Amara pulang sekolah tanpa langsung menuju rumah. Motornya justru berbelok ke arah rumah sakit tempat mamanya, Adisty, bekerja. Gedung tinggi berwarna pucat itu sudah terlalu familiar baginya—bau antiseptik, lantai mengilap, dan udara dingin yang selalu terasa sama.
Ini bukan kali pertama Amara harus menunggu. Ia sudah hafal ritmenya. Jadwal Adisty sering kali padat, dan hari ini, sang mama sedang berada di ruang bedah. Amara duduk di bangku ruang tunggu, tas sekolah masih tergantung di bahunya, ponsel di tangan tapi jarang disorot. Matanya lebih sering tertuju pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat, dengan lampu indikator yang masih menyala.
Waktu berjalan pelan. Terlalu pelan.
Hingga akhirnya, pintu itu terbuka.
Udara dingin seolah mengalir keluar bersamaan dengan langkah dua dokter berbalut pakaian operasi berwarna hijau kebiruan. Di belakang mereka, empat perawat menyusul, wajah-wajah lelah namun profesional. Di antara mereka, Adisty muncul dengan langkah tenang.
"Mama!"
Adisty sama sekali tidak terkejut melihat Amara di sana. Justru senyum kecil langsung terbit di wajahnya, senyum yang hanya Amara kenal sebagai senyum seorang ibu.
Ia mengangguk singkat ke arah anaknya sebelum berlalu menuju ruang ganti, bersiap membersihkan diri dan mengganti pakaian.
"Naomi, kenapa nunggunya di sini?" suara Adisty terdengar lembut meski sedikit serak karena lelah.
"Gapapa, Ma," jawab Amara cepat, berdiri sedikit dari duduknya. Bibirnya melengkung bangga. "Mama keliatan keren banget."
Adisty tertawa kecil, menggeleng pelan. "Sebentar, ya. Mama ganti baju dulu. Kamu tunggu aja di ruangan mama aja."
Amara mengangguk patuh. Ia berjalan menuju ruangan khusus milik Adisty, sebuah ruangan yang terasa seperti perpanjangan dari rumah mereka sendiri. Amara menjatuhkan diri ke sofa empuk di sudut ruangan, menyandarkan punggung, lalu memandangi sekeliling. Lemari arsip, meja kerja yang rapi, bingkai foto keluarga di sudut meja—semuanya tidak pernah berubah. Sama seperti dulu. Sama seperti yang selalu ia ingat.
Beberapa waktu kemudian, pintu ruangan terbuka pelan.
Adisty masuk dengan penampilan yang sudah kembali formal. Jas dokter putih terpasang rapi, rambutnya kini terikat lebih sederhana, wajahnya tampak lebih segar meski sisa kelelahan masih samar terlihat di matanya.
"Mama," Amara menoleh. "Tadi pasiennya ngidap penyakit apa?"
"Gagal ginjal, sayang," jawab Adisty sambil meletakkan tasnya di atas meja.
Amara mengangguk pelan. Raut wajahnya berubah sendu, ada rasa iba yang tidak ia sembunyikan.
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Adisty sambil duduk di kursi kerjanya.
"Sendiri dong. Pake motor," jawab Amara sambil menyengir kecil, jelas merasa sedikit bangga.
Adisty langsung mengangkat alis. "Loh, bukannya papa udah larang pake motor?"
"Papa kan lagi di luar kota," Amara tertawa ringan tanpa rasa bersalah. "Lagian aku udah mulai suka pake motor sendiri. Mama, please jangan aduin ke papa, ya?"
Adisty berpura-pura berpikir, bibirnya melengkung usil. "Aduin gak, ya?"
"Mama ih!" Amara mendengus. "Nanti papa pasti bakal ngomel panjang lebar. Bisa sejam aku diceramahin."
"Okey, mama gak aduin kok," kata Adisty akhirnya. Lalu nada suaranya berubah sedikit lebih serius. "Tapi janji sama mama, jangan ceroboh lagi. Harus lebih hati-hati. Masa anak gadis cantik mama ini hobinya ceroboh."
KAMU SEDANG MEMBACA
UNEVEN LIGHT
Novela JuvenilArshaka Dmitriev Bagaskara. Matahari yang abadi. Arkana Dmitriev Cakrawala. Langit yang suci. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, namun dibesarkan oleh cara dunia-dan ayah mereka-yang tak pernah adil. Arsha adalah cahaya yang dipeluk harapan...
