~04~

3.8K 380 3
                                        

"Gak! gak! gak mungkin." 

"Bro, lo sehat kan?" Tanya Jean kebingungan saat melihat Naven kembarannya didalam kamarnya sedang berbicara sendiri. 

"Lo pernah jatuh cinta gak?" Naven bertanya balik. 

"Pernah, keknya jaman SMA dulu. Lo napa deh?" Kemudian matanya memicing. "Ah, lo lagi jatuh cinta?! Seriusan??" Naven tidak menjawab. 

Ia merasa bingung dengan dirinya sendiri, sudah 3 hari ia memikirkan bocah itu, semakin ia ingin menyingkirkan bocah itu dari pikirannya. Malah ia semakin mengingat tingkah konyolnya, suara dan juga senyumannya  pada terakhir kali mereka bertemu. 

"""

Hellio dengan wajah bingungnya menatap pria yang 6 tahun lebih tua darinya. Bagaimana tidak, ia saat ini tengah menikmati sepotong cheese cake favoritenya. Lalu tiba-tiba ada pria yang duduk ikut menimbrung dimejanya.

"Diruangan sebelah penuh, jangan kepedean. Saya terpaksa duduk disini." Ujarnya angkuh, Hellio kemudian mengedarkan pandangannya kedalam cafe tersebut namun yang ia lihat justru berbeda dengan yang diungkapi oleh pria itu.

Hellio mengangkat bahunya acuh, ia sedang mengerjakan tugas hariannya. 

"Eh bro, lo gak bilang kalau mau mampir." Ujar Jean menyapa kembarannya. 

"Americano 1" Ujar Naven tidak mengindahkan ucapan Jean. "Ck, kebiasaan ya lo." Lalu Jean berlalu, menyisakan kedua orang itu. Naven yang sedang bergelut dengan ponsel pribadinya. Seperti untuk mengalihkan pandangannya. Hellio yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. 

"Pak, gak capek liatin saya terus?" Tanya Hellio tiba-tiba yang langsung membuat Naven kebingungan. "Siapa bilang? Saya memandang kucing dibelakang sana." Ujarnya bohong. 

"HAH KUCING??" Ujar Hellio sedikit berteriak. "Kecilkan suaramu Hellio." Itu Jean yang datang membawa minuman milik Naven. 

"Kak Jean, lo kok pelihara kucing gak bilang-bilang sih?!" Ujar Hellio sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Hal itu membuat Jean reflek mencubit pelan pipi berisi pria muda itu. 

Didepannya Naven hanya diam menyaksikannya, entah ia merasa hatinya sedikit sesak. Dan rahangnya mengeras, ia sedikit tidak menyukai perlakuan kembarannya pada Hellio. 

Melihat senyum mengembang Hellio yang ia beri pada saat berbicara dengan Jean. 

"Nih duit, sekalian bayar punya bocah itu. Gue kekantor dulu." Ujar Naven. 

"Loh buru-buru? NEVAN!" Teriak Jean tetapi tidak mendapat jawaban dari kembarannya itu. Malah menoleh saja tidak. 

"Itu siapanya kakak?" Tanya Hellio. "Kembaran kakak" Jawabnya. 

"HAH?!" "Beda banget, yang satu es, yang satu kopi." Celetuk Hellio yang membuat Jean mengangkat alisnya. 

"Hehe, kakak jean kan kek kopi, hangat. Kalau kembarannya kakak kek es batu, dingin." Ujar Hellio tersenyum sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.






To Be Continued 

HIS FATE | NAHYUCK [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang