Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Adrian mengerang pelan. Tadinya ia berniat mengabaikan entah siapa pengganggu itu tapi ketukan tak henti dan tak menyerah itu mulai mengusiknya.
Menghembuskan napas kasar, Adrian lekas bangun dari posisi ternyamannya. Kepalanya berdenyut nyeri akibat tindakan tiba-tiba itu. Padahal dia sudah bilang ingin istirahat dan tak mau diganggu. Flu yang dideritanya sejak kemarin bertambah berat. Tubuhnya bahkan mulai demam. Hidungnya juga sulit bernapas karena tersumbat. Benar-benar tersiksa.
Dia tak mengerti kenapa tubuhnya jadi selemah ini. Adrian jarang sekali sakit. Dia rajin berolah raga, menjaga pola dan asupan makannya serta istirahat cukup, biasanya. Akhir-akhir ini Adrian memang makan sembarangan dan kurang istirahat. Olahraga? Tentu saja tidak. Selain masih dalam masa pemulihan, kuliahnya juga padat, tugas menumpuk dan masalah yang masih membuatnya ketar-ketir. Mungkin itu sebabnya daya tahan tubuhnya menurun dan flu langsung menyerangnya.
Dengan lunglai, Adrian beranjak membuka pintu kamarnya. Netra sewarna madunya membulat begitu melihat sosok di balik pintu. Tidak mungkin!
"Mia?!" sapanya terkejut.
Bagaimana bisa gadis ini disini? Di rumahnya? Ya. Adrian berada di rumah. Clara memintanya tinggal di rumah karena melihat kondisinya yang kurang baik.
"Ha-halo kak." Mia tersenyum kikuk.
For God sake, Mia tidak akan berani dan tidak akan pernah mau ke rumahnya. Bukan. Mia bahkan tidak tahu dimana letak rumahnya. Apa yang dilakukan Mia disini? Apa yang dipikirkan Mia?
"Ka-kamu ngapain? Kok bisa disini?"
"Kak Eric bilang kakak sakit. Oh aku bawain kakak buah." Mia menyodorkan sekeranjang buah-buahan yang ada di tangannya.
"Eric?"
Adrian tak mengerti awalnya sampai dilihatnya sepupunya itu melintas sembari cengar cengir.
"Tunggu sebentar," ujarnya seraya menggeser tubuh Mia lalu mengejar Eric yang terburu-buru ingin turun ke lantai satu.
Lekas ditariknya bagian belakang kaos Eric, hampir membuat sang sepupu terjengkang. Tubuh itu pun diputarnya hingga mereka saling berhadapan. Adrian menyeringai sebelum mencengkram bagian depan kaos yang dipakai Eric dan memberikan tatapan tajamnya.
"Kenapa lo bawa dia kesini?" Ia mendesis, merendahkan suara agar Mia tak mendengar.
"Biar lo cepet sembuh lah." Eric menjawab santai meski raut wajahnya berubah panik.
Adrian mendelik.
"Dia kan pacar lo. Gue kasihan lihat lo. Abis ketusuk, baru juga cabut jahitan eh kena flu."
"Ya gak bawa dia kesini juga, Ric. Ini di rumah! Are you insane? Kalau ayah lihat gimana?"
"Om Surya pulangnya malem kan. Ini masih siang, Yan. Tenang aja sih."
Helaan napas lelah ia hembuskan. Sepupunya kadang sok tahu dan membuat masalah yang sudah rumit makin tambah kusut. Entah apa yang ada di dalam otak Eric saat mengajak Mia kemari. Dilepaskannya Eric karena sadar kemarahannya tak berguna. Mia sudah ada disini, sudah terlanjur.
"Cepet sembuh ya." Eric menepuk pundaknya dan bergegas turun. Mungkin takut Adrian akan mengamuk.
Adrian hanya bisa menoleh pasrah ke arah gadis yang masih menunggunya dalam diam.
"Turun yuk," ajaknya. "Oh, sini biar aku bawa aja." Adrian mengambil alih keranjang buah itu dari tangan Mia. "Makasih buat buahnya ya."
Gadis itu menjawab dengan senyuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomansaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
