43

7 1 0
                                        

Keesokan harinya, suasana damai justru terasa paling kuat di tengah keramaian.

Di depan gedung apartemen mewah yang menjadi lokasi perayaan bisnis milik papa Amara, langkah-langkah mantap terdengar serempak. Pintu kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut, memperlihatkan bayangan sepuluh lelaki bertubuh tinggi dengan gaya berpakaian yang begitu serasi—rapi, dewasa, dan penuh percaya diri.

Arka berjalan paling depan.

Setelan jas hitam membingkai tubuhnya dengan pas. Dasi terpasang rapi, sepatu hitamnya mengilap, dan untuk pertama kalinya, rambutnya ditata sedikit lebih terbuka, memperlihatkan dahi tegas yang biasanya tersembunyi. Wajahnya tenang, sorot matanya tajam, tapi sikapnya tidak tergesa.

Di sisi kirinya, Arsha berjalan dengan jarak setengah langkah. Jas putih bersih melekat rapi di tubuhnya, rambut tersisir sempurna, dan senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya—senyum yang terasa alami, seolah memang terlahir untuk situasi seperti ini.

Chandra berada di antara dua bersaudara itu. Kemeja putihnya dilapisi outer hitam yang sederhana tapi tegas. Bahunya lurus, wajahnya tenang, sikapnya matang—pemimpin yang tak perlu banyak suara.

Di belakang mereka, anak-anak basket menyusul dengan formasi yang rapi tanpa sadar. Kemeja putih seragam dilapisi blazer biru tua. Rambut mereka tertata sesuai ciri khas masing-masing—tidak berlebihan, tapi jelas berbeda dari keseharian mereka di lapangan.

Setelah menandatangani buku tamu di meja penerima, mereka melangkah masuk ke dalam gedung bernuansa mewah itu.

Lampu-lampu kristal menggantung tinggi, lantai marmer memantulkan cahaya, dan aroma harum tipis memenuhi udara.

“Ini mewah banget,” gumam Niko pelan, matanya bergerak ke segala arah. “Tongkrongan pembisnis emang gak main-main.”

“Parah,” Farel mengangguk setuju. “Aura orang-orang di sini bikin gue segan buat salah gerak.”

Gillbert terkekeh. “Makanya jaga sikap, jangan norak! Kita lagi di kandangnya para pebisnis.”

“Ngomongin adab seakan lo udah paling bener aja,” sahut Sandi sambil nyengir.

Chandra menoleh ke belakang, nadanya lebih tenang tapi jelas. “Intinya, kita nikmatin aja acaranya. Tetep sopan. Jangan sampe image sekolah kita rusak cuma gara-gara kebiasaan di lapangan kebawa ke sini.”

Harsa melirik Darren yang sejak tadi sibuk memperhatikan sekeliling. “Dar, dari tadi lo ngapain ngeliatin orang-orang sih?”

"Apaan sih?" Darren mengedikkan bahu. “Gue cuman lagi nikmatin suasana aja.”

“Baru juga dibilangin jaga sikap,” Arsha menimpali sambil tertawa kecil.

Arka menghentikan langkahnya sebentar, menoleh ke belakang. “Udah, jangan ribut. Ini acara penting. Kita di sini tamu.”

“Nah,” suara Reska tiba-tiba muncul dari samping. “Dengerin tuh ucapan kapten.”

Semua menoleh bersamaan.

“Jangan pada bertingkah dulu,” lanjut Reska santai. “Tahan bentar jiwa asli kalian.”

Arsha refleks menoleh lebih lama.

Ia terpaku.

Reska berdiri di sana dengan gaun biru muda yang jatuh anggun, potongan sederhana tapi elegan. Riasan wajahnya tipis, nyaris natural. Rambut sebahunya tertata rapi, dihiasi pita kecil yang memberi kesan lembut—jauh dari kesan galaknya sehari-hari.

Reska tersenyum manis, lalu mengangkat dagu sedikit, kedua tangannya terlipat di depan dada. Jiwa petentang-petenteng itu jelas masih ada.

“Dih,” katanya sambil menyapu pandangan ke wajah-wajah terdiam. “Pada bengong gitu. Terpesona sama kecantikan gue, ya?”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 17 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UNEVEN LIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang