5

507 200 54
                                        

Sinar matahari sore mulai merendah, menembus sela-sela dedaunan di halaman sekolah yang mulai sepi. Jam pelajaran telah usai, dan suara kendaraan mulai terdengar ramai dari arah parkiran motor.

Beberapa siswa berlalu-lalang sambil bercanda, beberapa lainnya sudah terburu-buru pulang. Namun di tengah semua itu, Chandra berlari kecil, langkahnya tergesa menuruni tangga utama sekolah, memegang tas selempang yang berguncang seiring geraknya.

Wajahnya tampak cemas. Sepanjang hari, ia mendengar bisik-bisik di lorong tentang insiden kecil yang kembali melibatkan Arka di lapangan. Bahkan ada yang bilang ada dorongan dan tatapan saling tantang. Dan itu cukup untuk membuat Chandra waspada.

"Jangan bilang dia berantem lagi," batin Chandra sambil menghela napas, mempercepat langkahnya.

Begitu sampai di area parkiran motor, ia langsung melihat Sandi dan Harsa tengah duduk di atas motor masing-masing, sambil tertawa kecil tentang sesuatu yang baru saja mereka lihat dari ponsel Harsa.

Namun Arka, lelaki itu berdiri sedikit terpisah.

Bersandar di dinding dekat motor miliknya, tangan di saku jaket, matanya menatap langit sore yang mulai menguning. Tenang. Diam. Seperti biasa. Tapi bagi Chandra, ketenangan itu justru terasa terlalu datar, terlalu sunyi.

“Arka!”

Suara Chandra membuat ketiganya menoleh. Sandi dan Harsa menyapa cepat, tapi perhatian Chandra hanya tertuju pada sahabatnya itu.

Ia cepat-cepat menghampiri, dan tanpa basa-basi langsung menatap wajah Arka dengan teliti. “Lo gak apa-apa? Gue denger tadi lo sempet ribut lagi di lapangan."

Arka menoleh perlahan, wajahnya datar. Tak ada luka. Tak ada goresan baru. Bahkan ekspresi tenangnya seperti tak pernah terjadi apa-apa.

“Bukan apa-apa kok,” ucapnya singkat, seolah kejadian tadi hanya angin lalu.

Chandra mengernyit. Ia tahu, Arka pandai menyembunyikan perasaannya. Bahkan terlalu pandai. Tapi sorot mata itu tetap membawa sisa amarah yang belum padam sepenuhnya.

“Gue serius, Ar. Lo gak kenapa-napa, kan?” tanya Chandra sekali lagi, nada suaranya lebih pelan tapi penuh makna.

Arka menghela napas. Bukan karena lelah, tapi karena jengah ditanya terus-menerus.

“Gue gak mukul siapa-siapa. Gak bikin ribut. Gak ke BK.” Ia menatap Chandra kali ini, agak tajam. “Cukup, kan?”

Chandra mengangguk pelan, meski hatinya belum benar-benar tenang. Ia tahu, kadang luka itu bukan selalu terlihat di wajah atau di tangan. Kadang luka itu bersembunyi jauh lebih dalam, di tempat yang bahkan kata-kata pun sulit menjangkaunya.

Sandi ikut berseru, mencoba mencairkan suasana, “Udah, Pak Ketua. Kapten baik-baik aja kok. Malahan si Rago yang ngompol ketakutan tadi!”

Harsa tertawa pelan. “Bener tuh! Arka tuh diem doang lebih serem dari orang ngamuk.”

Namun Chandra hanya tersenyum tipis. Pandangannya tetap pada Arka yang kini sudah memakai helm, bersiap naik motor. Arka menyalakan mesin motornya, siap untuk melaju pulang bersama Sandi, Harsa, dan Chandra.

Namun langkah kaki cepat menghentikan mereka.

“Arka!”

Semua kepala menoleh secara bersamaan. Di ujung tangga gedung utama, Arsha berlari, napasnya sedikit tersengal. Seragamnya masih rapi, rambutnya tersisir sempurna seperti biasa, tapi ada ketegangan jelas di wajahnya. Ketika ia sampai di hadapan mereka, semua jadi diam.

Arsha menatap satu per satu mereka—Sandi yang menggigit bibir dan langsung menunduk, Harsa yang menyilangkan tangan dengan kening sedikit berkerut, Chandra yang menyipitkan mata penuh tanya, dan akhirnya,

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang