PROLOG

544 14 0
                                        

Everyone makes mistakes in life, but that doesn't mean they have to pay for them the rest of their life. Sometimes good people make bad choices. It doesn't mean they're bad. It means they're human
-unknown-

"Berhenti... tolong....saya mohon...." Mia terus berteriak dengan suara paraunya, berharap agar dua pria dewasa yang tengah bertindak bengis beberapa meter tak jauh darinya akan luluh dan menunjukkan belas kasihannya.

Sayang, usahanya sia-sia karena dua orang itu tak mempedulikannya sama sekali. Mereka seperti kesetanan melampiaskan emosi pada orang yang sudah membuat mereka sangat kesal. Padahal Mia dan sasaran kekesalan para begundal itu sama sekali tidak punya keinginan untuk melawan. Mia dan sahabatnya yang saat ini tengah dipukuli tanpa bisa melawan sudah mengikuti permainan mereka, membuang jauh harga diri dan tak mempedulikan apapun selain keselamatan dan nyawa. Mia dan sahabatnya hanya ingin pulang. Andai saja mereka tidak tersesat di tempat sepi dan asing, mimpi buruk ini tidak akan terjadi.

"Bisa diem gak lo! Percuma lo teriak-teriak, gak akan ada yang dengerin lo." Orang yang sejak tadi mencengkramnya agar dia tidak bisa melarikan diri ataupun menolong sahabat terbaiknya yang tak berdaya menertawakannya.

"Gue...udah kasih yang kalian mau." Tommy, sahabatnya yang terus dijadikan sasaran pelampiasan amarah sejak tadi berkata lirih.

Benar. Mereka sudah memberikan yang diminta tapi bagi para begundal ini, yang mereka berikan tidaklah cukup. Memangnya apa yang dimiliki pelajar selain uang jajan yang tak seberapa. Tommy bahkan sudah menawarkan jam tangan mewah dan motor pinjaman yang mereka kendarai tapi entah kenapa orang-orang rakus ini tetap tak mau membiarkan mereka pergi.

"Berapa nomor PIN-nya?" Orang yang berjongkok di depan Tommy bertanya. Tangan orang itu sibuk mengacak-acak dompet Tommy, hasil perebutan paksa. "Lo pasti anak orang kaya tapi masa uang jajan lo cuma segini." Orang itu melempar dua lembar uang berwarna ungu ke wajah Tommy.

Tommy, sahabatnya memang anak orang berada. Ayahnya bahkan memiliki perusahaan tapi Tommy tidak pernah membawa uang cash kemana-mana. Sahabatnya biasa bertransaksi dengan kartu atau uang digital. Satu kebiasaan lagi, Tommy selalu diantar sopir kemana-mana. Tapi, hari ini laki-laki itu entah mengapa seperti ingin mencoba sesuatu yang tidak biasa, meminjam motor teman dan mengajaknya jalan-jalan sore. Mia sudah merasa bahagia sebelumnya tapi sekarang....

Mungkin benar apa yang selalu dikatakan papinya. Jangan pernah melawan aturan. Berperilaku di luar kebiasaan bisa jadi termasuk melanggar aturan. Itu pernah terjadi dulu sekali, sesuatu yang meninggalkan bekas dan Mia sesali hingga sekarang.

"Lo gak mau kasih tahu?" Orang jahat itu berkata lagi. Tommy bergeming dan pria yang menginterogasinya kini melirik ke arahnya.

"Pacar lo boleh juga." Senyum miring yang ditunjukkan pria bajingan itu nampak mengerikan. Alarm di kepala Mia pun berbunyi nyaring. Dia sadar sekarang adalah gilirannya. Mereka mungkin sudah bosan dengan samsak hidup.

"Dia bukan pacar gue. Tolong... Gue bakal kasih apapun yang lo minta."

"Gue berubah pikiran. Gue pengen seneng-seneng dulu."

Pria itu menyeringai lagi yang disambut kekehan dan siulan teman-temannya.

Apa? Apa yang dimaksud dengan bersenang-senang?

Mia tercekat ketika pria jahat yang nampaknya tertarik padanya itu mulai mendekat. Di sebelah sana, Tommy memaki dan berteriak namun lagi-lagi disambut tendangan agar laki-laki itu diam dan menutup mulut.

Rasa takut mencengkram jiwanya, Mia menggelengkan kepala, menolak pada apapun yang hendak para bajingan ini lakukan terhadapnya.

"Masih kecil sih. Apa lo beneran anak SMA? Kayaknya masih polos nih. Pasti lo belom pernah disentuh cowok kan?"

Chained To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang