40. Lovesick

156 0 0
                                        

Adrian kembali meneguk minumannya. Pandangannya lurus ke depan, ke arah sang kakak dan Cindy yang sedang bercengkrama bareng tante-tantenya dan tamu lain. Gadis yang memakai off shoulder midi dress berwarna biru itu tampak sumringah. Senyum dan tawa menghiasi wajahnya. Sementara Adrian merasa bosan setengah mati di tengah hiruk pikuk pesta ulang tahun sang kakek. Satu hal yang ia syukuri, Cindy tidak jadi memakai gaun merah seksi itu. Tentu saja Cindy tidak akan berani. Om Gunawan, papa Cindy tidak akan mengizinkannya. Lucunya, Cindy memakai gaun yang Adrian pilihkan sebelumnya. Entah kapan Cindy membelinya.

"Jangan kebanyakan minum lo, ntar mabok." Eric menegurnya. Di tangannya ada segelas wine, minuman favorit sang sepupu. Jelas-jelas Eric yang akan mabuk setelah ini.

"Mana ada orang mabok minum fanta. Yang ada kembung atau kena diabetes." Adrian kembali meneguk sodanya.

Eric tertawa. "Kusut amat muka lo. Temenin noh pacar lo."

Adrian tersenyum tipis. "Dia lagi happy kayaknya. Gue gak mau ganggu." Adrian menoleh ke arah sepupunya yang ajaibnya datang tanpa partner malam ini. "How's Katrin?"

"Baik. Gue ajak kesini dia gak mau. Kakinya masih sakit katanya." Untunglah luka Katrin setelah jatuh dari tangga tidak serius, hanya kaki yang terkilir dan beberapa memar.

"Stella?"

"Dia tetep kekeuh bilang Katrin jatuh sendiri. Dia gak mau minta maaf karena menurut dia itu bukan salahnya."

Katrin dan Stella memang bertengkar, saling mendorong dan mencakar yang berakhir dengan Katrin terjatuh dari tangga. Rasanya ada yang salah disini dan dia terlambat menyadarinya. Setahu Adrian, Katrin bisa bela diri. Jadi, bagaimana bisa gadis itu dengan mudahnya jatuh dari tangga? Adrian tidak tahu apakah Stella juga bisa tapi kalau seandainya Stella bisa, rasanya perkelahian itu bakal lebih brutal lagi. Kalau Stella ternyata tidak bisa bela diri, Katrin harusnya bisa mengatasi itu dengan mudahnya. Sebelumnya, mereka bahkan sempat cakar-cakaran. Itu lebih aneh lagi. Rasanya ada yang janggal dengan kedua cerita itu.

"Katrin minta gue tegas sama Stella. Gue lakuin. Dia bilang Stella jahat." Eric menarik napas. "Gak ada yang lihat, gak ada CCTV juga. Dua-duanya yakin sama-sama bener. Mungkin Stella emang ngedorong tapi gak sengaja. Masa sih dia mau nyelakain orang cuma gara-gara hal sepele. Cuma gara-gara Katrin hapus chat dan matiin telpon dari Stella."

"Terus... Soal perasaan Katrin. Lo mau gimana?" Pertengkaran Stella dan Katrin telah membongkar isi hati Katrin yang sesungguhnya. Katrin memang menyukai Eric. "Lo bilang kan lo mau jaga jarak sama dia."

Adrian tidak mengatakan soal kecurigaannya karena bisa jadi semua asumsinya tadi itu salah. Ada sesuatu dalam diri Katrin yang membuat Adrian selalu waspada pada gadis itu, entah apa, dia tak bisa mendeskripsikannya dengan pasti. Mungkin semacam firasat. Clara bilang Adrian punya kemampuan menilai orang lain tapi bisa saja itu hanya perasaannya.

"Gue udah bilang kok sama dia meski gue gak bisa langsung tiba-tiba menjauh juga, apalagi situasinya lagi kayak gini. Dia kan lagi sakit. Gue juga minta dia supaya berhenti campurin urusan pribadi gue."

"Hold on... Emangnya dia pernah?"

"It wasn't the first time. Sebelumnya juga... sama mantan-mantan gue... dan sama semua cewek yang nyoba deketin gue. Apa gara-gara ini ya orang jadi mikir gue hobi gonta ganti cewek."

"You never told me that."

Eric terkekeh. "She doesn't wanna loose me. How's cute is that?"

"Well... It's cute when you have the same feeling for her."

"No." Eric menggeleng. "Sebagai teman dia seru tapi kalau dijadiin pacar kayaknya enggak deh. Lagian gue belom mau hubungan serius, terikat itu ribet. Gue gak suka diatur dan diribetin. Pokoknya kalau udah mulai maksa, nuntut, ngambek, gue tinggal." Sepupu brengseknya itu menyeringai lalu menyesap gelasnya lagi.

Chained To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang