"Sial!" Raka menggumam sambil meneriakkan sumpah serapah dalam hati. Ia berdiri di pinggir jalan di depan sebuah klub malam yang ramai.
Dia pikir dia telah mendapat proyek besar saat dihubungi seorang produser yang menawarkan adaptasi film. Tapi nyatanya zonk.
Seharusnya ia tahu ada yang aneh saat produser itu minta mereka meeting di sebuah klub malam.
Bukan saja produser itu menawari biaya pembelian hak cipta yang rendah, dia ingin membuat film dengan genre romantis erotis dengan banyak adegan vulgar. Padahal komik yang ingin diadaptasi bergenre komedi romantis. Produser itu juga berusaha membujuk Raka dengan melemparkan wanita-wanita muda berpakaian minim ke arah Raka.
Selama pertemuan, Raka dihimpit oleh dua orang wanita di sisi kanan dan kirinya membuat pria itu merasa tak nyaman. Apalagi kedua wanita itu terus mencoba menyentuhnya walau Raka selalu menepis tangan mereka.
Dan karena merasa pembicaraan mereka hanya berputar-putar, Raka memutuskan pergi dan membatalkan rencana kontrak kerjasama tersebut.
Raka memijit keningnya yang berdenyut, ia merasa sakit kepala. Alkohol yang tadi tak sengaja ia minum membuat perutnya mual dan kepalanya pusing. Belum lagi bau asap rokok yang menempel di bajunya. Benar-benar membuat Raka tak nyaman.
"Mas Raka....." mendengar namanya dipanggil, Raka menoleh dan mendapati Rizky sedang menatap cemas ke arahnya.
Lalu pandangan Raka beralih ke sepasang suami istri yang berdiri 2 meter darinya. Raut penuh kekecewaan tampak di wajah mereka. Kemudian Raka memandang sekertaris pribadinya.
"Rizky, kamu anterin Mba Ningsih dan suaminya pulang pake mobilku. Terus kamu langsung pulang aja. Besok anterin mobilnya ke rumahku. Malam ini aku pulang naik taksi." Raka memberi perintah pada sekertarisnya tersebut. Lagipula ia tak bisa menyetir di bawah pengaruh alkohol.
Rizky mengangguk dan menerima kunci mobil yang diberikan Raka.
"Mas Raka baik-baik saja?" Tanya Rizky. Pemuda itu memperhatikan atasannya dengan seksama.
"Yah, saya nggak apa-apa. Saya lebih khawatir, Mba Ningsih pasti lebih kecewa dari kita karena komik buatannya mau dibikin film porno nggak jelas." Raka memandang Ningsih yang berdiri gelisah bersama suaminya, sang suami tampak sedang menenangkan istrinya yang beberapa kali terlihat mengusap airmata.
Raka berjalan mendekati mereka untuk meminta maaf. Lalu berusaha menghibur sebisanya sementara Rizky mengambil mobil di parkiran.
Setelah Rizky datang membawa mobil, Raka meminta Ningsih dan suaminya naik. Seusai mereka pergi, Raka memanggil taksi yang lewat dan menaikinya.
Raka menyebutkan alamat rumahnya pada sopir taksi, lalu duduk bersandar sambil memijit pelipisnya yang terus berdenyut sejak tadi.
Malam ini ia gagal mendapat proyek besar. Ia harus menyusun rencana ke depan bagi perusahaannya.
Raka memandang keluar jendela, ke jalanan Jakarta di waktu malam yang tetap ramai kendaraan. Beberapa gerobak pedagang kaki lima berjejer di trotoar.
Kemudian ia teringat permintaan Ruby tadi siang.
"Pak, kalau lewat tukang pempek minta tolong berhenti sebentar ya. Saya mau beli. Istri saya ngidam kuah pempek soalnya." Kata Raka pelan.
"Siap, Pak. Istri Bapak hamil berapa bulan?" Sopir taksi itu memulai pembicaraan.
"Mau tujuh bulan. Bayinya kembar." Seulas senyum tersungging di bibir Raka meski rasa pusingnya tak kunjung hilang.
"Wah, selamat ya Pak. Apakah ini anak pertama?" Tanya si supir taksi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Risalah Hati
RomanceRaka Wirasona, sejak kecil telah bersumpah mengabdikan hidupnya untuk kebahagiaan ibu dan adiknya. Namun semua berubah ketika ia beranjak dewasa dan bertemu ayah kandungnya, yang ternyata masih hidup dan sehat. Sejak itu, hidupnya berubah. Raka ta...
