SEVENTH - EARLY MEET

16 19 23
                                        

Kurang lebih semenjak tiga hari kepergian Yuna aku tidak masuk sekolah karena sakit, suhu badanku demam tinggi.

Pagi ini aku kembali sekolah, kali ini aku diantar oleh papa dan kak Suho yang kebetulan mereka kerja satu kantor di Choi Company.

Bayangan tentang Yuna masih teringat di kepalaku, apalagi kala melintasi jalan tempat Yuna mengalami kecelakaan naas itu.

"Ada pelajaran apa dek hari ini?" Tanya kak Suho memecah hening, aku tau sedari tadi ia memperhatikanku melalui kaca.

"Emm, seni budaya terus Matematika murni sama penjaskes" jawabku

"Penjaskes nya pelajaran terakhir ya?"

"Iya kak. Jam setengah satu sampe jam tiga" jawabku lesu.

"Kalau masih sakit, jangan ikut olahraga dulu ya sayang" ucap papaku bersuara. Ku balas hanya deheman saja.

Mobil terparkir didepan gerbang sekolahku, ku lihat pak satpam yang sedang menyusun beberapa motor di parkiran.

"Papa, kakak. Mau itu" tunjukku kepada salah satu motor Scoopy berwarna ungu muda.

"Apa sayang? Mau apa hmm?" Respon papaku cepat.

"Mot--tt-toorrr" jawabku terbata.
"Ga boleh" jawab kak Suho cepat.

Aku mendengus, ingin menangis tapi rasa sakit kepalaku masih ada, mendengus tiada guna. Ah sudahlah, akhirnya ku putuskan untuk menuruni mobil.

"Ya udah, adek masuk dulu ya" ucapku kemudian memajukan badan, agar mempermudah mereka untuk mengecup pipiku.

"Belajar yang benar ya sayang, kalau masih terasa sakit bisa minta pulang duluan" ujar kak Suho.

Aku menuruni mobil, berjalan memasuki gerbang sekolah, berbalik badan ku lihat mobil papaku masih berada disana, mereka masih memperhatikanku.

Berjalan lagi menuju kelas, tak sengaja aku bertemu dengan Jisung bersama dengan seseorang baru ku lihat.

"Hai Vii. Tumben baru dateng" sapa Jisung.

"Hai Jisunggie, iya aku tadi nungguin papa dulu soalnya, kan aku berangkat bareng papa" jawabku

"Oalah gitu. Eh iya Vii kenalin ini Qian Kun. Murid baru dia sekelas sama kita"

"Hai Vii" sapa lelaki itu dengan senyuman ramah

"Hai Qian Kun" jawabku tak kalah ramah juga.

"Panggil aja Kun" ujarnya.

"Hehe iya iya, Kun" jawabku. "Btw, pindahan dari mana Kun?" Tanyaku lagi. Kami berjalan menuju kelas.

"Hmm aku dari Belanda."

"Wah Belanda, banyak bunga bunga ya disana?" Tanyaku antusias, ku lihat Kun terkekeh sembari menunduk. Pria manis dengan lesung pipi.

Memasuki kelas aku melihat pajangan foto besar berada di pojok depan kelas, aku berjalan untuk melihat lebih jelas lagi. Ternyata, foto kami sekelas, ada wajah almarhum Yuna disana. Dia berada disamping kiri ku. Ku lihat dia tersenyum manis menampilkan mata yang sedikit menyipit.

"Hai anak cantik" sapaku sembari mengelus wajah Yuna, "udah tenang ya disana? Udah ketemu adik dan Oma kamu ya disana? Sampaikan salam Vii sama Oma ya, maaf Vii ingkarin janji buat bisa selalu bersama bareng Yuna."

Aku menangis, Jisung dan Kun mendekatiku, Jisung membawa kepalaku kedalam dekapannya, semakin isak isak tangisku.

"Yuna udah tenang disana. Vii harus kuat ya, kasihan Yuna ngeliat sahabatnya nangis terus" ucap Jisung mencoba menenangkanku.

I Love you, Vii ! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang