| curhat

22 2 3
                                        

Rumah Windu kelihatan sepi dari luar. Gue baru aja sampai rumah, setelah berhasil masuk ke mobil Papa tanpa ketauan Minggu. Jangan berharap sama bantuan Dino, karena udah jelas dia nggak bisa pulang sama gue lagi, sejak gabung anggota OSIS. Dino selalu berangkat lebih awal, dan pulang terakhir.

Ini semua berkat Hosi. Gue harus berterima kasih sama dia besok. Hosi mungkin sadar kalau gue nggak baik-baik aja sejak kedatangan Minggu, makanya pas pulang sekolah, Hosi buru-buru ngajak Minggu nongkrong, waktu Minggu udah maksa gue pulang sama dia.

Begitu turun dari mobil tadi, perhatian gue langsung tertuju ke Rumah Windu. Gue jalan mendekat ke Rumah dengan cat putih itu. Pintu Rumahnya ketutup. Gue sedikit jinjit supaya bisa lihat keadaan Rumahnya lebih jelas. Sayangnya, batas tembok yang tinggi, dan badan gue yang mungil ini nggak bisa ditoleransi. Nggak ada tanda-tanda kehidupan di Rumah Windu.

"Lo ngapain?"

Gue yang kaget langsung noleh ke arah suara, dan lihat Windu lagi berdiri di depan gerbang Rumah gue sambil bawa kantung kresek warna hitam.

"Mau maling ya lo?" tanya Windu lagi.

"Enak aja," jawab gue sewot.

Windu natap gue datar, terus lanjut jalan sampai gerbang Rumahnya. Gue masih di posisi gue, dari Windu buka gerbang sampai dia buka kunci pintu Rumah. Kelihatannya baik-baik aja. Nggak kurang suatu apa pun, tapi kenapa dia nggak masuk sekolah?

Tiba-tiba Windu noleh, "Wen, lo ngapain sih?"

"Ya, anu, gue." Gue gelagapan ketika sadar gue masih berdiri merhatiin Windu yang sekarang udah di dalem Rumah. Gue menghela nafas. Nggak ada pilihan lain selain dateng ke Rumah Windu dan cerita keadaannya. "Lo sibuk gak?"

"Mau main gue."

"Main apaan?"

"Game di PC."

Kita berdua teriak dari Rumah masing-masing. Sampai Papa yang udah masuk, keluar lagi buat mastiin ada apa.

"Hehe, gapapa, Pa. Wena mau ke Rumah Windu bentar ya, Pa," pamit gue sambil jalan ke gerbang. Papa cuma ngangguk dan akhirnya meluncur lah gue ke Rumah Windu yang gerbangnya ternyata nggak di kunci.

Si pemilik Rumah merhatiin gue dari ambang pintu. Dari ekspresinya, gue udah tau kalau Windu merasa terganggu atas kehadiran gue yang nggak diundang, tapi mau gimana lagi. Gue butuh Windu.

"Lo sendirian ya?"  tanya gue begitu duduk di sofa Ruang Tamu. "Kok sepi."

Windu duduk bersandar nyari rebahan nggak jauh dari posisi gue. Dia nggak jawab pertanyaan gue, justru diem sambil natap gue pakai kedua matanya yang tajem banget itu.

"Lo jangan galak-galak kenapa, Nu."

"Ya lo tuh mau ngapain, anjir." Windu sewot.

"Iya, iya, gue gak akan kepo kenapa lo gak masuk hari ini, tapi gue mau cerita."

Gue nunggu respon Windu, tapi emang guenya aja yang bodoh nungguin jawaban dia. Yang ada, Windu cuam diem nungguin kalimat gue selanjutnya. "Minggu jadi anak baru di Kelas."

"Hah?" Windu kelihatan kaget kali ini. Setidaknya ekspresi wajahnya berubah.

"Iya. Gue takut banget. Gue udah nyoba buat biasa aja. Pura-pura seolah gak ada apa-apa, tapi gue gak bisa, Nu."

"Terus dia duduk di mana?"

"Ya di belakang kursi lo. Dia tadi  gangguin gue mulu," jelas gue berapi-api. "Mana pas banget lagi, lo gak masuk."

Windu menghela nafas pelan, "Capek gue."

Kening gue berkerut, "Capek? Abis kerja rodi lo?"

Windu cuma nyengir tanpa jawab pertanyaan gue.

"Udah gitu ya, Minggu tadi pas pulang Sekolah maksa gue buat pulang bareng dia tau gak. Untungnya Hosi langsung heboh ngajakin  Minggu pergi nongkrong."

Windu ketawa kecil, "Hosi pengertian ya?"

Kening gue semakin berkerut. Gue mulai curiga sama arti dibalik tawanya itu. "Lo lagi ngejek gue ya?"

"Hosi suka sama lo kali, Wen," kata Windu sambil ketawa-ketawa.

"Hosi suka sama lo kali, Wen," kata Windu sambil ketawa-ketawa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gue hitung sampai 3. Kalo lo gak berhenti ketawa, gue hantam pake ini tas." Gue mulai ngelepas tas gendong yang dari tadi masih nempel di punggung.

"Iya, iya. Lo tuh yang galak." Windu masih ketawa-ketawa sambil berdiri jalan ke arah dapur.

Gue duduk bersandar di sofa. Ngamatin Rumah Windu yang pada dasarnya emang selalu sepi kapan pun itu. Selama gue tinggal di sini, belum pernah sekali pun ketemu sama Papanya Windu. Yang kata Joshua tiap Minggu pergi mancing, harusnya di hari-hari biasa kelihatan dong. Ini gue sama sekali nggak pernah lihat Papanya.

Sekilas gue perhatiin, Rumah Windu nggak ada foto keluarga satu pun. Beda banget sama Rumah gue, yang tiap sudutnya gue rasa selalu ada fotonya. Di Kamar, Ruang Makan, Ruang Tamu, di mana-mana.

"Makasih, Nu. Jadi ngerepotin, gue," kata gue waktu Windu nyodorin segelas es sirup di atas meja.

"Kan lo emang ngerepotin," semprot Windu.

Gue cuma senyum kecut dengernya. Sejujurnya gue masih kepo kenapa Windu nggak masuk Sekolah hari ini. Apalagi keadaannya dia saat ini sangat baik. Sehat bahkan. Buktinya dia masih ada tenaga buat nyolot ke gue.

Gue nyeruput minuman yang Windu kasih, sedangkan dia sibuk main hp di posisinya.

"Nu," panggil gue pelan.

Windu noleh tanpa jawaban.

"Lo besok masuk gak?"

"Kenapa emang?"

"Kalo Minggu tiba-tiba ngisi kursi lo yang kosong, gimana?"

"Ya udah, berati lo duduk sama Minggu."

Jawaban Windu bikin gue emosi. Gue tahan nafas lalu ngebuang secara perlahan. Bukan salah Windu jawab gitu, tapi salah gue temenan sama dia.

"Iya, maksudnya tuh, gue gak mau duduk sama diaaaaaaaa." Gue sengaja memanjangkan nadanya di akhir kalimat. Berharap Windu paham maksud gue adalah, semoga besok Windu masuk dan jadi penyelamat gue lagi, hehe.

"Iya paham. Besok gue masuk."

"Iya emang lo seharusnya masuk. Kalo lo gak masuk terus, ntar ketinggalan pelajaran loh," kata gue sok peduli. Padahal dalem hati juga tujuannya supaya Minggu nggak bisa ganggu gue lagi kalo ada Windu.

"Bawel lo."

Bodo amat gue dikatain. Yang penting besok Windu masuk. Gue jadi punya tameng, hehe.

Dari dalem Rumah, gue bisa lihat Dino yang masih pakai seragam Sekolah, buka gerbang Rumah Windu. Dino jalan santai sambil sesekali ngelihat arlojinya."Lo pulang gak? Dicariin sama Deka," kata Dino dari ambang pintu.

"Deka?" Gue terlalu bersemangat sampai gak sadar kalau Windu lagi natap sinis ke arah gue. "Hehe, Nu, gue balik dulu ya."

Gue ambil hp dan ngecek penampilan gue dari layar hp yang kekunci. Samar-samar gue denger, kalau Windu mastiin keberadaan Deka.

"Beneran ada Deka?"

"Iya. Gue baru pulang sama dia."

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 06, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Menara CantikTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang