Adrian menatap lesu dua anak yang berlarian di hadapannya. Riuh tawa sepasang anak itu menandakan kalau mereka sangat menikmati permainan apapun yang tengah mereka mainkan. Dulu... Dia juga seperti itu bersama seorang gadis yang baru saja ia temui beberapa menit yang lalu, sebelum ia menghancurkan semuanya.
Penyesalan itu masih ada, kebodohan dan kesalahan itu masih terus membayangi. Tak sedetik pun Adrian lupa. Melihat keadaan Mia yang ketakutan saat melihatnya tadi kian menambah rasa bersalahnya. Adrian kira Mia akan senang bertemu dengannya. Nyatanya gadis itu malah lari darinya, seolah Adrian adalah monster atau mimpi buruk yang hidup.
Adrian memang mimpi buruk bagi Mia, selamanya mungkin akan tetap begitu.
Mia tidak baik-baik saja. Persis seperti yang disampaikan Tommy padanya, tepat seperti perkiraannya. Kejadian kemarin di gudang tua pasti sangat mengguncang batin gadis itu. Mia bahkan sempat mengatakan akan pergi jauh asal Adrian tetap hidup. Yang benar saja! Apa artinya dia hidup kalau Mia tidak berada di sisinya. Itu sebabnya dia mengambil langkah nekad ini, selain karena ia mencemaskan keadaan Mia, ia juga tidak mau kehilangan Mia.
Usahanya untuk menebus kesalahan dan memperbaiki keadaan sudah sejauh ini tapi gara-gara dua orang sinting sepertinya usahanya akan kembali ke titik nol. Tommy terlalu yakin kalau kali ini Adrian bisa menyelamatkan Mia. Padahal Adrian bahkan tidak tahu harus melakukan apa ditambah dialah trigger-nya. Apakah seseorang yang menjadi sumber masalah bisa membantu untuk menyembuhkan?
Pertemuannya dengan Hermawan semakin membuatnya gamang. Pria itu tak berubah, masih tetap dingin dan tak menyukainya. Hermawan langsung mengusirnya tanpa memberi Adrian sedikit pun kesempatan untuk menjelaskan maksud kedatangannya. Harusnya Adrian langsung menemui Mia tapi ada beberapa hal yang membuatnya ragu. Harusnya Adrian bersikeras untuk tidak pergi tapi ia tak bisa berkata apa-apa saat Hermawan menyindirnya telak.
"Bukannya kamu udah janji gak akan ganggu anak saya lagi? Ternyata perkataan kamu gak bisa dipegang."
Bodoh! Kenapa waktu itu ia menjanjikan hal yang tak akan mungkin bisa ia tepati? Kenapa waktu itu ia bicara sembarangan tanpa dipikir dulu?
Adrian bisa saja bersikap tidak tahu malu dan menerobos masuk untuk menemui Mia. Masa bodoh dengan janji. Terserah kalau Hermawan akan semakin marah lalu memberinya bogem mentah seperti yang pernah dilakukan pria itu sebelumnya. Namun pria yang biasanya garang itu malah memohon padanya. Kontras dengan sindir pedasnya saat di awal. Pria itu memohon demi putrinya yang sedang sakit. Hermawan meminta Adrian untuk tak lagi menambah beban pikiran Mia, meminta Adrian untuk menjauh dan melupakan Mia.
"Biar saya yang mengurusnya. Dia bukan tanggung jawab kamu."
Salah! Mia adalah tanggung jawabnya. Semua hal yang terjadi pada gadis itu kemarin berhubungan dengannya. Adrian masih harus membayar hutangnya. Adrian masih harus memperbaiki kekacauan yang sudah diperbuat. Dia tidak bisa pergi begitu saja. Selain itu, Adrian sayang Mia. Jadi bagaimana bisa ia diminta untuk melepaskan dan melupakan gadis itu? Dia tidak bisa.
Suara kencang tangisan seorang gadis kecil membuyarkan ramai pikirannya. Gadis kecil yang sebelumnya berlarian dengan gembira tadi terjatuh sementara temannya terlihat berusaha menenangkan sang gadis kecil. Adrian baru saja ingin menghampiri gadis kecil itu ketika dua orang dewasa yang sepertinya ibu mereka datang dan mengendalikan situasi. Adrian tersenyum tipis saat mendengar permintaan maaf si anak laki-laki yang mengaku tak sengaja mendorong gadis itu. Anak itu lebih berani dari dirinya dulu.
Napas kasar Adrian hembuskan ketika netranya menangkap benda yang mengingatkannya pada masa lalu. Ayunan itu berbeda dengan yang dulu. Taman ini juga banyak berubah tapi ingatan di otaknya selalu sama. Mia selalu menghindari taman ini bahkan taman bermain lain yang tak ada hubungannya. Mia benci ayunan. Mia tak bisa melihat darah. Sementara Adrian tak merasa takut sedikitpun pada taman ini, pun pada cairan merah yang amat ditakuti Mia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chained To You
RomanceTrauma di masa lalu membuat Amelia Renata (Mia) menghindari apapun yang berhubungan dengan darah. Cairan merah mengerikan itu selalu membuatnya panik dan ketakutan. Maka ketika Adrian Arthadinata masuk dalam lingkaran pertemanannya, Mia berusaha men...
