pengalaman. Aku dengar dari Rudy kamu sangat telaten mengurus anaknya saat baru lahir. Makanya aku ingin kamu menjadi pengasuh untuk cucuku."

Tapi itu kan berbeda, anak kak Rudi keponakanku. Jadi aku sudah pasti sayang padanya dan membantu mengurusnya dengan benar. Kalau aku dibayar untuk mengurus anak orang lain, aku takut tak bisa melakukannya dengan benar karena tak mampu menyayangi anak itu.

Aku tertunduk, tak berani membalas tatapan Pak Raska yang sedang memandangku dengan intens. Kemudian dia mendesah pelan.

"Ruby, aku bisa mengerti kamu enggan menerima pekerjaan ini karena latar belakang pendidikanmu terlalu tinggi. Tapi, pekerjaan ini bukan sekedar menjadi pengasuh untuk Nadine. Tapi juga sebagai bodyguard untuk Raina dan Nadine."

Kepalaku yang sejak tadi menunduk segera terangkat dan menatap pak Raska.

"Bodyguard? Maksudnya gimana pak?"

Risalah HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang