"Tapi, kalian bodoh membiarkan seorang bocah laki-laki lolos. Dia merangkak di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana mencari tempat persembunyian karena naluri bocah laki-laki itu memintanya agar jangan sampai kehilangan nyawa. Kau tahu, Hong Won Taek, bocah itu sangat sedih sekali sewaktu melihat Ayahnya sedang meregang nyawa, dia melihat bagaimana napas Ayahnya jadi pendek-pendek menahan sakit pada luka menganga lebar di perutnya dan dia juga melihat detik-detik Ayahnya mengembuskan napas terakhirnya. Sementara tak jauh dari mayat Ayahnya, Ibu bocah laki-laki itu telah lebih dulu meninggalkan dia."
***
Tae Hyung tak kuasa menahan kegembiraannya saat akhirnya dia mampu membeli rumahnya sendiri yang terletak di pusat kota tempat para orang kaya tinggal. Dalam waktu empat bulan saja dia berhasil membuat dirinya bergelimang emas tetapi Tae Hyung tak mau mengumbar ke sana kemari mengenai hal ini. Untuk memberitahukan kabar gembira ini pada Yeon Hee, dia sengaja melangkah secepat yang dia bisa. Sebenarnya Tae Hyung muak terus-terusan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat, apalagi bila jaraknya cukup jauh membuat tungkai kakinya sakit. Meski begitu, dia tak memiliki waktu untuk membeli kuda padahal dia sudah sangat ingin membelinya.
Ketika jarak yang ditempuhnya hanya tinggal seratus meter lagi, dia berlari. Mengabaikan sakit di tungkai kakinya, Tae Hyung menambah laju larinya dan hanya melambat sedikit saat membuka pintu, mengagetkan tabib Yoon―yang sekarang dipanggilnya paman―yang sedang menjemur tanaman obatnya di dipan di bawah pohon ceri. Tae Hyung melepas sepatunya, berjalan cepat ke salah satu ruangan yang dia yakini Yeon Hee berada di sana. Dugaannya benar, Yeon Hee sedang duduk bersama Yu Gyeong, dikedua tangan wanita itu masing-masing memegang selembar kain selebar sapu tangan karena mereka sedang membentuk pola indah di atas kain itu. Keduanya sama-sama mengalihkan perhatian kepada Tae Hyung.
"Ini masih terlalu siang dan kau sudah pulang," ujar Yeon Hee lalu menaruh kainnya begitu saja di dekatnya, menuangkan teh ke cawan kecil dan menyodorkannya ke hadapan Tae Hyung. "Apakah terjadi sesuatu di toko?" tanyanya menyadari napas Tae Hyung yang terengah-engah.
"Tidak," jawab Tae Hyung sekilas. Sulit sekali baginya untuk bicara sementara dadanya masih naik turun dan kerongkongannya terasa kering. Meraih poci teh, Tae Hyung menengadahkan kepala ke atas lantas menenggak langsung teh di poci tersebut. Meletakkan kembali poci ke tempatnya semula sambil mengelap dagunya yang basah dengan lengan baju kemudian Tae Hyung berkata, "Tuan Sang Hwi dan aku baru saja menyelesaikan pembayaran rumah. Kita bisa segera pindah dalam waktu dekat kalau kau tidak keberatan."
Rona kebahagian serupa juga tampak di wajah Yeon Hee. Mereka berdua memang sudah mendiskusikan hal ini dan atas saran dari Yeon Hee, Tae Hyung sengaja menunda memberitahu tabib Yoon karena menurut Yeon Hee pamannya itu tak akan setuju dengan keputusan mereka. Dan ternyata benar, tabib Yoon tak sengaja mendengar apa yang baru saja dikatakan Tae Hyung.
"Apa kalian tak menganggapku sebagai orangtua kalian sebelum mengambil keputusan ini?" tanya tabib Yoon berdiri di daun pintu. Dengan wajah murung dia melangkah masuk, duduk di antara Yeon Hee dan Yu Gyeong. "Aku sangat kecewa padamu, Tae Hyung. Semenjak orangtuanya meninggal, akulah yang mengasuh Yeon Hee, kuanggap dia sebagai putriku dan kuperlakukan dia sama seperti aku memperlakukan Geon Ho."
"Paman, jangan melimpahkan semua kesalahan kepada Tae Hyung," tegur Yeon Hee, menatap tak senang pada pamannya. "Aku yang meminta Tae Hyung tutup mulut karena aku tahu reaksi Paman akan seperti ini."
"Kau tentu masih ingat, Yeon Hee, bahwa aku telah bersumpah di depan makan kedua orangtuamu untuk selalu menjagamu sampai aku mati?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Faceless Man
FanfictionNiat untuk membalas dendam kedua orangtuanya seakan tak pernah surut dalam hati Tae Hyung. Dengan kemampuan langka yang dipelajari sejak berusia lima belas tahun, Tae Hyung mencari dalang di balik pembantaian yang terjadi sembilan tahun silam. Sampa...
