Beasiswa Mia dipulihkan kembali. Mereka beralasan ada kesalahan data dan informasi sebelumnya. Alasan yang aneh karena Mia dan Ivonne sempat berargumen sebelumnya dan mereka ngotot tak ada kesalahan sedikit pun. Perintah langsung dari pusat. Keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Namun hanya dalam waktu dua hari semuanya berubah. Kekuatan orang dalam begitu Tommy bilang. Tak ada yang perlu Mia cemaskan. Hal semacam ini tidak akan terjadi lagi.
Rasanya Mia mau tertawa saja. Mereka bilang Mia gadis polos, lugu tapi dia bukan gadis bodoh. Ada sesuatu yang mencurigakan disini, pasti. Hanya saja Mia tak tahu apa itu. Kalau mau merunut ke belakang semuanya memang terlihat ganjil. Memikirkannya membuat perut Mia melilit. Jantungnya berdegup kencang, paru-parunya jadi sulit untuk bernapas. Cemas dan takut, Mia tidak tenang. Pikiran Adrian harus melakukan sesuatu agar dirinya bisa tetap menghirup udara bebas terus berkelebat. Apa semua ini berhubungan?
"Kak Ian lagi kesulitan kan?" Mia akhirnya bertanya pada Eddie. Ia tidak tahan lagi. Bagaimana bisa ia tetap diam sementara orang lain tengah kesusahan gara-gara dirinya.
"Lagi puyeng karena banyak job. Karir Grey lagi menanjak naik nih." Jawaban Eddie malah tidak nyambung. Kalau banyak job kan harusnya senang, Grey bakal terkenal dan mendapat banyak uang, tapi Adrian sudah punya banyak uang dari lahir jadi mungkin itu biasa saja buat laki-laki itu.
"Ed, gue serius. Lo pasti tahu sesuatu. Kak Eric sendiri yang bilang kalau kak Ian lagi banyak masalah." Eric tidak mengatakan tepat seperti itu tapi selalu ada pesan tersirat dari candaannya.
"Mi, lo gak usah pusing mikirin masalah orang. Bukan urusan lo."
"Gimana kalau masalahnya kak Ian ada hubungannya sama gue?"
"Kenapa harus ada hubungannya sama lo?"
"Ya gak tau." Mia bingung bagaimana menjelaskannya. "Feeling gue gak enak."
"Gak ada hubungannya sama lo. Manusia hidup pasti ada aja masalahnya. Orang kaya juga punya masalah. Masalah gue ya gak punya duit."
"Eddie!" Mia tambah kesal karena jawaban Eddie ngawur terus.
"Orang yang nyebarin gosip kemaren langsung dituntut. Masa gue yang hampir bunuh orang gak diapa-apain." Akhirnya Mia terpaksa mengungkit masalah yang sebenarnya ingin dia lupakan. Sekeras apapun usahanya untuk melupakan kecerobohan bodohnya itu, Mia tetap tidak bisa lupa dan dia masih merasa tidak enak.
Eddie terdiam. Mia juga diam. Sahabat sejak SMPnya itu menghela napas pelan.
"Lo harusnya bersyukur. Udah... gak usah dipikirin. Udah lewat juga, Mi," ujar Eddie kalem.
Giliran Mia yang balik menghela napas. Usahanya membuat Eddie bicara sia-sia. Tommy tidak tahu apa-apa, Ivonne pun sama. Adrian lebih dekat dengan Eddie dan Bobby daripada Tommy. Adrian bisa saja pernah bercerita pada dua sahabatnya. Apa Mia harus tanya pada Bobby? Mia tidak mungkin menanyakan ini pada Eric. Mia tidak berani. Akhir-akhir ini Eric suka sekali menyindir, tatapan matanya juga seperti menuduh Mia sebagai biang masalah. Eric sepertinya menyalahkankannya. Kalau Mia berani mengungkit ini pada Eric, Mia yakin dia akan langsung dimarahi.
"Gak usah khawatir sama orang yang gak pantas dipeduliin, Mi." Nina yang tadinya cuma mendengarkan dan lebih asyik menikmati santap siangnya ikut bersuara. Mereka ada di kantin teknik. Mia sengaja datang kesini karena tak mau pembicaraannya diganggu Tommy atau Ivonne.
"Coba buka hape lo. Adrian lagi seneng-seneng sama ceweknya. Lo terlalu overthinking. Dia sama sekali gak kelihatan susah. Mesum iya."
"Mesum?"
"Lo ngomong apa sih, Na?" Satu hal yang unik di antara sepasang kekasih ini adalah mereka tidak ber-aku kamu seperti pasangan lain. Apa hubungan kekasih yang awalnya dari persahabatan memang begini ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomansaTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
