Coming Home

374 59 0
                                        

"Kami belum menemukan apapun, Nyonya." Lapor Greg.

"Para pelayan bilang anda belum makan sejak 2 hari yang lalu dan tidak tidur semalaman. Nyonya, saya mohon anda serahkan semua ini pada saya. Tolong anda fokus menjaga kesehatan anda." Mohon Greg.

"Kau takut aku sakit atau takut kau kehilangan dompet berjalanmu?" Tanya Mina yang sedang duduk di kursi yang ada di kamarnya dengan figur lemas.

*Bruk.

Seorang penjaga masuk begitu saja.

"Tidakkah kau diajarkan untuk mengetuk?!" Marah Greg.

"Maaf Nyonya, tapi Project 100 baru saja berjalan memasuki gerbang depan." Lapornya yang langsung membuat Mina segera berdiri dan bergegas menuju keluar diikuti para bawahannya.

Dari kejauhan dapat ia lihat Jeongyeon yang berjalan mendekatinya.

Mina terbelalak dan tubuhnya bergetar hebat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mina terbelalak dan tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya tak tertahankan terlebih lagi saat wanita itu berjarak begitu dekat dengan Mina.

"Kau pulang.." Lirih Mina sambil menangis.

Jeongyeon pun berlari kecil untuk memeluk Mina.

*Greb.

Semua orang disitu terbelalak dengan apa yang Jeongyeon lakukan, terlebih lagi Mina. Baru kali itu Jeongyeon memeluknya dan hal itu ia biarkan karena pelukan itu terasa hangat dan menenangkan. Setelah seminggu tak ada kabar, akhirnyahari itu Jeongyeon pulang kembali kepadanya.

"Hiks.. Hiks.. Kemana saja dirimu?? Kenapa baru pulang???" Rengek Mima seperti anak anak.

Jeongyeon pun meraih wajah Mina dan menyeka air matanya. Sementara Mina membuka masker yang Jeongyeon pakai. Begitu terlepas, terlihat jelas bagaimana wajah khawatir Jeongyeon sambil melihat mata sembab nan merah Mina.

"Berapa lama kau menangis dan tak tidur?" Pertanyaan Jeongyeon lagi lagi membuat semuanya terkejut.

"Kau pergi begitu saja, tentu saja aku menangis tiap malam mencemaskanmu." Jawab Mina yang kembali menunjukan sisi aslinya.

Mendengar itupun Jeongyeon tersenyum lebar. Sontak orang orang kembali dikejutkan terutama Mina.

"Mengapa kau tertawa? Tak taukah kau betapa aku hampir gila mencarimu!" Mina memukuli tubuh Jeongyeon.

"Hahaha maafkan aku.. Maafkan aku.." Jeongyeon menahan kedua tangan Mina dan kembali memeluknya.

"Aku sudah kembali.. Jadi jangan khawatir lagi.." Ia mengelus lembut kepala Mina.

"Nyonya, bukankah sifatnya sudah sangat berubah dan melenceng? Saya rasa ia harus segera di reset." Ucap Greg.

Mina menoleh ke arah Greg lalu perlahan kembali menatap Jeongyeon.

"Bagaimana kau berubah begitu berbeda?" Tanya Mina.

"Seseorang menolongku dan mengajarkan banyak hal baru." Jawab Jeongyeon.

"Siapa itu??" Mina terlihat cemburu.

"Dia pasti sudah terkontaminasi, Nyonya. Kita harus segera meresetnya." Ucap Greg.

*Greb.

Jeongyeon menahan pinggang Mina dan perlahan memajukan dirinya untuk mencium bibir Mina.

*Cup.

Mina yang awalnya cukup kaget menjadi terlena dengan lembutnya ciuman yang Jeongyeon berikan. Setelah beberapa saat, Jeongyeon melepaskan tautannya.

"Apakah kau menyukai perubahanku?" Tanya Jeongyeon.

"..." Mina terdiam. Ia masih mencerna ciuman luar biasa yang baru saja ia terima.

"Nyonya, saya khawatir ia telah mengetahui segalanya." Ucap Greg.

"Diam pak tua, aku sedang berbicara dengan pacarku." Ucap Jeongyeon yang membuat Mina terbelalak.

"Mwo?" Kaget Mina.

"Bukankah itu yang kau inginkan, Mina?" Pertanyaan Jeongyeon membuat Mina terpaku.

"Kau hanya menginginkan aku untuk menjadi milikmu dan kita bisa bersama sama selamanya. Mina, kau tidak ingin aku menjadi boneka pembunuhmu. Mengapa kau mengotakatik isi kepalaku kalau bukan karena pria tua itu??" Jeongyeon menunjuk Greg.

"Nyonya, Project 100 tampak sudah begitu eror. Kita harus segera membetulkannya." Ucap Greg.

"Aku bukan robot! Aku tidak butuh diperbaiki! Sifat dan sikap ini, semuanya sangat manusiawi. Peduli, menyayangi, bersikap lembut, semua itu adalah sifat asliku!! Kau merubahku menjadi makhluk berdarah dingin dan mengotori tanganku dengan obsesimu!" Jeongyeon beralih marah ke arah Mina.

"Sadarlah, Mina!! Akuilah jika kau suka dengan perlakuanku tadi!!" Ucapnya.

"Yang kau tunjukan selama ini bukanlah cinta melainkan obsesi!! Berhentilah mendengarkan apa yang pria tua ini katakan!! Pakailah hati nuranimu yang selama ini kau tinggalkan!" Lanjutnya.

"Mari kita bicara." Ajak Mina sambil berjalan ke dalam.

"Baiklah, tapi pak tua ini tak boleh ikut campur lagi." Jeongyeon menembak Greg dengan pistol listrik sehingga ia pingsan.



.
.
.






"Bagaimana kau selamat?" Tanya Mina yang kembali menunjukan sifat lamanya.

"Seorang gadis muda menemukanku yang pingsan di sebuah gang kecil." Ucap Jeongyeon yang langsung membuat hati Mina panas.

"Waktu itu saat kerusuhan teroris di jalan raya Seoul, aku pernah tak sengaja menolongnya dan dia mengingatku. Dia meminta bantuan pamannya yang tinggal tak jauh dari situ. Nama pamannya adalah Bae Gooyoung." Mendengar itupun Mina terbelalak.

"Ya, aku sudah tau semuanya. Semua yang terjadi mengenai kita dan orang tua kita. Terima kasih telah menyembuhkan aku dari kelumpuhan, Mina. Tapi jalan hidup ini bukanlah jalan yang aku inginkan. Mengapa kau begitu tega memperlakukanku seperti selama ini dan menjadikanku mesin pembunuhmu?? Kau membuat aku mengotori kedua tanganku dengan membunuh begitu banyak orang. Terlepas dari mereka bersalah atau tidak, aku tak pernah menginginkan semua ini. Kekuatan ini adalah kutukan bagiku. Kau membuatku membenci diriku sendiri, Mina. Aku membencimu." Ucapan Jeongyeon membuat hati Mina begitu sakit.

"Lalu mengapa kau bersikap manis dan menciumku?" Tanya Mina sambil terkekeh.

"Aku hanya ingin menunjukan bahwa perlakuan seperti itu dapat kau dapatkan dariku jika saja kau tidak memperbudakku dengan serum itu." Jawaban Jeongyeon membuat Mina kesal.

"Ini semua pasti disebabkan oleh gadis yang kau temui itu! Kau pasti telah jatuh cinta padanya!!" Tuduh Mina.

"Mina.. kau sungguh terobsesi padaku ya.." Jeongyeon terkekeh.

"Tertawalah sepuasmu, Jeongyeon.. Karna sebentar lagi kau akan aku kembalikan menjadi milikku sepenuhnya." Mina menyeringgai.

MarionetteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang