Dibacanya pelan-pelan ya, kalau bisa jangan lagi sendirian.
Jangan sambil makan atau minum nanti keselek 😁
Kalau gak kuat, pegangan...
♥️♥️♥️♥️
"Sssh..!" Mia mendesis pelan ketika tanpa sengaja jarinya tergores saat membuka kaleng susu coklat yang baru saja diberikan Ivonne.
Sesaat Mia membeku. Sekitarnya terasa hening meski sebenarnya ramai. Ia seperti bisa mendengar jantungnya sendiri yang berdetak sangat cepat. Hidungnya seolah mencium bau anyir darah padahal ini cuma setetes. Setetes cairan merah yang mengalir perlahan, Mia menahan napas, matanya ingin berpaling tapi tidak bisa.
Bola mata hitam pekat itu mengerjap saat sesuatu berwarna putih menutup jarinya yang terluka. Tisu. Jemari lain menekan jarinya yang tergores dengan lembut.
"Gak apa-apa Mi. Ada gue." Ivonne tersenyum padanya. "Lain kali biar gue yang buka aja ya."
Mia tersenyum kecil pada sahabatnya. "Thanks," sahutnya. "Gue bisa buka sendiri kok. Tadi tuh kurang hati-hati aja."
"Iya. Lain kali lebih hati-hati ya."
Rasa hangat seketika meliputi benak Mia. Ivonne membantunya, memahami kelemahannya, tidak menghakiminya. Beberapa orang yang tak paham mungkin akan mengatakan dia berlebihan. Ini cuma luka kecil, bukan apa-apa. Tapi luka sekecil apapun kalau itu berdarah berdampak besar bagi Mia.
"See... You're a strong girl. I'm proud of you." Ivonne membesarkan hatinya.
Detak jantungnya kembali teratur. Napasnya pun tak terasa sesak. Dulu saat tangannya tergores pisau ia kehilangan kesadaran, padahal lukanya juga tidak terlalu dalam. Mami lebih panik melihatnya yang pingsan ketimbang melihat darah yang mengalir dari tangannya. Mia bisa mengatasi ini. Senyum mengembang dari bibirnya. Tadi siang dia juga berhasil menonton pertandingan Nina. Untungnya tak ada insiden yang ia khawatirkan selama jalannya pertandingan.
Bicara soal pertandingan karate, ia juga menyaksikan Adrian berlaga tadi. Matanya hampir tak berkedip lantaran terpana melihat sosok itu. Sesekali bayangan perkelahian dalam gedung tua itu terlintas membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Adrian memang atlet berbakat. Laki-laki itu berhasil mendapat skor tinggi dan melenggang ke babak final yang akan diselenggarakan besok padahal lawannya cukup sulit karena ada perbedaan tinggi yang cukup besar di antara mereka. Nina juga berhasil dan Mia harus menepati janjinya pada Nina, memberi dukungan sampai selesai. Itu artinya dia juga bisa melihat Adrian bertanding lagi besok. Entah kenapa ia tak sabar. Ini pertama kalinya Mia menantikan sebuah pertandingan olahraga, bela diri pula. Meski kemarin Mia sempat mencemaskan Adrian akan kalah tapi melihat performa Adrian tadi sepertinya kekhawatiran Mia tidak beralasan. Adrian punya peluang untuk menang.
"Lo takut darah tapi suka baca detektif conan. Sampai sekarang gue gak habis pikir, kok bisa?" Mia sedikit kaget mendengar celoteh Nina di sampingnya. Ia tak sadar Nina sudah kembali dari toilet dan malah membahas soal phobia dan kesukaannya pada cerita misteri. Mia pasti melamun tadi.
"Self healing Na," jawabnya. "Awalnya takut tapi... Malah ketagihan, seru."
"Gambarnya kadang serem lho."
"Iya sih tapi itu cuma gambar. Di film juga gitu. Itu cuma akting. Palsu. Tau gak, gue pernah beli darah palsu buat self healing dan gue gak takut."
"Wow." Nina memandang takjub.
"Tapi tetep takut yang asli," cicit Mia.
Nina dan Ivonne terkekeh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomansaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
