33. Spesial!

170 62 11
                                        

Saat bel istirahat berbunyi, lorong kelas mendadak ramai oleh suara langkah kaki yang berlarian. Anak-anak basket langsung bergerak cepat menuju kelas Arka, kebiasaan lama yang tak pernah berubah. Mereka berkumpul di depan kelas sang kapten—mengintip sedikit dari celah pintu. Di dalam kelas itu semuanya tampak tengah larut di atas kertas mereka.

Arka masih duduk di kursinya, tangannya masih terus bergerak tanpa mempedulikan apapun. Pandangannya terkunci, seolah tidak benar-benar menyadari kehadiran teman-temannya.

"Liat tuh kapten kita," ujar Farel sambil menunjuk dagu ke arah Arka. "Lagi serius banget kayaknya."

"Gacor sih kapten," sambung Gillbert. "Komuknya konsisten banget. Dari dulu sampe sekarang gak pernah berubah."

"Gak di lapangan, gak di kelas," Sandi ikut nimbrung. "Mukanya cuma punya satu fitur, gak pernah update sama sekali!"

Beberapa dari mereka tertawa kecil membuat semua pasang mata di dalam kelas itu sontak menoleh. Arka melirik sekilas, lalu kembali fokus tanpa menanggapi.

Di saat yang sama, di depan kelas yang dipenuhi kerumunan kecil itu, melintas sekelompok adik kelas perempuan dengan buku-buku tergenggam di tangan. Dari raut wajah dan langkah santai mereka, jelas baru saja keluar dari ruang perpustakaan.

Di antara mereka—ada Karina.

Wajahnya tetap datar, langkahnya mantap, dan aura jutek yang seolah menjadi ciri khasnya tak pernah absen.

Harsa yang sejak tadi bersandar di dinding kelas mendadak meluruskan tubuhnya. Tanpa aba-aba, ia melangkah maju dengan gaya percaya diri yang berlebihan. Senyum lebarnya terarah tepat ke gadis itu.

Pemandangan itu langsung membuat anak-anak basket terdiam.

"Itu si Harsa mau ngapain coba?" gumam Farel, refleks hendak menyusul.

Namun Sandi lebih dulu menahan lengannya.
"Wait," katanya pelan. "Biarin aja dulu. Kita liat apa yang bakal dia lakuin."

Sandi menyipitkan mata, mengamati. Ia sudah lama merasa ada yang berbeda dari Harsa akhir-akhir ini. Dan jika firasatnya benar, gadis jutek itu pasti penyebabnya.

"Hai, Karina," sapa Harsa dengan suara ceria dan penuh percaya diri. "Ketemu lagi kita. Sesuai ucapan gue waktu itu, kan?"

Karina menoleh sekilas, lalu mendengus. "Apasih. Gak jelas."

Reaksi di belakang langsung kacau.

Darren spontan membungkam mulutnya dengan tangan. Gillbert menahan tawa sampai hidungnya kembang kempis. Farel membalikkan badan sambil melepaskan tawa tanpa suara. Sementara Rio dan Sandi berpura-pura sibuk mengobrol, seolah tidak melihat apa pun yang sedang terjadi.

Harsa tidak memedulikan mereka. Meski di dalam hatinya muncul rasa malu karena jadi tontonan, hal itu tidak cukup kuat untuk meruntuhkan niatnya mengajak Karina berbicara.

"Lah, kok gitu sih?" katanya santai. "Konsisten banget jutek lo."

Karina menatapnya sekilas. "Lo gak penting soalnya."

Double King.

Harsa menelan ludah. Ia melirik ke samping, ke arah teman-temannya yang kini sudah hampir kejang menahan reaksi—masih dalam mode tanpa suara.

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang