Pintu kayu tiba-tiba mengeluarkan cahaya tipis yang kian menjalar hingga membentuk sebuah pohon beringin. Pemandangan tersebut membuat keempat siswa yang kini berada di dalam ruang rahasia tak dapat mengalihkan pandangan. Tak lama setelahnya, cahaya tersebut memudar, lalu pintu dibuka dengan kasar.
Sekumpulan Nymph penjaga berdiri di balik pintu dengan ekspresi panik sekaligus marah. Beberapa di antaranya adalah Nymph penjaga yang telah terbangun dari sleep potion. “Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya salah satunya dengan mata mendelik.
Aku tidak ingin diseret ke ruang eksekusi lagi, batin Sophia tak berani menatap ke arah datangnya suara.
Rahael segera buka mulut hendak melontarkan alasan. “Ka---” Belum tuntas kata pertama diucapkan, Nymph tadi kembali menyela.
“Reliefnya … retak?” tanya pria itu tidak percaya.
Keempat siswa di hadapannya membalas pertanyaan Nymph itu dengan anggukan penuh kegelisahan. Berbagai skenario terburuk segera tergambar dalam benar mereka. Bahkan suasana ruang eksekusi serasa hadir kembali.
“Reliefnya retak, reliefnya retak!” Peri penjaga itu mengulang-ulang frasa yang sama sambil meraba permukaan tembok berpahat, kemudian diikuti oleh Nymph lain.
Para siswa saling berpandangan karena tak paham. Bahkan sekumpulan Nymph di depan mereka lebih fokus pada relief dan tidak memedulikan Tim Nordik yang baru saja menerobos ruang rahasia.
Salah satu Nymph kembali menghampiri para siswa. “Sihirnya hilang, apa kalian yang melakukannya?” tanya pria itu sambil menunjuk relief.
Para siswa pun kembali mengangguk dengan ragu. “Apa kami akan dipenggal?” tanya siswa Fallen Angel berambut wine sembari menggenggam erat phoenix spear.
“Tentu saja tidak, kami justru berterima kasih!” jawab pria itu, yang kembali mengundang tanda tanya di benak para siswa. “Meskipun begitu, tidak seharusnya kalian masuk ke ruang ini, apalagi membuat pingsan penjaga,” lanjutnya sambil melirik ke luar pintu tempat para penjaga lain masih tergeletak.
Nebula mengingat-ingat lagi kutukan yang diberikannya. “Me-mereka tidak pingsan, hanya tertidur, dan akan segera bangun setelah aku meninggalkan kuil,” jawabnya sambil tertunduk.
Penjaga kemudian mengantar tim keluar dari ruangan. Sophia bertanya mengenai relief yang menurutnya sangat aneh untuk berada di dalam Sage Temple, dan mengapa ruangan harus dijaga ketat seperti itu.
Melihat sosok di sampingnya kebingungan, Nymph itu menjelaskan, “Baiklah, karena kalian sudah tahu sejauh ini, aku kujelaskan dari awal.”
Puluhan tahun lalu, setelah para Nymph memutuskan untuk membangun kuil Dewa Freyr, mereka mengundang seluruh ahli dari berbagai wilayah Peri. Nymph, Pixie, Asrai, Shee. Keempat jenis Peri bekerja sama untuk membangun Sage Temple, mulai dari bangunan utama hingga bagian paling detailnya.
Saat itu seorang Peri Cahaya tiba dan menawarkan bantuan untuk membuat relief. Awalnya semua baik-baik saja, Pixie itu bahkan sudah menyelesaikan dua relief di halaman depan dengan baik, sehingga para Nymph tidak mengawasinya saat bekerja di halaman belakang.
Beberapa hari kemudian, dinding di halaman belakang telah selesai dipahat, dan tiba-tiba semua Peri di sana merasakan hal ganjil. Tak lama kemudian, langit dipenuhi awan hitam disertai petir. Angin juga berembus kencang membawa debu dan dedaunan. Suasana pun berubah mencekam.
Terdengar jeritan dari halaman belakang disusul berpijarnya cahaya hijau menyilaukan. Namun, para Peri tak dapat mencapai tempat itu. Pasalnya bagian belakang kuil seakan memiliki tameng angin yang dapat menghempas siapapun yang mencoba melewatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Red Miracle
FantasyEmpat tim diutus ke berbagai wilayah Peri untuk menemukan dan mengaktifkan Sigil berdasarkan terjemahan Hieroglif masing-masing mitologi. Tim Nordik yang beranggotakan Rahael, Nebula, Zeon, dan Sophia pergi ke wilayah Peri Pohon atau Nymph. Benda ku...
