64. The Past And The Future

202 2 0
                                        

"Don't pull a stunt like that again. Apa sih yang ada di pikiran kamu? That was really stupid."

Mia tercekat. Bagaimana bisa dia dimarahi oleh orang yang baru saja dikenalnya beberapa saat lalu. Padahal dia memberanikan diri untuk bicara dengan orang ini bahkan membawakannya coklat yang konon katanya adalah camilan favoritnya demi untuk mengucapkan terima kasih.

"Kakak juga melakukan hal yang sama, itu berarti kakak juga bodoh, kan?" Mia menutup mulutnya sendiri usai melontarkan kekesalannya.

Biasanya dia tidak seperti ini. Biasanya dia tidak seberani ini. Ini sangat aneh tapi lebih aneh orang di hadapannya yang menertawakan protesnya. Semakin aneh lagi saat orang itu membungkuk dan mendekatkan wajahnya, membuat napas Mia tercekat karena terlalu terkejut. Sesaat Mia terhanyut pada sorot lembut netra sewarna madu itu pun pada aroma mint yang menguar dari tubuhnya.

"Aku menyelamatkan kamu dua kali. Jangan sampai aku melakukannya lagi untuk ketiga kalinya."

Matanya mengerjap sementara orang yang baru saja membuatnya terkejut hingga jantungnya berdebar kencang itu hanya tersenyum. Senyum yang teramat manis, ramah dan terkesan tulus.

"Makasih buat coklatnya."

Mia mendengus usai ingatan itu kembali berkelebat di benaknya. Mimpinya semalam. Sebenarnya itu mungkin bukan benar-benar mimpi karena percakapan itu pernah terjadi sebelumnya. Seminggu setelah kejadian mengerikan yang ia alami bersama Tommy di gudang tua. Pertemuannya kembali dengan malaikat penolongnya di rumah Eddie. Siapa sangka kalau dunia ternyata tidak seluas itu atau bisa jadi benang merah di antara mereka memang sudah terjalin jadi Mia tidak akan bisa lari, begitu juga dengan Adrian.

Adrian mengatakan kalau dirinya bodoh karena hampir menyerahkan nyawa demi menyelamatkan Tommy, sahabat baiknya. Nyatanya Adrian lebih bodoh karena melakukan tindakan berbahaya serupa berkali-kali demi nyawanya. Kenapa Mia tidak mengingat bagian itu ya? Bagian saat Adrian mengatakan kalau dirinya sudah menyelamatkan Mia dua kali. Itu petunjuk yang jelas soal identitas Adrian selain es krim stroberi favorit Mia yang bisa diketahui laki-laki itu tanpa ada yang memberitahu.

Jangan sampai aku melakukannya lagi untuk yang ketiga kalinya.

Mia kembali mendengus. Jadi tindakan ekstrem itu cuma boleh dilakukan Adrian bukan dirinya, begitu? Harusnya Mia yang bertanya kenapa Adrian berani bertindak sejauh itu? Ah, tentu Mia tahu benar jawabannya. Cinta. Perasaan yang bisa mematikan akal sehat dan logika. Berapa banyak hal yang sudah dilakukan Adrian untuknya? Sebaliknya Mia tidak melakukan apa-apa. Tidak bisa memberikan apapun selain kesialan dan tumpukan masalah.

Adrian bilang ingin menebus kesalahannya. Ini penebusan dosa tapi rasanya ini jauh lebih mengerikan dan menyakitkan karena ada perasaan lain yang terlibat. Lalu bagaimana dengan Mia? Apa yang bisa Mia lakukan untuk menghilangkan rasa bersalahnya?

Ini membuatnya frustasi. Rasanya Mia ingin sekali marah entah pada siapa tapi dia justru cuma bisa terdiam. Rasa takut dan rasa sedih sepertinya lebih mendominasi. Mia tidak mau melihat Adrian dalam keadaan seperti kemarin lagi. Mia tidak mau kehilangan Adrian. Mengingat bagaimana pucatnya wajah itu, raut kesakitannya, serta darah yang mengotori baju ataupun lantai semen membuat perut Mia kembali mual. Telapak tangannya bahkan mengingat jelas sensasi rasa lengket dari cairan merah itu. Lagi-lagi dadanya seperti terhimpit batu besar tak kasat mata. Ini benar-benar buruk. Ini jauh lebih buruk dari kejadian semester lalu atau bahkan tiga belas tahun yang lalu.

Lamunan dan rasa takutnya menguap begitu Adrian menaruh bantal di pahanya. Mia hanya bisa menoleh pada laki-laki di sampingnya dengan raut bertanya tapi Adrian malah memalingkan wajah dan sedikit berdehem. Tindakan kecil yang tidak Mia mengerti tapi sanggup mengalihkan pikiran buruknya.

Chained To YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang