LIMERENCE •9

66 4 0
                                    

ASSALAMU'ALAIKUM
ANNYEONG YEOROBUN

I'm Vita Resti W, you can call me Vita/Vires

FOLLOW, VOTE AND COMMENT
THANK YOU

Semoga kalian suka!

••✫••

"Bumi nggak ada di rumah"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bumi nggak ada di rumah"

Raven mengusap wajahnya kasar. 

"Kata siapa lo, Bang?!" Arjuna menatap nyalang Savior.

"Gue kan sepupunya cok! Tadi mampir, kata Tante Maya Bumi lagi pergi ke luar kota." jawab Savior.

Raven dan Cakra mengangguk paham, Arjuna cengengesan "HEHEHE maap Bang." seraya mengusap tenguknya.

"Yo! Santai."

"Tapi tumben amat tuh anak pergi nggak ngabarin kita-kita?" Tanya Cakra.

Savior yang tengah berdiri di depan kulkas terdiam. Bagaimana caranya ia akan menjawab pertanyaan itu? Ya walaupun itu memang belum di pertanyakan.

"Telepon aja woy!" Sahut Arjuna melirik Cakra, pasalnya ia tengah bermain game dengan Raven.

Cakra mengangguk kemudian ia segera mencari kontak Bumi dan meneleponnya. Panggilan tak terjawab, Cakra tetap berusaha untuk memanggilnya lagi. Hingga panggilan ke sekian "Panggilan di tolak."

"KOK DI TOLAK?!"

Raven merebut ponsel Cakra dan menghubungi kembali, hingga sambungan terhubung. "WOY BUMI!" ujar Arjuna mendekat.

"H-Hallo!" jawab Bumi dan terdengar suara kegaduhan.

"ADA APA COK!" teriak Felix ikut menimbrung

TUT

TUT

TUT

Sambungan telepon mati, mereka panik. Sebenarnya apa yang terjadi?

Raven mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tak menemukan keberadaan Savior. "Bang Savior kemana?"

Felix menoleh, "LAH ANJRIT ILANG?"

••✫••

Sandra bersama dua pengikut setianya tengah berada di Kafe Terra depan SMA Nawasena. Duduk di dekat jendela dengan banyaknya makanan dan minuman di meja.

"Kalo di lihat-lihat Zoya dkk sama cewek baru makin deket ya sama Revan dkk." ujar Helen membuka topik.

Sandra menghentikan suapan ke mulutnya.

"Bener banget sih, gue kira gue doang yang sadar." sahut Yona seraya mengoleskan lip tint di bibirnya yang sejujurnya sudah merah.

Sandra semakin tidak nafsu melanjutkan makannya. Siapa yang berani mendekat dengan Revan dkk berarti harus siap berurusan dengan Queenie, katanya.

LimerenceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang