Berita kematian Si Won langsung tersiar hari itu juga. Ja Yeol lari terburu-buru menghampiri Tae Hyung dan Yeon Hee yang sedang menyantap makan malam. Karena terlalu terkejut Yeon Hee sampai tersedak sementara Tae Hyung tampak pura-pura terdiam padahal dalam hati dia amat senang. Identitasnya telah kembali sekarang. Dia bukanlah orang yang namanya terpahat di batu nisan di belakang rumah pamannya, orang itu hanya rekaan saja setelah Tae Hyung memikirkannya. Tae Hyung tertunduk, menyembunyikan senyum kemenangan di wajahnya.
Setengah jam setelah makan malam selesai, tabib Yoon dan Geon Ho datang berkunjung membasah tentang pembunuhan ini. Diskusi itu sungguh seru. Geon Ho yang lumayan mengenal Si Won yakin bahwa pemuda itu punya banyak musuh mengingat bagaimana reputasi keluarga Choi di masyarakat. Tae Hyung hanya menyimak saja, terkadang bertanya supaya dia terlihat tertarik. Akhirnya Geon Ho Dan ayahnya pulang selewat tengah malam setelah Yeon Hee yang memintanya.
Begitu memastikan semua pintu sudah dikunci dengan benar Tae Hyung berjalan menuju kamar. Ketika dia masuk dilihatnya Yeon Hee sedang menyisir rambut panjangnya, sepenuhnya diam bahkan menurut penilaian Tae Hyung, wanita tersebut tampak melamun. Yeon Hee pasti syok, pikir Tae Hyung sedetik kemudian lalu mengganti pakaiannya sebelum berbaring. Dia bisa merasakan kelelahan di sekujur tubuhnya, tapi suasana hatinya yang gembira membuatnya yakin dia akan susah memejamkan mata.
“Aku masih tidak percaya,” gumam Yeon Hee duduk di pinggir tempat tidur dengan pandangan mengarah pada Tae Hyung yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar. “Dia baru saja dari rumah kita dan sore ini dia temukan meninggal.”
“Sepertinya bukan hanya aku yang menginginkan kematiannya,” kata Tae Hyung menyeringai tanpa bisa menyembunyikan. Yeon Hee sepertinya tidak mendengar ucapan suaminya barusan. “Ayo, kau perlu tidur,” ajak Tae Hyung karena Yeon Hee hanya mematung.
Yeon Hee menggeleng. “Kurasa aku tidak akan bisa tidur nyenyak lagi sekarang.”
“Bukan salahmu,” sahut Tae Hyung jadi muram, segenap kebahagiannya lenyap melihat tampang sedih istrinya. Dia beringsut mendekati Yeon Hee ke pinggir tempat tidur. “Kau bahkan tidak ada di sana sewaktu itu terjadi! Cobalah untuk melupakannya atau kau ingin kubuatkan teh sebelum tidur?”
“Tidak,” kata Yeon Hee parau kemudian mencoba tersenyum yang malah membuat wajahnya semakin sedih. Sebagai gantinya dia meraih tangan Tae Hyung dan menggenggamnya. “Ucapanmu pagi ini benar. Untungnya bukan belatiku yang menjadi penyebab kematian karena kalau itu hasil perbuatanku, aku mungkin tidak akan sanggup menanggung dampaknya.”
“Hatimu masih suci. Seseorang sebaik dirimu tidak mungkin mampu merenggut nyawa orang lain,” kata Tae Hyung bersungguh-sungguh. “Aku sudah banyak melihat hal-hal seperti ini terjadi, tapi kebanyakan dari mereka malah menjadi tak berperasaan karena menganggap yang dilakukannya itu benar.” Tae Hyung tersenyum kecil, berharap sekali perkataannya bisa menghilangkan kesedihan Yeon Hee.
“Kau pandai sekali menghibur,” ujar Yeon Hee melepaskan genggamannya dan sedetik kemudian dia menyeselinya karena kehilangan kehangatan tersebut.
“Itu pujian, kan?” tanya Tae Hyung dengan nada menggoda. Dia lalu tertawa, menggeser tubuhnya agar Yeon Hee bisa berbaring di sebelahnya lantas meniup lampu minyak di atas nakas.
Keesokannya, setelah sarapan pagi yang sedikit terlambat, Tae Hyung memilih untuk berjalan-jalan ke arah pasar. Dia merasa seperti terlahir kembali dan mungkin cocok jika menganggapnya begitu sebab belum lama ini dia sudah dinyatakan meninggal. Hangatnya sinar matahari dan hingar bingar di sekelilingnya menyadarkan Tae Hyung betapa beruntungnya dia racun itu tidak membunuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Faceless Man
FanfictionNiat untuk membalas dendam kedua orangtuanya seakan tak pernah surut dalam hati Tae Hyung. Dengan kemampuan langka yang dipelajari sejak berusia lima belas tahun, Tae Hyung mencari dalang di balik pembantaian yang terjadi sembilan tahun silam. Sampa...
