#6 In The Jungle

2.6K 210 12
                                        

Fajar mulai menghilang di balik cakrawala. Perlahan, gelap mulai mengambil posisi di tempat yang memang seharusnya - malam. Aku masih bersender dengan tenang di bahu Jack. Tangannya melingkar lembut di tubuhku. Jack bergumam pelan, "seandainya kita tidak bisa kembali ke rumah, apa yang kau mau?"

Aku menatap mata Jack yang samar-samar dalam gelap. "Jika kita bisa masuk. Kita pasti bisa keluar. Ayolah, Jack.. Aku kepikiran Tara. Soal pesta roti-malam ini. Dia pasti tengah menungguku."

Jack tak bersuara. Malam di hutan benar-benar semakin hening. Hanya ada suara hembusan nafas yang beriringan dan suara keroncongan dari perutku. Aku masuk ke dalam dekapan Jack lebih dalam. Selain lapar, aku juga kedinginan.

"Aku tahu kau lapar, Jessy. Percayalah, kau di sini bukanlah satu-satunya orang yang sedang kelaparan." ucap Jack penuh pengertian. Aku mengerti apa maksudnya. Jack juga kelaparan.

Aku memilih diam. Kembali larut dalam keheningan. Tiba-tiba Jack bernyanyi, "Kisah sepasang kekasih, yang kelaparan di tengah hutan, sebuah pedang tergopoh di tangan, namun hambar, bulan tak bercahaya lebih.
Kisah sepasang kekasih, yang terdampar di bawah pohon, sepasang kaki masih melekat, namun hambar, keringat mengucur lebih.
Kisah sepasang kekasih, yang kegelapan di tengah hutan, bulan tersenyum kecut, namun hambar, cahayanya tak berlebih.
Kisah cintanya dalam maut, cari atau mati. Bulan hanyalah perlambang duka. Yang menggantung dalam angan kepedihan.
Kisah sepasang kekasih, yang berdekapan dalam diam, tangan melingkar lembut, namun hambar, dingin masih menusuk."

Nyanyian Jack terhenti. Mungkin sudah selesai. Aku tersenyum, "Jack, lagumu itu..... persis kita."

Jack tertawa pelan, "Yah, jika saja kita adalah sepasang kekasih, mungkin lagunya akan lebih persis."

Aku mendongak, "Tapi........... Sudahlah. Sepertinya aku mengantuk."

"Tidurlah, aku bersamamu."

Aku menutup mataku perlahan. Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang bertekstur lembut dan basah menekan bibirku dengan pelan. Mendadak, aku merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuh. Lagi - Jack menciumku lagi dan kami berciuman.

***

Fajar meninggi. Malam sudah pergi entah kemana. Aku masih rapih dalam dekapan Jack. Dia masih tertidur. Wajahnya tampak pucat- Sama sepertiku. Agh! Rasa menggeriak di perutku mulai bergemuruh lagi. Jika sekarang aku berada di rumah, aku takkan merasa selapar ini.

Perlahan, aku mulai melepas dekapan Jack. Lalu memandang ke sekeliling. Melihat pepohonan. atau berharap ada mata air. atau pohon yang buahnya bisa di makan. atau mungkin keduanya. Tapi nyatanya, hanya ada pohon-pohon hutan yang tak berbuah. Mungkin ada hewan yang bisa diburu, tapi aku tidak bisa berburu. Keahlian memanah dan menombakku hanya akan menghasilkan sesuatu yang nihil. Tapi aku lapar. Jika aku berburu, bukanlah hewan buruan yang kudapat, tapi malah aku yang diburu.

Aku menatap Jack yang masih nyenyak dalam tidurnya, mataku berbinar seakan melihat mangsa. Oh tidak tidak!!. Apa yang kupikirkan? memakan Jack? konyol. Bahkan sinting.

Oh ayolah Jessy, rasanya pasti enak. Rasa laparmu akan hilang. Daging Jack pasti terasa segar

Apa? enak? Jack adalah manusia! Aku bisa mati konyol jika saja aku memakan daging manusia.

Tidak, Jessy. Bahkan membunuhnya adalah suatu kesenangan.

Bodoh! membunuh Jack adalah siksaan batin bagiku. Jack adalah Sahabat terbaikku.

Jessy. Ayolah.

Jessy. Makanlah.

Jessy. Bunuh saja!!

Jessy-

"Tidaaaaaaakkkkkkkk" aku menjerit.

°°°

"Jessy!! sadarlah!! ada apa??" Seseorang berusaha menyadarkanku. Pikiranku masih kacau. Kukira aku mulai gila.

Aku masih meringkuk. Melingkarkan kedua tanganku di kakiku. Wajahku kutelungkupkan. Aku tidak ingin membunuh Jack! Aku tidak ingin membunuh Jack!

Tubuhku bergetar. Seseorang mengguncang-guncang tubuhku. "Oh ayolah Jessy. Ada apa? ini aku-Jack."

Jack?

Orang itu Jack!!

Dengan cepat aku segera memeluk Jack. "Oh, Jack. Aku tidak ingin membunuhmu?"

Jack mendekapku erat. "Kau takkan membunuhku, okay? Kau hanya dikacaukan oleh rasa laparmu, Jessy. Oh ya, lihatlah apa yang kubawa. Aku tadi berburu dan aku berhasil memanah seekor kijang. Mari bantu aku mengulitinya."

Jack melepaskan pelukannya. Aku melihat seekor kijang dengan anak panah di mata. Jack memang pemanah yang handal. Aku mengakuinya.

Sang fajar sudah tepat berada di atas ubun-ubun. Kijang yang sudah kami kuliti akan kami bakar. Atau memanggangnya. Jack mahir dalam hal ini. Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan. Sesekali sambil belajar.

"Oke. Saatnya memasak." Jack bersemangat. Betapa kami sudah tak sabar ingin menikmati kijang hasil buruan Jack.

Aku mengangguk menyetujui. Apa lagi yang bisa kulakukan selain itu? aku bahkan tak mengerti soal menciptakan api dari batu atau kayu.

"Jack. Aku ingin memanjat. Siapa tahu aku bisa menemukan jalan keluar. Boleh, kan?" pintaku pada Jack.

"Oh, baiklah. Tetap berhati-hati, okey?"

"Okey."

°°°

Update !!! Yuhuu. :P tetap vomments ya. Minimal komen. gmana ceritanya ? tambah seru ? tambah gaje? tambah konyol ? hoho....
Nanti ada Katniss Everdeen sama Peeta Melark lhooooo. Tokoh di novel The Hunger Games.
thanks for read
:)

Am I a Psychopath ?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang