Kedua netra beningnya mengerjap, menatap kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya. Entah bagaimana caranya Mia bisa berada di sini, dalam hatchback merah kesayangan Adrian. Ingatan beberapa saat yang lalu terasa samar. Ingatan paling kuat adalah dirinya yang tengah berbincang bersama Adrian sembari menikmati es krim di kediaman Arthadinata.
Harusnya Mia tidak pergi kesana meski sangat ingin melihat keadaan Adrian yang katanya sedang sakit. Mia tak bisa mengabaikan Adrian. Mia masih merasa bersalah, merasa bertanggung jawab setidaknya sampai Adrian benar-benar sembuh. Tanpa berpikir dua kali, Mia menyetujui ajakan Eric, menjenguk Adrian di rumahnya. Apartemen milik kedua bersaudara itu adalah yang terlintas di benaknya. Siapa sangka Eric membawanya ke sebuah rumah mewah yang ternyata mansion Arthadinata.
Tentu saja Mia ketakutan, cemas akan bertemu Surya atau Clara Arthadinata. Kedua orang itu bagian dari mimpi buruknya selama bertahun-tahun. Adrian pengecualian karena rasa takut itu sudah sirna tak berbekas. Mia baru merasa lega saat Adrian mengatakan ayah dan kakaknya berada di kantor. Sialnya, Clara muncul tiba-tiba tepat dimana Mia tengah membahas kesalahan fatalnya.
Ini ketiga kalinya kita ketemu
Aku gak gigit kok kecuali kamu gigit duluan atau kalo kamu gigit adikku
Menusuk orang adalah kejahatan serius, meski itu tidak disengaja
Clara Arthadinata. Wanita itu mengingatnya. Clara tahu siapa Mia. Dengan ketenangan dan senyuman di bibir, Clara mengancam secara tersirat. Clara mengingatkan kalau kecerobohan Mia kemarin terhadap Adrian adalah kejahatan serius dan Clara tidak akan melepaskan Mia. Clara benar. Adrian bisa saja mati di tangan Mia. Dia bisa jadi pembunuh.
Kamu yang bikin kepala adikku berdarah?
Pembunuh! I'm gonna tell my dad.
Kedua matanya memejam. Sebelah tangannya meremas kemeja yang dipakainya. Ingatan yang lain ikut datang. Saat itu Clara masih sangat muda, mungkin Clara juga cuma asal bicara tapi yang dikatakannya juga tidak salah. Mia bisa saja membunuh adiknya dan Mia melakukannya lagi kemarin.
"Are you alright?" Suara selembut beledu itu menyapa. Mata Mia terbuka, menoleh. Adrian menatapnya cemas.
Mia mengurai senyum tipis, menggeleng pelan. Adrian kembali pada kemudi. Hening. Sejak tadi mereka tak bicara. Adrian juga tidak menyetel radio seperti biasanya.
Tak lama, Adrian menghentikan mobilnya di pelataran parkir sebuah minimarket. Bukan minimarket yang sama seperti malam nahas itu tapi tetap saja membuat tubuh Mia menggigil. Mia ingin sekali memberi tahu Adrian kalau ia merasa tak nyaman. Ia ketakutan, cemas datang melingkup benaknya. Namun, mulutnya seperti tak mau membuka. Mia mendadak tak bisa bicara.
Adrian keluar dari mobil, tidak masuk ke dalam minimarket melainkan menelepon entah siapa. Kelihatannya pembicaraan mereka cukup serius. Dahi laki-laki itu berkerut. Beberapa kali Adrian memijat keningnya dengan jemarinya. Adrian juga berulang kali terlihat menghela napas. Sesekali Adrian mengusap wajah pucatnya. Kasihan. Harusnya Adrian beristirahat di rumahnya. Mia datang untuk menjenguk, membawa buah-buahan mungkin sedikit menghibur laki-laki itu tapi nyatanya Mia malah datang membawa masalah lagi.
Mia terkesiap kala ingatan lainnya muncul, bagaimana akhirnya dia bisa berada di mobil ini. Adrian memapahnya keluar tapi Mia begitu lambat. Kakinya lemas dan tubuhnya gemetar parah lantaran mendengar perdebatan kakak adik yang membahas kesalahan bodohnya. Adrian akhirnya melakukan sesuatu yang membuat Mia merasa malu setengah mati sekarang, menggendongnya. Bukan itu saja, Mia bahkan bergelung nyaman di dadanya. Apa yang dia pikirkan waktu itu? Kenapa Mia bisa setidak tahu malu itu? Apa sebaiknya Mia kabur saja ya? Rasanya dia tidak sanggup bertatapan dengan Adrian lagi. Tapi kalau Mia melarikan diri, bagaimana dengan masalah yang sudah ia buat. Clara sudah tahu siapa pelaku yang menusuk adiknya. Kejahatannya sudah dilaporkan. Mia akan berakhir di penjara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
Storie d'AmoreTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
