Beberapa hari yang lalu aku baru saja mengikuti Ujian Kenaikan kelas 12. Dan guru mengumumkan kelas kami akan libur dalam waktu sepuluh hari kedepan. Sungguh bahagia bukan main rasanya.
Sebelumnya aku sudah memberitahu mama dan papaku kalau aku libur. Aunty Yeon mengajakku berlibur ke New Zealand. Karena kebetulan juga dia dalam posisi libur kerja.
Menuruni anak tangga, kulihat sekarang pukul 6 pagi. Pasti mama sedang memasak di dapur, aku datang menghampirinya.
Di rumahku ada lima orang pekerja, dimana semua mendapat bagian pekerjaan masing masing, kecuali urusan dapur dan masak memasak.
Mamaku sendiri yang akan menyiapkan makanan untuk kami nikmati.
"Mama" panggilku kala melihat mamaku sedang memotong wortel di dapur.
"Sayang, sini peluk mama dulu"
Aku datang menghampiri dan langsung memeluk mamaku. Tidak hanya dipeluk kedua pipiku juga dihujani ciuman olehnya.
"Mama masak apa?" Tanyaku.
"Mama mau buat sup dan ayam kecap, adek mau dibuatin apa?"
"Ga mau apa apa. Itu aja yang disediain mama tadi" jawabku. "Aku mau bantuin mama boleh?"
Kesal sekali rasanya sudah sedari dulu sebenernya aku ingin membantu mama memasak, namun semua melarangku, apalagi ketika berkaitan dengan benda tajam, seperti pisau dan sebagainya. Bahkan mereka malah menyuruhku untuk menunggu sambil menonton tv saja.
"No. Adek nonton tv aja sana, atau kalau mau disini, duduk temenin mama aja ya"
Aku tersenyum kecut. Sudah ku bilang kan? Aku tidak akan diizinkan.
"Mam, aunty Yeon ngajakin aku liburan. Boleh ya?" Tanyaku berharap.
"Liburan kemana sayang?"
"New Zealand. Lima hari doang kok, boleh ya, adek pingin banget kesana"
"Siapa yang mau ke New Zealand tadi?" Tanya seorang pria yang baru saja datang. Berbalik badan, ku lihat itu papaku. Papa langsung mendekati dan mencium kedua pipiku bergantian.
"Adek" jawabku sembari melepaskan pelukannya. "Adek diajak aunty Yeon kesana, lima hari aja ya pa? Boleh" pintaku berharap. Semoga saja diizinkan.
Papa diam, aku berharap semoga ada kalimat baik yang dikeluarkan untukku. Ku lihat papa pergi meninggalkanku dan mama.
"Maaaaa, izinin dong, adek kangen main bareng onty Yeon." Ucapku memohon.
"Izin sama papa tadi gimana? Udah izin sama kakak semua belum?" Mamaku balik bertanya.
Aku menggeleng, "papa ga jawab. Adek belum izin sama kakak" jawabku.
Semua memang sangat posesif disini, apalagi semenjak kepergian Yuna yang disebabkan oleh kecelakaan. Bahkan semenjak itu, mereka menjemputku lebih awal. Untuk keluar rumah pun pasti salah satu dari kakakku akan mengikutiku.
Tidak lagi diperbolehkan bermain semenjak aku berbohong waktu itu. Izinku pergi maraton malah pergi ke taman.
Suara langkah kaki terdengar, aku menengok dan melihat kakak tertuaku mendekatiku. Sepertinya ia habis olahraga pagi.
"Hey cantik lagi ngapain hmmm?" Tanyanya sambil memainkan pipiku menggunakan tangannya.
"Kakak sakitt" elakku cepat. Baru ia melepaskan tangannya diganti dengan mencium kedua pipiku bergantian.
"Kakak dari mana?" Tanyaku
"Dari olahraga tadi."
"Kok gak ngajakin adek?"
KAMU SEDANG MEMBACA
I Love you, Vii !
Teen FictionIni tentang Vii Aureryn gadis remaja yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara sekaligus anak perempuan satu-satunya membuat ia mendapatkan kasih sayang yang lebih. Suatu kejadian yang membuat s...
