Pertemuan Pertama saat keduanya jatuh cinta.
Masa lalu Freenbeck
Tujuh jam sebelum pertemuannya dengan gadis cantik itu terjadi, Freen tengah bernostalgia dengan kartun favoritnya dulu.
Thinkerbell, seorang peri sederhana dari Pixie Hollow yang sangat jenius dan hidup dengan memiliki kekuatan dari serbuk ajaibnya. Berteman baik dengan Peterpan, dan sangat menyukai petualangan, Think adalah tokoh favoritnya.
Kini di usianya yang ke 23 selain masih menyukai kartun favoritnya seperti Thinkerbell. Freen juga masih menanti takdirnya, ia ingin seseorang datang menghiasi hidupnya yang gelap. Seperti sebuah cerita dalam dongeng Thinkerbell. Freen ingin menjadi seperti Thinkerbell yang jenius, berhati baik, dan memiliki seorang teman yang menjadi taksirannya seperti Peterpan. Seorang pria yang mampu menarik atensinya.
Saat itu, ada pria yang mampu menarik atensinya, benar-benar sesuai kriterianya, setiap dirinya berangkat kerja akan selalu terbayang wajahnya yang tampan dan manis saat tersenyum, membuat Freen jadi gila dibuatnya. Sampai ia memberanikan diri untuk mencari tahu lebih lanjut tentang seseorang yang menjadi crushnya setiap hari ia malah kecewa.
Kecewa karena ternyata yang terjadi malah si pria menyukai teman prianya, bahkan saat pertemuan pertama Freen melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa mas crush nya tengah sibuk menciumi wajah pria lain, pria yang tubuhnya jauh lebih tinggi daripada si cowok taksiran Freen. Dan tamat sudah nasib cinta seorang Freen. Kini yang ia lakukan hanya menunggu, dan kapok dengan permasalahan cinta.
Satu jam sebelum janjinya pada Khun untuk mengantarkan adiknya itu bersama dengan temannya ke tempat nongkrong tiba. Freen sudah rapih dengan kemeja blouse nya. Lalu tiga titik di tubuhnya ia semprotkan parfum aroma kesukaannya. Tak lupa ia juga memilih topi sebagai aksesoris tambahan. Dan setelah semuanya selesai, dengan bangga Freen menatap cermin dengan penuh percaya diri.
"Kamu cantik, pasti ada kok yang mau sama kamu, semangat P'Freen" Gumamnya pada cermin, lalu tersenyum untuk dirinya sendiri.
Senyumnya semakin lebar saat melihat notif YouTube diponselnya. "Anjir! Red Velvet akhirnya update YouTube! Aaa ayang!!" Freen langsung terduduk di sisian ranjang untuk menonton setelah mengecek jam tangannya kalau ia masih punya banyak waktu untuk menunggu.
Lalu seperti lewat begitu saja, waktunya kini berjalan semakin cepat, 5 menit tepat sebelum adiknya marah-marah, Freen langsung turun kebawah.
-
Pukul 12 siang saat teman sekelasnya baru saja datang kerumah, Khun langsung menyuruh Becca untuk duduk dan menunggu dirinya selesai berkemas. Tanpa rasa malu dirinya langsung menduduki sofa rumah temannya.
Matanya tidak bisa berhenti menatap sekitar, rumah Khun sangat besar dan luas, bahkan sepertinya ia bisa berlari-lari dan menendang bola untuk ruang seluas ini.
Saat otaknya mengirim sinyal pada perut bahwa ia lapar, tiba-tiba saja mata Becca tertuju pada toples camilan yang terletak di meja tamu. Kesempatan bagus untuk Becca mengisi perut, lalu saat tangannya membuka tutup toples dan bergerak memasukan makanan ke dalam mulut, tiba-tiba saja seorang bidadari turun dari tangga rumah Khun.
Mata Becca membelalak, lalu ia tersedak. "Uhuk!"
Seperti maling yang tertangkap basah, Becca malu-malu saat ditatap bidadarinya.
"Temennya Khun ya?" Freen dengan senyum hangatnya menyapa Becca dengan sangat ramah. "Kenalin Freen, kakaknya Khun. Siapa nama kamu?" Freen menjulurkan tangannya.
Masih dengan raut yang terkagum-kagum, Becca jadi gagap saat Freen bicara padanya. "Bek-"
"Hm?" Alis Freen bertaut, dan jangan lupakan senyum yang masih menghiasi wajahnya. "Bek apa nih?" Goda Freen saat tau Becca tengah gugup dibuatnya.
"Becca.. P'Freen, salam kenal"
Kemudian tangan mereka saling bertaut, anget juga tangan Freen.
Saat sadar tangannya terlalu lama digenggam, Becca otomatis langsung menarik kembali tangannya.
"Bec- apa? Becca?" Mengangguk, lalu tangan becca reflek merapikan anak rambut ke belakang telinganya dan berdeham pelan.
"Hngg susah banget namanya, gimana kalo aku panggil kamu 'sayang' aja biar lebih gampang" alis Freen jadi naik turun, teman adiknya semakin ia goda.
Becca menepuk-nepuk pipi. Saat hatinya mengucap mantra "Aduh mampus cakep banget, jangan blushing, jangan blushing" Freen melihat toples di mejanya ada yang terbuka. Tangannya lalu mengambil satu kue lalu menyodorkannya pada Becca.
"A!" ucap Freen seraya ikut membuka mulut. Becca hanya bergumam "Hm?" Kemudian kepala Freen mengangguk, "iya ayo buka, cobain ini kuenya enak, ayo cepet 'a' buka mulutnya."
Menurut, Becca membuka mulutnya perlahan. Samar-samar Freen memperhatikan Becca yang tengah mengunyah. Kalo dilihat-lihat Becca lucu juga.
Sedangkan Becca sendiri, sampai sekarang hatinya masih tak karuan karena perlakuan Freen yang mendebarkan. Kemudian saat otaknya tengah sibuk mengontrol isi hati dan kepalanya, Khun turun dengan barang bawaannya. "Eh sorry ya lama, Bec." Menggeleng, lalu Becca bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aman! Gapapa, udah siap? Yuk jalan gue pesen grab sekarang berarti ya"
Buru-buru Khun langsung mencegah Becca saat dirinya baru akan menyalakan ponselnya, "gak perlu Becca, P'Freen yang bakal nganter kita, ya kan?" Katanya seraya menoleh ke arah Freen.
Freen mengangguk, "dengan senang hati" jawab Freen dengan mata yang terus menatap Becca si cewek bule. Lalu dirinya segera bergegas untuk memanaskan mobil miliknya, saat adiknya itu ikut keluar rumah, ada Becca yang juga berjalan dibelakangnya. Pintu mobil dibuka, dan keduanya sudah duduk manis di belakang.
Selama perjalanan, ketiganya terlihat akrab dengan Becca yang selalu bercerita tentang segala hal, dan kemudian ada Khun yang selalu saja tertawa dengan kalimat recehnya, sedangkan Freen diam-diam hatinya menjadi lebih damai dan tubuhnya serasa lebih relaks dari sebelumnya. Terutama saat matanya diam-diam memperhatikan Becca, yang tengah tersenyum.
-
"dek?" Panggil Freen lalu Khun menoleh saat kakaknya menerobos masuk ke dalam kamarnya. "Minta nomer Becca dong"
Khun yang tengah sibuk mengutak-atik tugas seni kini menatap malas ke arah Freen. "Buat apasih?"
"Ya buat-- buat apa gue lah."
"Gak, Bec gasuka nomornya dibagi-bagi ke orang asing." Kata Khun santai.
"Enak aja orang asing, kita udah saling kenal kok"
"Kalo udah saling kenal, kenapa ga coba minta langsung ke orangnya." Freen terdiam, ia tengah berfikir lalu menggeleng saat membayangkan jika Becca akan langsung menolaknya nanti.
"Ih kan lo temen sekelasnya, ini gue minta lewat orang dalem ceritanya hehe" Kini lengan Freen merangkul bahu adiknya dengan penuh sayang. "Ih berat! kak minggir ah." Sekuat tenaga Khun mendorong Freen hingga tangannya terlepas.
"Dek.. pliss!"
"Gak."
"Aaaaa Khun.."
"Minta sendiri"
Dengan berat hati, Freen berjalan keluar. "Oke! Kita taruhan ya, semisal becca mau ngasih nomornya ke gue, Lo harus beliin gue earphone baru Khun." Taruh Freen, sekuat tenaga Khun menahan tawanya agar tidak terdengar. "Pfftt okaay P'Freen" lalu saat sang kakak sudah benar-benar pergi dari kamarnya, hati Khun mulai gelisah.
Dalam benaknya, terdapat banyak pertanyaan, tentang 'bagaimana kalau Becca benar-benar memberikan nomor ponselnya kepada sang kakak'. Bukan, bukan karena Khun takut kalah taruhan, tapi Khun akan lebih takut jika Becca tertarik dengan kakaknya. Dan mereka saling jatuh cinta.
Ia khawatir sahabatnya itu akan salah dalam menaruh hatinya pada orang lain, mengingat sang kakak sangat sering bergonta-ganti pasangan. Tentu hal ini tidak boleh terjadi pada Becca, teman favoritnya.
To be continued
Halo lagi, See you di cerita selanjutnya xixi👋 semoga terhibur ya(≧▽≦)
KAMU SEDANG MEMBACA
One Day Imagine | AU
Fiksi Penggemar"Bayangkan satu hari, jika cinta pertamamu mencintaimu setiap hari." Tentang Freen dan Becca yang sama-sama mencintai, berawal dari Becca si gadis cantik berwajah bule yang menyukai Freen kakak teman kelasnya membuat Becca terus mengagumi dan berhar...
