"Ayo bangun pelan pelan." Irene membantu Jeongyeon mendudukan dirinya.
"Aku akan menarikmu agar kau dapat berdiri. Kau kelihatannya masih begitu lemas, jadi letakan saja tanganmu di pundakku. Aku akan membantumu berjalan." Ucap Irene.
"Aku bisa sendiri." Jeongyeon mencoba berdiri sendiri namun ia langsung merasakan rasa sakit di punggungnya.
"Akh!!!"
*Greb.
Irene langsung memeluk Jeongyeon untuk menahan tubuhnya.
"Sudah kubilang tubuhmu masih lemas. Biarkanlah aku membantumu, aku takkan berbuat jahat padamu." Ucap Irene dengan begitu lembut.
Hal itu membuat Jeongyeon terpaku menatap kedua mata coklat Irene.
"Ayo berjalan pelan pelan." Ajak Irene sambil memapah Jeongyeon.
Gadis itu pun berhasil membawa Jeongyeon ke kamar mandi. Ia mendudukan Jeongyeon di kloset dan membiarkan Jeongyeon membuka bajunya.
"Perlu aku bantu?" Tawar Irene.
"Tidak." Tolak Jeongyeon walau ia kesusahan.
"Baiklah, akan aku bantu." Irene pun turun tangan.
"Ayo berdiri lagi." Ajak Irene.
Ia pun memapah Jeongyeon sampai ke depan shower.
"Peganganlah pada tembok, biar aku membantu membasuh tubuhmu. Maaf jika aku lancang, tapi jika kau tak mandi, kau akan gatal gatal karena penuh kotoran dan debu." Ucap Irene penuh perhatian.
Saat Irene membasuh tubuhnya, Jeongyeon merasakan debaran di dadanya. Bukan karena ia malu, namun karena itu adalah pertama kalinya seseorang begitu peduli dan begitu lembut padanya. Irene seperti seorang ibu yang begitu khawatir pada sang anak.
"Pejamkan kedua matamu, aku akan mencuci wajahmu." Pinta Irene.
Jeongyeon menurut seperti anak kecil dan membiarkan Irene membasuh wajahnya. Bahkan setelah selesai mandi, ia tetap menurut saat Irene memakaikannya baju dan mengeringkan wajah serta rambutnya.
"Kau punya rambut yang sangat bagus, Jeongyeon." Puji Irene sambil menyisiri rambut Jeongyeon.
"Lihatlah aku sebentar." Irene mengarahkan pandangan Jeongyeon sejenak.
"Sudah cantik." Puji Irene sambil tersenyum.
*Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Jeongyeon berpacu dengan begitu dengan cepat. Ia begitu senang diperlakukan dengan lembut seperti itu. Ia begitu menyukai orang di depannya ini.
"Ayo ke depan, kamu pasti lapar." Irene kembali membantu Jeongyeon untuk berjalan keluar kamar.
"Woah lihatlah itu, kau sudah sangat cantik dan wangi. Duduklah di kursi, Jeongyeon. Aku akan menyiapkan alat makanmu." Ucap Gooyoung.
Mereka bertiga pun duduk bersama di meja makan dan makan bersama. Saat itu Jeongyeon merasa aneh karena biasanya ia makan sendirian di kamarnya.
"Mungkin kau merasa asing saat makan bersama seperti ini. Tapi percayalah, keluarga pada umumnya selalu makan bersama seperti ini." Jelas Gooyoung.
"Keluarga?" Gumam Jeongyeon.
"Tinggalah disini sampai kau sembuh. Biarkan aku membantumu mengetahui segala hal yang perlu kau ketahui." Ucap Gooyoung.
.
.
.
1 minggu kemudian...
"Sampai saat ini kami belum menemukan apapun nyonya. Hanya beberapa potongan bajunya yang terlepas saja yang kami dapatkan." Ucap Greg.
Kondisi Mina saat ini sudah terlihat begitu buruk. Wanita itu menangis setiap malam dan tak tidur berhari hari. Ia hanya ingin Jeongyeonnya kembali bagaimanapun caranya.
"Kubilang jangan beri laporan jika kau belum menemukan Jeongyeon. Jika mayatnya saja kau tak bisa temukan, tentu saja dia masih hidup. Carilah ke gedung gedung kosong atau ke bangunan bangunan tua. Dia pasti dalam keadaan lemah dan membutuhkan bantuan. Aku tak peduli, aku mau Jeongyeonku kembali!" Paksa Mina.
Sementara itu di tempat yang berbeda..
*Tok tok tok.
*Klek.
"Hey, Jeongyeon." Sapa Irene.
"Kau sudah datang rupanya.." Jeongyeon tersenyum sambil memeluk Irene.
"Pemotretannya selesai dengan cepat." Ucap Irene sambil memberikan totebag berisi begitu banyak tempat makan.
"Dimana paman?" Tanya Irene.
"Sedang meneliti bajuku di ruangannya." Jawab Jeongyeon sambil mengeluarkan makanan pemberian Irene dan memasukan tempat bekal yang sudah kosong ke totebag itu.
"Sudah lebih baik?" Tanya Irene sambil mengelus lembut punggung Jeongyeon.
"Aku sudah sangat sehat." Jeongyeon menoleh ke arah Irene dan tersenyum.
*Greb.
"Jadi cepat atau lambat kau akan kembali padanya ya? Aku sangat sedih." Irene memeluknya.
"Ya, begitulah.. Tapi aku masih menunggu keputusan paman. Setelah mengetahui semua kebenarannya, aku tidak ingin kembali menjadi boneka Mina dan mengotori tanganku dengan membunuh banyak orang. Aku menyayanginya, tapi aku tak mau dikasari seperti dulu. Aku lebih suka caramu dan paman memperlakukanku." Ucap Jeongyeon.
"Kau tau kemauanmu, maka jalanilah itu." Suara Gooyoung membuatnya dan Irene menoleh.
"Ne?" Tanya Jeongyeon.
"Hancurkan mesin pencuci otak itu. Singkirkan Greg dan jauhkan Mina darinya sebelum pergi meninggalkannya. Itu adalah cara yang menurutku benar. Tapi aku tak mau kau menjalani itu berdasarkan perintah dariku. Aku ingin kau belajar memilih yang terbaik menurutmu. Kau punya Irene disini yang menyayangimu dengan lemah lembut dan seperti keluarga dan kau juga disayangi Mina dengan caranya yang memperlakukanmu seperti boneka dan binatang peliharaannya. Buatku Mina lebih terobsesi padamu dibandingkan mencintaimu." Ucap Gooyoung.
"Yang paman inginkan adalah dirimu memilih sesuai hati nuranimu." Irene mengelus dada Jeongyeon.
"Jeongyeon, menyakiti orang adalah hal buruk, apa lagi membunuh. Adalah sesuatu yang keteraluan buruk saat seseorang menggunakan tangan orang lain untuk membunuh. Memanipulasi otakmu dan tubuhmu lalu menjadikanmu boneka pembunuh. Itu sangat kejam dan keterlaluan, Jeongyeon." Perlahan air mata Irene menetes ke pipinya.
"Hey.." Jeongyeon meraih pipi Irene.
"Aku tak bisa membayangkan betapa tersiksa dan sengsaranya dirimu selama ini." Lirih Irene.
"Aku takkan diam lagi sekarang. Aku sudah membuat keputusan dan aku tau betul bahwa kekuatanku lebih besar dibanding Mina atau anak buahnya. Aku akan membuat perubahan." Ucap Jeongyeon.
"Lakukan yang menurutmu benar, Jeongyeon. Kami ada disini jika kau memutuskan untuk berpisah dari wanita itu." Ucap Gooyoung.
