Keping Tiga Puluh

4.3K 585 97
                                        

Pagi itu Liora terbangun dengan kekosongan. Sendiri dalam kehampaan. Walaupun sudah beberapa hari berlalu sejak kepergian Raka, Liora masih berusaha beradaptasi dengan kesendiriannya.

Embun pekat menyambut Liora ketika membuka pintu ruang tamu. Ia duduk di teras depan rumah, menyaksikan matahari muncul mengusir kegelapan di remang fajar yang tertutup kabut.

Selama beberapa hari ini Liora terus menyibukkan diri setiap hari. Dia pergi jalan-jalan ke mal, berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan, menonton bioskop sendirian, hingga bermain di Game Master atau Timezone. Semua kobodohan itu Liora lakukan semata-mata hanya sebagai bentuk pelarian dari rasa sakit yang menyiksa.

Namun, sebanyak apa pun usaha yang ia lakukan, tidak ada satu pun yang membantu. Pikirannya masih berpusat pada Raka. Ini sudah hari ketujuh kepergian Raka, dan hingga saat ini Liora masih belum mendengar kabar apa pun dari suaminya itu.

Kini, rumah menjadi tempat yang mengerikan baginya. Terlalu mencekam, penuh kenangan, dan membuat Liora merasa sesak karena hanya keheningan yang menyambutnya setiap ia pulang ke rumah. Namun, untuk kembali ke rumah orang tuanya pun, Liora enggan karena tidak ingin kedua orang tuanya tahu masalah yang menimpa rumah tangganya.

Liora duduk di ranjang sambil mendekap t-shirt yang terakhir kali dipakai Raka sebelum laki-laki itu meninggalkannya. Wangi tubuh Raka masih menempel di pakaian itu, membuat Liora terus mendekapnya karena ia sangat merindukan aroma tubuh itu.

"Mbak Lio." Terdengar suara Bi Karsih yang memanggilnya dari luar kamar.

Liora meninggalkan pakaian milik Raka di atas ranjang dan beranjak membuka pintu. "Kenapa, Bi?" tanyanya.

"Ada tamu nyariin Pak Raka."

"Tamu siapa?"

"Bibi nggak tahu, Mbak. Kayaknya temannya Pak Raka."

Liora keluar dari dalam kamar dan menemukan keberadaan Ares sedang duduk di ruang tamu.

"Oh, Mas Ares. Aku pikir siapa," ucapnya sambil duduk di hadapan Ares. "Mau cari Mas Raka?"

Ares mengangguk. "Si Raka ke mana, sih? Aku hubungi hape-nya nggak pernah aktif. Dia ganti nomor?"

Liora terdiam. Dia tidak tahu harus bicara jujur atau berusaha menutupi situasi yang terjadi sebenarnya. Karena bagaimanapun keadaannya, Raka adalah suaminya, sehingga sudah menjadi kewajibannya untuk selalu menjaga nama baik sang suami.

"Sebelum ke sini, aku cari Raka ke kantornya, tapi sekretarisnya bilang Raka nggak ada di kantor, padahal cutinya cuma sampai kemarin, kan?"

"Memangnya ada apa Mas Ares cari Mas Raka?" tanya Liora.

"Aku mau kasih proyekan buat Raka. Lumayan, nih, proyek besar. Siapa tahu aja bisa goal."

"Tapi, Mas Raka nggak ada di rumah. Dia lagi nungguin Ibu di rumah sakit."

"Memang ibunya kenapa?"

Ini dia. Liora tidak tahu harus menjawab apa karena ia pun tidak tahu bagaimana kondisi ibu mertuanya saat ini. "Ibu sakit. Aku nggak tahu diagnosanya apa, tapi, kabar yang terakhir aku dengar, Ibu koma dan harus masuk ruang ICU."

"Itu beneran?" sahut Ares secara spontan. "Kok Raka nggak ngabarin kalau ibunya sakit? Dirawat di rumah sakit mana?"

"Aku juga nggak tahu Ibu dirawat di rumah sakit mana. Bahkan, sampai sekarang aku nggak tahu gimana kondisi Ibu."

Ares terlihat bingung. "Memangnya Raka nggak menghubungi kamu juga?"

Liora menunduk sambil menganggukan kepala. "Kayaknya Mas Raka memang sengaja matikan handphone-nya. Mungkin dia mau fokus ngurusin Ibu sampai Ibu sembuh."

Sebatas Angan SenjaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang