28.revisi

197 67 17
                                        

Damar, sang kepala keluarga Dmitriev, masih terdiam di ruang tamu yang sepi. Gemerlap lampu gantung di atasnya hanya menambah kesan dingin di dalam rumah itu. Ia menghela napas berat, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sofa empuk depan televisi yang tak menyala. Ruangan itu terlalu besar, terlalu sunyi. Hanya detik jam di dinding yang terdengar pelan, seperti mengingatkan bahwa waktu tak pernah menunggu siapa pun.

Mata tajam Damar yang biasanya penuh wibawa kini terlihat kosong. Tatapannya menembus permukaan meja kaca, jauh ke ruang hampa dalam benaknya sendiri. Ia baru saja menerima kabar dari Arsha-tentang Arka. Tentang luka, perban, dan plester yang menempel di tubuh putranya itu.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang bergetar di dalam dirinya. Bukan sekadar rasa bersalah, tapi sebuah ketakutan yang lama terkubur: ketakutan kehilangan. Arka. Putra bungsunya. Anak yang sejak kecil tak pernah benar-benar ia peluk, bahkan ketika sang istri-ibu dari anak-anaknya-telah tiada.

Jari-jari Damar mengepal di atas pahanya. Bukan karena marah, tapi karena ia tahu. Ia tahu betul, rasa sesak ini adalah sesuatu yang sudah seharusnya ia rasakan sejak dulu. Tapi Damar tetap Damar. Seorang pria yang terlalu keras kepala untuk mengaku salah, dan terlalu pengecut untuk memperbaiki luka yang sudah lama ia buat sendiri.

Arka memang darah dagingnya, lahir dari rahim perempuan yang ia cintai sampai akhir hayatnya. Tapi Arka juga, masa lalunya. Sebuah bayangan pahit yang selalu menatap balik setiap kali ia menatap mata Arka. Duplikat dirinya yang dulu-liar, keras kepala, dan penuh luka.

Mungkin benar ia pengecut. Mungkin selama ini ia memang lari. Lari dari bayangannya sendiri yang kini tumbuh menjadi sosok bernama Arka.

Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. Ia memejamkan mata, memijit pelipisnya yang mulai terasa berat. Bahkan kini, ketika Arka terjatuh dan berdarah, ia tak tahu harus bagaimana. Ia ayah, tapi tak tahu caranya jadi seorang ayah.

Dan lebih buruknya lagi, ia terlalu terlambat untuk belajar.

Dalam diamnya di ruang tamu, Damar menyandarkan tubuhnya ke sofa. Pandangannya kosong menatap langit-langit, tapi di kepalanya, masa lalu mulai berputar seperti film lama yang entah kenapa masih terlalu utuh untuk dilupakan.

Kilasan kenangan muncul-tentang malam itu, puluhan tahun lalu, saat rumah ini masih dipenuhi tawa, bukan sunyi seperti sekarang.

Dalam diamnya di ruang tamu, Damar menyandarkan tubuhnya ke sofa. Pandangannya kosong menatap langit-langit, tapi di kepalanya, masa lalu mulai berputar seperti film lama yang entah kenapa masih terlalu utuh untuk dilupakan.

Kilasan kenangan muncul-tentang malam itu, belasan tahun lalu, saat rumah ini masih dipenuhi tawa, bukan sunyi seperti sekarang.

Kala itu, Damar yang lebih muda berdiri di samping Elina, istrinya yang sedang duduk di kursi goyang di dekat dua box bayi. Wajahnya cantik dengan rambut lurus yang terurai bebas, tangan lembutnya mengelus pipi mungil Arka yang tertidur pulas di dalam box bergambar langit biru dan awan-awan kecil. Sedangkan di sebelahnya, Arsha kecil masih terjaga, mengisap kompeng bayi sambil menatap ibunya dengan mata bening-dari box bergambar matahari cerah.

Ruangan itu hangat. Bukan hanya karena lampu temaram berwarna kuning, tapi karena cinta yang mengalir deras tanpa suara. Damar menyenderkan tubuhnya ke tembok, tersenyum lembut melihat dua bayi kembarannya yang meski lahir hanya setahun berbeda, selalu tampak seperti satu kesatuan.

Ia melirik Elina, lalu bertanya pelan, seolah takut merusak keheningan damai itu.

"Sayang, kenapa kamu kasih nama mereka, Arshaka Bagaskara dan Arkana Cakrawala?"

Elina menoleh, senyumnya lebar. Ia selalu punya cara membuat jawaban terdengar seperti doa.

"Karena nama itu punya arti dan harapan yang besar, sayang. Arshaka Bagaskara artinya 'matahari yang abadi'. Karena dia anak pertama, cahaya pertama kita. Aku pengen dia jadi seseorang yang kuat dan menghangatkan, kayak matahari yang gak pernah lelah terbit setiap hari."

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang