Bab 6. Immortal Creature

23 6 6
                                        

Nebula dan Sophia terus menyisir pepohonan, berharap bisa menemukan seekor hewan magis untuk menolong rekannya yang tengah disiksa oleh kekuatan gelap. Namun, alam seakan menghalau mereka. Angin bertiup tidak wajar di tengah hutan. Berkali-kali keduanya perlu bertahan menghadapi terjangan tornado dengan kekuatan yang berbeda-beda.

Tiba-tiba semak yang tak jauh di depan mereka bergerak, menyulut pertanyaan dalam benak kedua siswa. Makin dekat, makin jelas pula bahwa pusaran angin berasal dari sana. Nebula memungut sebuah ranting, kemudian menggunakannya untuk menyenggol semak-semak.

Seekor rakun melompat dari balik dedaunan. Makhluk itu mengibaskan ekornya yang bermotif cincin ke berbagai arah, yang rupanya membentuk pusaran angin. Mata kedua Peri saling bertaut, mereka telah menemukan sosok nakal yang menciptakan tornado mini sekaligus hewan magis yang sedang dicari.

“Apa kita harus membawa rakun itu? Sihir anginnya bahkan sangat lemah,” papar Sophia.

“Sejauh ini hanya dia yang kita temui. Tak ada banyak waktu, Sophia.” Nebula tak berbasa-basi lagi. Peri Cahaya itu segera memantrai ranting yang dibawanya. Setelah kutukannya siap, benda itu ia lemparkan pada ekor rakun membuatnya tertidur.

“Rakun malang, boleh aku yang menggendongnya?” pinta Sophia.

Nebula mengangguk. Keduanya pun segera kembali ke tempat Rahael dan Zeon menunggu.

oOo

Sekawanan burung liar terbang tak karuan, disusul auman yang menggema di dalam hutan. Rahael yang merasakan keganjilan segera mempersiapkan phoenix spear. Mata hazelnya menangkap pergerakan pepohonan dari arah depan. Makhluk itu berlari mendekat, kemudian berhenti tepat di hadapannya.

Seekor singa bertanduk rusa, dari bercak darah pada mulut dan bulu-bulunya, Rahael menebak monster itu baru saja melahap mangsanya dengan brutal. Pandangan makhluk itu tertuju pada Zeon.

“Kau datang tepat waktu, kami sedang menunggu hewan magis. Sepertinya tak terlalu buruk jika mengorbankan seekor monster.” Masih sambil menggenggam tombaknya, Rahael menepi, membiarkan hewan itu mendekati Zeon.

Singa itu berlari, kemudian mengarahkan cakar pada Elf di depannya. Rahael segera menangkis serangan tersebut. Karena merasa rencananya tak berhasil, Fallen Angel itu memukul mundur monster agar tidak melukai rekannya.

Tak lama kemudian, muncul makhluk lain yang terpanggil oleh energi jahat dalam tubuh Zeon, seekor siput tanpa cangkang setinggi dua meter. Kulitnya mengeluarkan lendir transparan, dan tubuh besarnya menggeliat di antara pepohonan. Rahael dan Falcon kini disibukkan oleh dua makhluk yang terus berusaha menyakiti siswa Elf itu.

“Kuharap Nebula dan Sophia segera kembali.” Rahael memandang jijik phoenix spear yang kini berlumur lendir siput.

oOo

Setelah terbang cukup jauh, Nebula dan Sophia mendengar pekikan burung, kemudian disusul bersinarnya cahaya merah yang beberapa kali menyala kemudian padam.

Begitu didekati, tampak seekor phoenix raksasa dengan api magis di ujung ekornya. Bulu merah burung itu rontok, berserakan di mana-mana. Ia juga tampak tak dapat terbang dan hanya bisa bergerak dengan kedua kakinya.

“Aku tak pernah bertemu phoenix sebesar itu, tetapi dari buku yang kubaca, kupikir ia berusia ratusan tahun. Dilihat dari fisiknya, ia mungkin akan segera mati.” Sophia memandang hewan itu lekat.

Kedua Peri pun melepaskan rakun, dan memutuskan untuk membawa phoenix. Burung itu diyakini memiliki kekuatan luar biasa yang mungkin dapat membantu Zeon, pikir kedua Pixie. Selain itu, proses kematian dan kelahiran kembali phoenix juga membuat para siswa tidak perlu membakar binatang dengan sengaja.

Hidden Red Miracle Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang