Cemas dan takut adalah dua hal yang menemani Mia belakangan ini. Tidak. Bukan belakangan ini tapi mungkin selama ini, selama hampir dua belas tahun. Ketakutan yang membuatnya lupa, ketakutan yang kembali mengingatkannya. Kadang Mia bertanya apa yang membuat dirinya lupa waktu itu? Kenapa dia tidak melupakan semuanya saja, tak perlu mengingat lagi. Kenapa dia harus ingat lagi?
Anak laki-laki itu menyapa hampir setiap malam saat ia mulai memejamkan mata. Itu saat-saat paling buruk. Pelukan mami dulu sangat menenangkan. Nyanyian pengantar tidur yang dilantunkan lewat suara merdu mami bisa membawanya kembali ke alam mimpi. Setiap mami memeluknya anak laki-laki itu tidak datang. Namun saat Mia beranjak besar, pelukan mami tidak lagi cukup.
Di dunia nyata ada yang paling Mia takuti juga. Beberapa hal yang mengingatkannya pada kejadian dulu. Taman bermain, ayunan, basket lalu yang paling ia takuti... Darah. Beberapa orang memang takut pada darah, tidak bisa melihat darah tapi rasanya Mia yang paling parah. Kepala Mia langsung pusing saat melihatnya. Rasa besi, bau anyir dan warna merah yang baginya sangat menakutkan. Jantungnya akan berdetak lebih cepat, keringat dingin bercucuran, perutnya mulas, ia mulai tak bisa bernapas lalu yang terburuk ia bisa hilang kesadaran. Sedikit atau banyak tak ada bedanya.
Perlu waktu baginya untuk mulai terbiasa. Mengunjungi taman, mencoba bermain ayunan lalu juga mencoba main basket karena Nina sangat menyukai permainan itu. Sekarang dia sudah tidak apa-apa kecuali kalau dia kembali ke tempat kejadian perkara atau saat melihat darah. Rasanya cairan merah pekat itu sudah menjadi ketakutan terbesarnya. Itu sebabnya sejak awal dia menghindari Adrian. Laki-laki itu akrab dengan darah.
Selintas, ia kembali mengingat anak laki-laki yang kepalanya terluka, rintihan kesakitannya dan tatapan netra sewarna madunya yang cemas. Lalu ingatannya beralih ke gudang tua. Tatapan netra madu itu tak berubah. Teduh dan seperti mencemaskannya.
Mia pasti salah mengingat. Anak laki-laki itu tak mungkin mencemaskannya. Dingin. Tatapan itu dingin. Marah. Anak laki-laki itu marah. Gara-gara Mia ceroboh, dia terluka. Mia memang bodoh. Harusnya Mia mendengarkan saran Kirana yang menyuruhnya pulang. Harusnya Mia ingat nasihat papi yang tak membolehkan naik ayunan sambil berdiri. Harusnya Mia bisa hati-hati jadi dia tidak akan jatuh.
Aku akan menangkapmu.
Anak laki-laki itu berjanji akan menangkapnya kalau saja ia terjatuh. Anak itu juga berjanji akan memberi tiga es krim stroberi kalau Mia berani mencoba. Tapi, anak itu juga yang menyangkal semua yang terjadi. Memarahinya, mengusirnya. Kenapa? Apa salah Mia? Mia cuma menuruti permintaannya. Apa dia marah karena Mia tidak melakukannya dengan benar? Atau dia marah karena Mia membuatnya terluka? Membuatnya gegar otak dan tak sadar selama dua hari. Membuatnya hampir terbunuh dan mati.
Lalu sekarang apa yang diinginkan laki-laki itu darinya. Bukankah masalah mereka sudah selesai? Keluarganya melayangkan tuntutan hingga papi yang melindunginya sempat dipenjara selama beberapa hari. Papi yang harus kehilangan pekerjaan, mami yang dilanda kesedihan karena suami yang terjerat masalah dan kehilangan bayinya, nini yang marah padanya dan jatuh sakit lalu meninggal. Semua orang menuduhnya pembawa sial karena kemalangan yang datang bertubi-tubi.
Mia sudah menerima hukuman atas kesalahannya, kecerobohannya. Lalu apalagi? Bukankah harusnya Mia juga marah? Anak laki-laki itu tak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Anak itu menimpakan semua kenakalan mereka hanya padanya. Mia harus bertanggung jawab seorang diri. Keluarga anak itu marah, ayahnya sangat galak dan kejam. Orang itu yang sudah memenjarakan papi dan menyakiti mami.
I'm not going to hurt you.
Aku cuma mau berteman.
Bohong! Adrian tidak mungkin mau berteman dengannya. Mia tidak pantas untuk diajak berteman. Mia sakit. Mia merepotkan. Mia hanya bikin malu. Itu yang selalu dikatakan mereka padanya. Keempat sahabatnya memang bodoh karena mau berteman dengannya. Adrian pasti sedang merencanakan sesuatu. Mungkin menghancurkan keluarga Mia di masa lalu belum cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomantikTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
