32. Butterfly Effect

172 1 0
                                        

Adrian menghembuskan napas kasar usai memarkirkan mobilnya. Netra coklatnya melirik mercy milik ayahnya yang sudah terdiam manis di garasi. Sialnya ada satu mobil lagi yang tak seharusnya berada disini. Ini jelas mimpi buruk.

"Opa disini?" tanya Adrian lesu pada satpam rumahnya.

"Tuan besar datang kira-kira sejam yang lalu."

Helaan napas kasar dihembuskannya lagi. Tamat sudah riwayatnya kali ini. Adrian yakin begitu dia membuka pintu utama, dia akan langsung digiring ke ruang kerja, siap buat disidang oleh dua pria paling menakutkan dalam keluarganya. Mendadak langkah kakinya terasa berat. Kalimat yang sudah ia susun buyar. Ia bahkan lupa apa saja yang sudah dikatakan Bobby di telepon padanya tadi.

Adrian memang bodoh. Harusnya dia bertanya pada pengacara keluarga atau om Haikal sekalian. Apa yang bisa diharapkan dari mahasiswa hukum semester empat? Mia yang masih berumur tujuh belas belum terhitung dewasa. Kasus pidana yang menjeratnya harusnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Masalahnya apa keluarganya mau? Ayahnya sangat keras kepala dan punya ego setinggi langit. Ayahnya tidak akan mau mengalah ditambah opa yang suka bertindak sesuka hati, sepertinya akan sulit.

Di saat seperti ini, sempat-sempatnya Adrian merasa kesal karena dilahirkan menjelang akhir tahun. Tahun ini usianya dua puluh tapi itu baru beberapa bulan lagi. Sembilan belas tahun usia yang tanggung, bukan anak-anak atau remaja tapi juga belum terhitung dewasa. Bobby bilang batas usia dewasa dalam hukum bervariasi, ada yang delapan belas, ada pula yang dua puluh satu tahun. Adrian harap usianya sudah termasuk cakap dalam hukum karena kalau ayahnya menolak permintaannya maka dia yang harus melakukannya sendiri dan dia tidak akan bisa melakukannya kalau belum cukup umur.

Damn!

"Aku pikir kamu gak bakalan pulang." Clara menyambutnya dengan kalimat sinis begitu Adrian melintasi ruang tamu. Wanita itu duduk santai dengan kaki yang disilangkan sementara di pangkuannya ada sebuah majalah fashion ternama. Mata sang kakak yang tadinya fokus ke bacaannya kini beralih padanya. Tatapannya setajam silet, membuat Adrian merinding seketika. Mode galak memang lebih cocok buat Clara.

"Aku kan udah bilang gak bakal kabur." Yeaah. Kalau dia kabur masalahnya tidak akan selesai.

Clara mendengus. "Pacarmu kabur tuh." Dia menyindir. "Ninggalin kamu seorang diri buat beresin kekacauan yang udah dia buat." Senyum mengejek tercetak di bibir cerinya.

Adrian menghela napas.

"Maaf buat yang tadi." Adrian tidak mau ada pertengkaran lagi di antara mereka. Meski Clara kadang membuatnya kesal, Adrian menyayanginya. Mereka keluarga.

"Aku sedih sebenernya. Kita sedarah tapi kamu lebih belain orang baru yang statusnya cuma pacar," sindir Clara lagi, telak.

Adrian tersenyum masam. "Aku gak belain dia." Clara mencibir mendengar jawabannya. "She was just trying to help. Aku dikeroyok dan dia cuma mau nakutin para bajingan itu but... She fell and I caught her. That's how I got stabbed."

Netra madu sang kakak melebar, bibirnya hampir meloloskan tawa.

"I know it's ridiculous but that's the truth. It was just an accident. Makanya aku gak mau masalah ini diperpanjang. Lagipula aku udah gak apa-apa sekarang." Ayahnya melaporkan insiden yang menimpanya ke polisi tanpa sepengetahuannya. Andai Adrian tahu, tentu dia akan mencegahnya. Sekarang persoalannya malah jadi lebih rumit.

"Then at least she says sorry."

"She did, even though I don't blame her."

"Dia gak ngomong apa-apa tuh kemaren." Clara melipat kedua tangannya di depan dada terlihat sekali tidak suka. "And how can you just fine with it?" - Adrian baru ingin menjawab tapi Clara langsung mengangkat satu tangannya- "Don't say it. You're blinded by love."

Chained To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang